Catatan Pembangunan Mamasa di Usia 19 Tahun

ASN, Statistisi di BPS Kabupaten Mamasa DIV Politeknik Statistika STIS
Tulisan dari Dwi Ardian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Capaian pembangunan Kabupaten Mamasa selalu menarik dibahas oleh pemerhati pembangunan, khususnya di Mamasa. Beberapa saat terakhir begitu ramai diperdebatkan, utamanya di media sosial. Pembangunan tidak sedikit yang menganggap hanya jalan di tempat, bahkan ada yang berpendapat bahwa pembangunan hanya dinikmati sekitar 10 persen saja dari masyarakat Mamasa.
Penulis pun berusaha melihat data, sebenarnya sampai di mana pembangunan di Mamasa. Apa saja yang telah dibangun, serta apa saja yang masih sangat tertinggal. Melihat data penting karena begitu banyak orang yang berkomentar berdasarkan perasaan dan mengira-ngira saja tanpa melihat secara komprehensif.
Indeks Pembangunan Manusia
Indikator yang sangat mewakili pembangunan jika kita ingin melihat secara menyeluruh adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM menggambarkan pembangunan dari sektor perekonomian, kesehatan, serta pendidikan sekaligus. Capaian IPM Mamasa pada tahun 2020 adalah 66,02. Nilai ini masih di bawah rata-rata Sulbar (66,11) dan menempati peringkat keempat, hanya di atas Polman dan Mateng.
Hal yang cukup positif adalah pertumbuhan IPM selama 3 tahun terakhir selalu menjadi salah satu yang terbesar. Tahun 2018 mencapai 1,16 persen, 2019 mencapai 1,02 persen, dan tahun 2020 mencapai 1,07 persen. Sedangkan, capaian kabupaten lain hanya di bawah 1 persen pertumbuhan. Jika hal ini terus konsisten beberapa tahun ke depan maka akan bisa melampaui IPM kabupaten lain di Sulbar.
Pendidikan
Pada sektor pendidikan sangat terlihat ada pemerataan pembangunan. Mulai dari TK hinga SMA sudah tersebar ke semua kecamatan. Jika dirata-ratakan TK jumlahnya mencapai 11 per kecamatan. Jumlah SD/sederajat rata-rata 16 per kecamatan, jumlah SMP/sederajat rata-rata 6 per kecamatan, serta SMA/sederajat rata 3-4 sekolah per kecamatan.
Hal inilah yang diyakini menempatkan Mamasa dengan angka partisipasi sekolah (APS) terbesar di Sulbar. APS usia 7-12 tahun mencapai 98,57 persen, usia 13-15 tahun mencapai 91,23 persen, dan 16-18 tahun mencapai 80,87 persen. Jauh di atas persentase APS rata-rata Sulbar 98,17, 90,07, dan 68,40.
Dengan APS yang tinggi membuat harapan lama sekolah di Mamasa mencapai 12,05 tahun, artinya anak usia 7 tahun ke atas diharapkan 100 persen bisa menyelesaikan pendidikan minimal SMA.
Kesehatan
Sektor lain yang cukup baik di Mamasa jika dibandingkan kabupaten lain adalah sektor kesehatan. Indikator yang dilihat dari sektor kesehatan adalah angka harapan hidup saat lahir (AHH). Semakin besar maka derajat kesehatan manusia semakin baik. AHH pada tahun 2020 sudah mencapai 70,87 tahun, artinya penduduk Mamasa harapan lama hidupnya rata-rata mencapai hampir 71 tahun.
Angka itu jauh di atas rata-rata Sulbar yang mencapai 65,06 tahun. Yang terdekat hanya Kabupaten Mateng yang mencapai 68,33 tahun. AHH Mamasa juga hanya sedikit di bawah rata-rata nasional yang mencapai 71,47 tahun.
AHH yang cukup tinggi sebenarnya menjadi pertanyaan karena dari sisi fasilitas dan tenaga kesehatan tidak lebih baik dari kabupaten lain, bahkan cenderung tertinggal. Hal inilah yang perlu menjadi bahan penelitian lebih lanjut.
Perekonomian
Pada sektor perekonommian, sebagaimana dengan daerah lain, Mamasa juga mengalami kontraksi pada tahun 2020 ini. Ekonomi merosot ke angka -1,26 persen. Hal yang disebabkan oleh dampak pandemi. Sebelum pandemi, ekonomi Mamasa selalu tumbuh di atas 5-6 persen. Sektor yang berperan besar adalah pertanian, perdagangan, dan administrasi pemerintahan.
Kemiskinan masih berkutat di angka 13,38 persen atau setara sekitar 21.860 penduduk Mamasa pada 2020. Jumlahnya meningkat dari tahun sebelumnya, yakni 21.640 orang. Indeks kedalaman kemiskinan masih mencapai 1,71 atau ada penurunan dari tahun sebelumnya.
Sektor yang lain diharapkan bisa menjadi andalan bagi pembentuk produk domestik bruto Mamasa, seperti pariwisata, sangat jauh dari harapan. Kontribusinya hanya mencapai 0,32 persen terhadap total PDRB. Pemerintah harus bekerja ekstra untuk membenahi ini. Dimulai dari pembangunan jalan (akses). Akses yang baik akan mengundang wisatawan berkunjung ke Mamasa.
Perhatian lain adalah sektor pertanian. Pertanian kita menyerap begitu tenaga kerja yang mencapai 69,57 persen dari total angkatan kerja, akan tetapi pertumbuhan hanya mencapai rata-rata 5-6 persen per tahun. Kalah dari sektor-sektor lain. Melihat kontribusi yang besar harus didukung dengan pertumbuhan yang besar pula.
Sektor pertanian ini harus didukung penuh dengan meningkatkan produksi dan kualitas pertanian. Misalnya, pertanian tanaman pangan, Mamasa memiliki potensi untuk memenuhi pangan seluruh masyarakat tetapi karena tata kelola yang kurang maksimal membuat hasil pertanian dijual murah ke luar daerah.
Bisa kita lihat beras yang disosoh di industri luar kabupaten dengan kemasan yang menarik kemudian dibeli lagi warga Mamasa dengan harga lebih mahal.
Hal lain yang harus menjadi bahan evaluasi adalah PAD Mamasa yang beberapa tahun terakhir selalu mengalami penurunan. Tahun 2017 PAD mencapai Rp58,85 miliar, menurun di tahun 2018 Rp30,67 miliar, puncaknya tahun 2020 hanya mencapai Rp7,73 miliar.
Kesimpulan yang bisa diambil dari data-data di atas adalah pembangunan Mamasa tidaklah berjalan di tempat atau hanya dinikmati 10 persen masyarakat. Di sana ada pembangunan yang cukup baik tetapi juga tidak sedikit ketertinggalan yang harus selalu menjadi bahan evaluasi. (*)
*Dwi Ardian, S.Tr.Stat., S.E., Statistisi di BPS Kabupaten Mamasa
