Konten dari Pengguna

Sekarung Tanya Untuk Dua Ribu Empat Lima

Dwi Anggoro

Dwi Anggoro

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Anggoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Towfiqu barbhuiya: https://www.pexels.com/id-id/foto/waktu-kehidupan-tenang-jam-pasir-tembakan-makro-11069123/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Towfiqu barbhuiya: https://www.pexels.com/id-id/foto/waktu-kehidupan-tenang-jam-pasir-tembakan-makro-11069123/

Wahai aku kelak berusia lima puluh

Apakah langkahmu masih digiring oleh sunyi?

Apakah engkau telah menemukan cahaya dibalik gugusan gelap harapan?

Entah sampai atau tidaknya pada tahun itu

Pertanyaan-pertanyaan akan menjadi dalam sekarang

Jawaban-jawaban akan beradu nanti

Tahun ini dua ribu dua lima

Aku menatap langit untuk mencari celah retak, agar harapan bisa menyusup

Karena ternyata bumi ini masih terlalu sempit untuk menampung semua rasaku

Anakku adalah bunga mungil dari musim dua ribu dua tiga

Sudah pandai berjalan dan berlari

Sementara aku masih terseok mengejar nasib yang kabur

Istriku adalah puisi seutuhnya yang selalu menyeduhkan sabar di pagi, sore, dan malam hari

Sementara aku masih menyeduh gelisah di cangkir kosong

Wahai aku kelak berusia lima puluh

Apakah jemarimu masih menghitung hari dengan detak takut?

Apakah keringatmu masih belum cukup untuk anak istrimu memeluk bulan?

Apakah anak istrimu sudah tak lagi membaca lapar dari gerak tubuhmu?

Apakah anakmu akan menjadi yatim di waktu yang matang?

Apakah engkau masih meng-eja doa-doa dengan huruf nyeri?

Apakah engkau sudah bisa menulis syukur di tiap pagi?

Atau mungkin engkau sudah menjadi puisi dalam guguran bunga tabur?

Bagaimana jika ku tinggalkan usia ini dengan sekarung tanya?

Terbungkus dalam metafora dan luka manis

Apakah anakmu akan menyebut namamu dengan bangga?

Atau hanya diam, seperti puisi yang tak sempat dibaca karena perut lebih dahulu meminta isi?

Di usia sekarang ini, menjelang tiga dekade

Aku menanam ribuan mimpi di ladang retak

Lalu aku berpesan kepadaku

Janganlah mati sebelum hidup itu menyerah!

Jangan biarkan mimpi menjadi fosil dalam batin!

Bawalah ia meski pincang keadaannya!

Beri ia matahari!

Beri ia hujan!

Beri ia kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya!