Gen Z dan Masa Depan Pendidikan: Cerdas Digital, Peduli Mental

Saya Dwi Andika Prasetyo mahasiswa universitas Pamulang prodi ilmu komunikasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dwi Andika Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Generasi Z atau yang biasa disebut Gen Z yang lahir pada pertengahan tahun 1990 sampai tahun 2012 tumbuh sebagai digital natives, sehingga sejak kecil mereka sudah terbiasa belajar melalui perangkat digital seperti smartphone, tablet, dan komputer. Hal ini mendorong metode pendidikan menjadi lebih fleksibel, adaptif, dan mudah. Mereka tidak hanya menerima materi dikelas, tetapi juga aktif mencari pengetahuan melalui e-learning, micro learning, serta platform digital lainnya.

Dalam lingkungan pendidikan tinggi, Gen Z berada di jalur menjadi generasi dengan tingkat pendidikan tertinggi. Mereka menunjukkan tingkat kelulusan sekolah menengah dan angka masuk perguruan tinggi yang terus meningkat . Namun, meski fasih menggunakan teknologi, tidak semua memiliki keterampilan literasi digital lanjutan — misalnya hanya sekitar 19% yang mampu bekerja dengan perangkat digital secara mandiri.
Selain kecakapan teknis, Gen Z juga sangat peduli terhadap kesehatan mental di lingkungan pendidikan. Banyak yang menyuarakan pentingnya dukungan layanan konseling, waktu tunggu penanganan gangguan mental yang singkat, serta sistem dukungan sejawat yang kuat. Di kampus-kampus global, institusi mulai menyesuaikan layanan karier dan kesehatan mental agar sesuai dengan pola hidup Gen Z — misalnya menyediakan tele health, budaya kampus yang mendukung kesejahteraan emosional, serta pelatihan “life design” ketimbang sekadar penempatan kerja.
Menghadapi era kecanggihan teknologi seperti AI, Gen Z menunjukkan antusiasme tinggi untuk adopsi generative AI dalam pembelajaran, namun juga menyampaikan kekhawatiran soal dampaknya terhadap keterampilan berpikir kritis. Banyak yang merasa sekolah perlu mengembangkan kebijakan dan panduan pemanfaatan AI secara etis dan bertanggung jawab.
Tidak kalah penting, Gen Z menekankan pengembangan soft skills atau keterampilan lunak seperti empati, manajemen waktu, serta kemampuan berkomunikasi. Di Manchester, Inggris, mereka tengah mengikuti inisiatif ‘Skills 4 Living’ agar mampu menghadapi kehidupan nyata dan dunia kerja, termasuk literasi media, keamanan digital, serta kesiapan mental saat memasuki dunia profesional.
Dwi Andika Prasetyo, mahasiswa universitas Pamulang Prodi ilmu komunikasi.
