Copa America, Hadiah Buat Messi

ASN, Statistisi di BPS Kabupaten Mamasa DIV Politeknik Statistika STIS
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dwi Ardian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebahagiaan Messi benar-benar membuncah saat wasit meniup pluit tanda berakhirnya pertandingan setelah injury time" 5 menit yang sangat panjang.
Bukan hanya 5 menit yang terasa sangat panjang tetapi 68 menit waktu normal terasa sangat panjang bagi Si Kutu dkk. Setidaknya sejak Di Maria mencetak gol di menit ke-22, praktis para pemain Argentina hanya berusaha memainkan bola selama mungkin sambil sesekali menciptakan peluang.
Argentina memang sedikit tidak diunggulkan dibandingkan Brasil yang begitu superior memenangkan semua pertandingan hingga ke final dan mencetak paling banyak gol (12 gol). Ditambah lagi, Tim Samba bermain di kandang sendiri yang membuat mereka tambah difavoritkan.
Jalannya Pertandingan
Tim Tango dari awal sejak "kick off " berusaha menguasai bola dan memainkan bola selama mungkin. Bahkan terlihat sedikit monoton dengan bola hanya seputar lapangan tengah kemudian dikembalikan ke belakang. Tetapi itu hanya berlangsung beberapa menit saja karena Tim Selecao dengan para pemain bintangnya bisa memutus umpan-umpan pendek Di Maria dkk. Mereka berbalik unggul penguasaan bola 55 berbanding 45 persen milik Argentina.
Keasyikan menyerang, Neymar dkk. malah dikejutkan dengan gol cepat Di Maria yang berhasil mengelabui Ederson. Rodrigo De Paul dari pertahanan berhasil mengambil alih bola hasil serangan Brasil yang gagal. De Paul langsung memberi umpan panjang kepada Di Maria di sisi kiri pertahanan Brasil. Di Maria lolos dari jebakan offside dan mengecoh kiper Manchester City itu dengan mengangkat bola jauh dari jangkauan.
Tim Tango unggul 1-0 pada menit ke-22 dan membuat para fans berseragam Argentina di tribun bersorak, bahkan ada yang membuka bajunya. Tidak kalah senang, Sang Kapten, Lionel Messi, yang terlihat begitu emosional dan dikerumuni para punggawa La Albiceleste, termasuk pemain cadangan dan ofisial. Seakan-akan mereka semua bermain untuk Messi dan persembahan gol buat dia.
Praktis Neymar dkk. menguasai pertandingan dan berhasil menciptakan beberapa kali peluang di sisa babak pertama. Tetapi selalu mentah di hadapan Otamendi dkk. ditambah penyelamatan gemilang Emiliano Martinez di bawah mistar gawang.
Peluang Neymar dan peluang terbaik Richarlison tetap bisa dijinakkan oleh mereka.
Menurut catatan livescore, Brasil berhasil menguasai permainan 56 berbanding 44 persen milik Tim Tango di babak pertama. Brasil juga berhasil menciptakan 4 peluang, 2 di antaranya on target. Sedangkan Argentina hanya 2 peluang dan satu yang on target dan berhasil gol oleh Di Maria.
Babak kedua, Brasil berusaha menciptakan peluang secepat mungkin melalui kecepatan Neymar dan Richarlison. Brasil pun menambah pemain penyerang seperti Firminho, Vinicius, Emerson, dan Gabriel 'Gabigol' Barbosa.
Tidak ada hasil yang berarti karena Lionel Scaloni, pelatih Argentina, juga menambah para pemain segar. Otamendi dkk juga begitu "keras" tidak membiarkan Neymar dkk membawa bola. Total ada 5 kartu kuning untuk Tim Tango, yakni Otamendi saat mengadang dengan keras laju Neymar, Lo Celso, De Paul, Paredes, dan Montiel, mereka bahu-membahu mematahkan setiap serangan Tim Samba.
Hampir tidak ada kreasi di dalam kotak penalti Martinez, semua diadang sebelum sampai. Tendangan pun beberapa kali bisa diblok mantan kiper cadangan Arsenal yang kini memperkuat Aston Villa tersebut.
Menit ke-87 sempat Messi mendapat peluang emas yang tinggal berhadapan dengan Ederson, akan tetapi bisa dipatahkan dengan tenang oleh kiper terbaik Liga Inggris musim dua musim terakhir tersebut.
Di masa injury time, para pemain Tango tinggal mengulur waktu. Lima menit terasa sangat lama tetapi begitu cepat bagi Neymar yang terlihat melakukan protes kepada wasit menganggap pluit terlalu cepat dibunyikan. Neymar tampak dikerumuni teman setimnya untuk menghiburnya yang terlihat begitu sedih. Dia melewatkan kembali kesempatan untuk juara. Copa America edisi terakhir dimenangkan Brasil tetapi Neymar tidak masuk ke dalam skuad karena cedera.
Kontras dengan Neymar, Messi Sang Kapten, begitu emosional bahagia, dia dikerumuni semua tim dan ofisial seakan isyarat bahwa semua usaha tim adalah "hadiah" buat Sang Kapten.
Messi Akhirnya Juara
Tidak diragukan lagi bahwa hampir semua penghargaan dan trofi telah diterima oleh Messi tapi sayangnya itu hanya level klub.
Dia tidak pernah merasakan mengangkat trofi mayor di level timnas, padahal berkali-kali telah berhasil mengantar negaranya masuk ke final tetapi selalu gagal.
Trofi juara di timnas sebenarnya pernah diberikan Messi tapi itu di level junior 2005 juara dunia dan medali emas di Olimpiade 2008.
Di usia masih sangat muda, Messi sudah dipanggil negaranya membela timnas senior di Piala Dunia 2006. Meski sebagai cadangan, Messi bisa mencetak satu gol. Tim Tango waktu itu dikalahkan Jerman di perempat final lewat adu penalti.
Copa America 2007, Messi sudah menjadi andalan dan berhasil membawa Argentina ke final. Mereka dihancurkan Brasil 3-0 di final.
Piala Dunia 2010, Messi tetap menjadi andalan tim. Tapi lagi-lagi dihentikan Jerman di perempat final.
Copa America 2011 Messi kembali menjadi andalan negaranya. Sayangnya, beban yang berat yang diembannya justru menjadi boomerang yang membuat permainan terbaiknya tidak keluar. Mereka disingkirkan Uruguay di perempat final.
Piala Dunia 2014 merupakan kesempatan terbaik Messi dan dianggap sebagai usia emas untuk meraih trofi Piala Dunia. Di babak gugur dia memperlihatkan itu dengan mencetak 4 gol. Dia pun memimpin timnya hingga ke final. Sayangnya, gol Mario Gotze di menit ke-113 memupuskan harapan Messi. Meski dia dianugerahi pemain terbaik turnamen tetapi dia begitu kecewa hingga membuatnya mengeluarkan pernyataan untuk pensiun dari timnas.
Desakan fans membuat dia kembali di Copa America 2015 dan Copa America Centenario 2016. Sayangnya, mereka kembali gagal berturut-turut dikalahkan Chile.
Messi memutuskan untuk pensiun tetapi desakan dari pelatih dan para fansnya membuat dia kembali di Piala Dunia 2018. Banyak yang menganggap bahwa keberadaan Messi terlalu dipaksakan dan menjadi beban tim. Terbukti mereka hampir tidak lolos dari babak penyisihan. Mereka ditahan Islandia dan dikalahkan Kroasia. Beruntung bisa lolos sebagai runner up. Akan tetapi mimpi untuk melangkah jauh dihentikan oleh Prancis di babak 16 besar.
Copa America 2021 ini benar-benar menjadi klimaks buat Messi. Dia pernah berkata bahwa semua penghargaan di level klub (Barcelona) rela dia tukar agar bisa mendapat trofi di level timnas. Tentu pemain yang berusia 34 tahun itu akan kembali bergairah untuk tetap melanjutkan karier di timnas setelah kemenangan ini.
Seperti diketahui bahwa dia berhasil menggondol semua penghargaan Copa America 2021 ini, pemain terbaik, top skorer, dan menjadi Kapten Tim Champion, Argentina.
Si Kutu mungkin akan melupakan untuk pensiun lagi. Dia akan lebih fokus di Piala Dunia tahun depan. Kita menunggu kiprahnya, apakah di usia yang tidak muda lagi masih bisa bicara banyak di Piala Dunia. (*)
