Hadapi Banjir Dengan Mudah Menggunakan Biopori

Mahasiswa Teknik Lingkungan di Universitas Diponegoro
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Duwi Novita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekalongan (07/08/2024) Permasalahan banjir di Indonesia menjadi sebuah agenda tahunan. Kelurahan Pekuncen sendiri merupakan salah satu kelurahan yang mengalami masalah banjir karena genangan air yang sulit surut yang disebabkan jenis tanah di beberapa tempat berupa tanah lempung dimana sulit untuk menyerap air. Selain itu, tidak adanya saluran drainase di beberapa wilayah menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir. Setiap terdapat hujan lebat sudah dipastikan beberapa RW di Kelurahan Pekuncen mengalami banjir bahkan sudah menjadi banjir tahunan. Dari permasalahan tersebut perlu dilakukan tindak lanjut untuk menangani banjir dan memudahkan air untuk meresap ke tanah.
Agar bisa menanggulangi banjir tahunan ini dan mendukung keberlanjutan lingkungan, mahasiswa KKN Undip memberikan pembinaan kepada masyarakat Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan untuk bersama-sama merubah lingkungan dan manangani banjir dengan membuat lubang resapan biopori. Dimana biopori ini tidak membutuhkan biaya yang besar karena menggunakan alat dan bahan yang biasa ditemukan di kehidupan sehari-hari.
Pembinaan ini melibatkan beberapa RW di Kelurahan Pekuncen diantaranya RW 01, RW 02, RW 03, dan RW 05 yang intensitas terjadinya banjir cukup tinggi dengan jumlah titik tiap RW berjumlah 2 titik. Pembinaan ini dilaksanakan dengan edukasi terkait perlunya lubang resapan biopori, penyebab terjadinya banjir, dampak terjadinya banjir, dan perawatan biopori, serta pemasangan lubang biopori sebagai salah satu bentuk percontohan atau demonstrasi. Alat dan bahan yang diperlukan dalam pemasangan biopori cukup mudah didapatkan, diantaranya pipa biopori dengan diameter 3-6 inch tergantung luas area dan intensitas banjir, tutup pipa biopori, alat penggali tanah seperti linggis, sekop, atau alat gali biopori. Cara pemasangannya pun mudah, dimulai dengan penentuan titik biopori yang ditentukan berdasarkan intensitas banjir. Setelah menentukan titik, tanah dibasahi dengan air untuk mempermudah penggalian, kemudian digali tanahnya sesuai dengan panjang dan diameter pipa. Setelah digali, pipa dimasukkan kemudian ditutup dengan tutup pipa biopori. Kemudian dapat di uji coba dengan disiram air diatasnya dengan hasil pipa biopori bekerja dengan baik. Dengan alat dan bahan, serta pemasangan yang mudah tersebut, sehingga cocok diaplikasikan ke semua lini masyarakat.
Para ketua RW Kelurahan Pekuncen mengharapkan dengan adanya pembinaan tentang lubang resapan biopori dari mahasiswa KKN Undip dapat bermanfaat dan berlanjut untuk alternatif kedepannya serta bisa menjadi alternatif untuk menanggulangi banjir dan genangan air yang sulit surut. Penulis : Duwi Novita Sari (21080121130060) - S1 Teknik Lingkungan DPL : Muhammad Hamdan Mukafi, S.S., M.A Lokasi : Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan
