Banyak Pesaing Bukan Berarti Tidak Ada Peluang: Mengenal Aspek Pasar dalam Studi Kelayakan Bisnis

Saya merupakan mahasiswa Manajemen yang tertarik pada dunia bisnis, keuangan, dan isu sosial. Senang belajar hal baru dan berbagi pengetahuan melalui tulisan.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dwi Junisa Bahrain tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam studi kelayakan bisnis, aspek pasar membantu calon pengusaha menilai apakah sebuah usaha masih memiliki peluang di tengah persaingan. Bayangkan jam enam pagi di sebuah gang dekat kampus. Ada tiga penjual bubur ayam berjejer, jaraknya cuma beberapa langkah. Anehnya, ketiganya sama-sama antre. Yang pertama dipenuhi anak kos karena porsinya besar dan harganya murah. Yang kedua didatangi pekerja kantoran yang butuh sarapan cepat dan bisa dipesan lewat ojek online. Yang ketiga jadi langganan bapak-bapak sekitar yang sudah bertahun-tahun cocok dengan rasa bubur dan sambalnya.
Sekarang bayangkan kamu ingin jadi penjual bubur yang keempat. Pemandangan seperti ini juga mudah ditemukan di bidang lain: deretan toko baju, tempat fotokopi, laundry, sampai merek skincare yang jumlahnya sulit dihitung. Pertanyaannya selalu sama: kalau yang jualan sudah sebanyak ini, apakah pendatang baru masih punya peluang? Jawaban jujurnya, belum tentu tertutup, tetapi juga belum tentu terbuka. Kita perlu melihat pasarnya dulu.
Apa Itu Aspek Pasar dalam Studi Kelayakan Bisnis?
Sebelum membuka usaha, ada tahap yang disebut studi kelayakan bisnis (SKB), yaitu penilaian apakah sebuah ide layak dijalankan. Salah satu bagian pentingnya adalah aspek pasar. Sederhananya, aspek pasar menjawab pertanyaan: ada yang mau beli atau tidak? Siapa mereka? Siapa saja yang sudah menjual hal serupa?
Kajian literatur Ahmadi dkk. (2025) menyebut aspek pasar mencakup potensi permintaan, segmentasi, persaingan, dan perilaku konsumen. Menurut kajian itu, pelaku usaha yang memahami dinamika pasar punya keunggulan dalam menyusun strategi yang sesuai kebutuhan konsumen.
Jadi, aspek pasar dicek sebelum modal keluar, bukan setelah bahan baku terlanjur dibeli. Cukup banyak orang membuka usaha hanya karena melihat tetangga ramai, tanpa tahu ramainya itu karena apa.
Analisis Persaingan Usaha: Mengapa Banyak Pesaing Belum Tentu Menutup Peluang?
Kembali ke gang tadi. Tiga penjual bubur itu sama-sama laris karena masing-masing melayani kebutuhan yang berbeda: porsi dan harga, kecepatan, serta cita rasa khas. Mereka memang bersaing, tetapi tidak sepenuhnya memperebutkan pembeli yang sama.
Begitu juga di bisnis lain. Dua produk yang kelihatannya serupa bisa berbeda dalam beberapa hal:
target konsumennya,
kebutuhan yang dilayani,
karakteristik produknya,
keunggulan yang ditawarkan, misalnya harga, layanan, kemasan, atau lokasi.
Meski begitu, ini bukan berarti semua usaha pasti punya peluang. Ada pasar yang memang sudah jenuh, dan ada juga yang permintaannya terlalu kecil untuk menopang satu usaha lagi. Karena itu, peluang harus dinilai dari kondisi pasar dan bukti yang relevan, bukan dari rasa optimis saja.
Lima Hal yang Perlu Dianalisis dalam Aspek Pasar
Kabar baiknya, analisis pasar tidak harus rumit. Untuk usaha kecil, banyak hal bisa dimulai dari pengamatan langsung, obrolan dengan calon pembeli, dan catatan sederhana. Ada lima hal yang bisa dijadikan pegangan.
Permintaan dan kebutuhan konsumen. Apakah produknya benar-benar dibutuhkan, dan apakah permintaannya cukup stabil? Ramai sesaat karena sedang viral berbeda dengan dibutuhkan sehari-hari.
Target pasar. Siapa yang ingin dijangkau: mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja kantoran? Semakin jelas sasarannya, semakin mudah menentukan produk, harga, dan cara jualannya.
Karakteristik dan strategi pesaing. Lihat harga, kualitas, cara promosi, jam buka, dan keluhan pelanggan mereka. Tujuannya mencari celah, bukan sekadar meniru.
Tren dan perilaku konsumen. Kebiasaan belanja terus berubah. Usaha yang tidak mengikuti perubahan itu mudah tertinggal. Ahmadi dkk. (2025) juga menekankan bahwa keberhasilan usaha banyak bergantung pada kemampuan membaca tren dan mengantisipasi persaingan.
Peluang produk diterima pasar. Ini bagian yang paling menentukan. Produk yang menurut pemilik sudah bagus belum tentu dibeli konsumen, jadi perlu diuji lewat survei kecil, uji coba, atau pre-order.
Contoh Penerapan Aspek Pasar pada Usaha Kecil
Contoh berikut hanya ilustrasi, bukan usaha nyata.
Rani ingin jadi penjual bubur keempat di gang tadi. Ia tidak langsung beli panci besar. Ia melakukan beberapa hal terlebih dulu:
Mengamati kebutuhan. Selama seminggu ia datang pagi-pagi, menghitung antrean, dan ngobrol dengan pembeli. Ia mencatat bahwa antrean paling panjang terjadi di jam berangkat kerja, dan hampir tidak ada pilihan bagi yang ingin porsi kecil atau bubur yang tidak terlalu berminyak.
Membandingkan pesaing. Ia mencatat harga, ukuran porsi, jam buka, dan cara pemesanan ketiga penjual.
Mencari kebutuhan yang belum terpenuhi. Dari catatan itu muncul satu celah: sarapan cepat dengan porsi kecil yang bisa dipesan sehari sebelumnya lewat WhatsApp.
Dari sini Rani punya dasar untuk mempertimbangkan usaha, tetapi belum ada jaminan berhasil. Ia masih perlu menguji, misalnya dengan menjual beberapa puluh porsi selama seminggu dan melihat berapa pembeli yang kembali. Bisa jadi hasilnya menunjukkan idenya perlu diubah.
Contoh nyata dapat dilihat pada penelitian Mairiza dkk. (2026) tentang UMKM depot air minum isi ulang di Kampar. Menurut abstraknya, usaha itu memiliki permintaan pasar yang tinggi dan stabil, dengan strategi berupa harga kompetitif, lokasi strategis, layanan antar, dan pemanfaatan WhatsApp. Penelitian lain di Samarinda menemukan bahwa UMKM percetakan Kang Cetak memiliki cakupan konsumen yang luas, seperti pelajar, mahasiswa, dan lembaga, tetapi promosinya masih terbatas pada media sosial dan rekomendasi pelanggan (Qumairo dkk., 2025). Artinya, peluang bisa ada, tetapi tetap perlu dikelola.
Kesimpulan: Pentingnya Analisis Pasar Sebelum Memulai Usaha
Banyaknya pesaing bukan satu-satunya penentu layak tidaknya sebuah usaha. Yang lebih penting adalah memahami permintaan, target konsumen, dan posisi kita di antara pesaing. Produk yang unik pun tidak otomatis laris, sehingga keunikan itu tetap harus dibuktikan di pasar.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih tepat bukan "sudah ada berapa pesaing?", melainkan "kebutuhan siapa yang belum terlayani dengan baik, dan apakah jumlahnya cukup untuk dijadikan usaha?". Pertanyaan itulah yang dijawab oleh aspek pasar.
Jadi, sebelum ikut membuka lapak di gang yang sudah ramai, luangkan waktu untuk memahami pasarnya. Hasilnya bisa menunjukkan bahwa ide itu layak dilanjutkan, perlu diubah, atau sebaiknya ditunda.
