Konten dari Pengguna

Ketika Uang Rp100 Ribu Tak Lagi Terasa Rp100 Ribu

Dwi Ari Christiani

Dwi Ari Christiani

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Ari Christiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrai Ai
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrai Ai

Pernahkah kita merasa uang Rp100 ribu sekarang lebih cepat habis dibandingkan beberapa tahun lalu? Dulu, uang tersebut mungkin cukup untuk membeli beberapa kebutuhan sekaligus. Sekarang, setelah membeli makanan, membayar transportasi, atau berbelanja kebutuhan sehari-hari, uang Rp100 ribu bisa saja tinggal sedikit bahkan habis tanpa terasa.

Fenomena tersebut bukan sekadar perasaan. Salah satu hal yang dapat menjelaskannya adalah inflasi, yaitu kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berlangsung secara terus-menerus. Ketika harga-harga meningkat, kemampuan uang untuk membeli barang dan jasa menjadi menurun. Dengan kata lain, jumlah uangnya tetap Rp100 ribu, tetapi barang yang dapat diperoleh dengan uang tersebut semakin sedikit.

Harga Naik, Daya Beli Tertekan

Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan daya beli dapat terlihat dari berbagai kebutuhan. Harga makanan, transportasi, biaya pendidikan, listrik, hingga kebutuhan rumah tangga dapat mengalami perubahan. Ketika pendapatan seseorang tidak meningkat sebanding dengan kenaikan harga, ruang untuk memenuhi kebutuhan lainnya menjadi semakin terbatas.

Misalnya, seseorang memiliki pendapatan bulanan Rp3 juta. Jika penghasilan tersebut tetap, tetapi berbagai kebutuhan mengalami kenaikan harga, maka orang tersebut harus menyesuaikan kembali pengeluarannya. Pilihannya bisa berupa mengurangi belanja yang tidak terlalu penting, mencari produk dengan harga lebih murah, atau mengurangi jumlah barang yang dibeli.

Di sinilah inflasi terasa dekat dengan kehidupan masyarakat. Inflasi bukan hanya angka yang muncul dalam laporan ekonomi, tetapi dapat memengaruhi keputusan seseorang ketika berada di pasar, minimarket, warung, atau ketika menyusun anggaran rumah tangga.

Mengapa Rp100 Ribu Terasa Berbeda?

Nilai nominal uang sebenarnya tetap. Uang Rp100 ribu tetap memiliki nominal Rp100 ribu. Namun, yang berubah adalah daya belinya.

Bayangkan seseorang membawa Rp100 ribu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika harga berbagai barang meningkat, jumlah barang yang bisa dibeli dengan uang tersebut otomatis berkurang. Kondisi inilah yang membuat masyarakat merasa bahwa uang yang dimiliki semakin “tidak bernilai” dibandingkan sebelumnya.

Karena itu, membandingkan uang hanya berdasarkan nominalnya terkadang dapat menyesatkan. Yang lebih penting adalah melihat apa saja yang dapat dibeli dengan uang tersebut.

Bukan Berarti Semua Harga Naik Bersamaan

Perlu dipahami bahwa inflasi tidak berarti seluruh harga barang naik dengan tingkat yang sama. Ada barang yang kenaikannya lebih tinggi, ada yang relatif stabil, bahkan ada pula yang harganya turun pada periode tertentu.

Dampaknya juga berbeda bagi setiap orang. Rumah tangga yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pokok akan merasakan perubahan harga kebutuhan tersebut lebih besar. Sementara itu, orang yang memiliki pola konsumsi berbeda dapat merasakan dampak yang berbeda pula.

Artinya, pengalaman masyarakat terhadap inflasi tidak selalu sama. Angka inflasi secara umum menggambarkan perubahan harga pada kelompok barang dan jasa yang dihitung dalam suatu ukuran tertentu, sedangkan kondisi keuangan setiap rumah tangga memiliki karakteristik masing-masing.

Pendapatan dan Gaya Hidup Ikut Menentukan

Masalahnya bukan hanya harga yang meningkat, tetapi juga bagaimana pendapatan dan pola pengeluaran dikelola. Ketika pendapatan bertambah, seseorang mungkin masih mampu mempertahankan konsumsi meskipun terjadi kenaikan harga. Sebaliknya, pendapatan yang tetap dapat membuat kenaikan harga terasa lebih berat.

Gaya hidup juga memiliki pengaruh. Kemudahan transaksi digital, layanan pesan antar, promosi daring, dan berbagai bentuk pembayaran non-tunai membuat masyarakat semakin mudah melakukan pembelian. Tanpa perencanaan, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat menghabiskan anggaran.

Karena itu, menghadapi perubahan harga membutuhkan kebiasaan mengatur keuangan, bukan sekadar mencari penghasilan yang lebih besar.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Masyarakat dapat mulai dari langkah sederhana. Membuat anggaran bulanan, membedakan kebutuhan dan keinginan, mencatat pengeluaran, membandingkan harga, serta menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan merupakan beberapa cara untuk menjaga kondisi keuangan.

Di tingkat yang lebih luas, pemerintah juga memiliki peran dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan ekonomi. Stabilitas ekonomi penting agar kenaikan harga tidak berkembang menjadi tekanan yang terlalu berat bagi masyarakat, terutama kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi lebih terbatas.

Pada akhirnya, persoalan “Rp100 ribu yang terasa semakin kecil” bukan semata-mata tentang uang yang cepat habis. Fenomena tersebut mengingatkan kita bahwa nilai uang dalam kehidupan sehari-hari sangat berkaitan dengan harga barang, pendapatan, serta cara kita mengelola keuangan.

Rp100 ribu tetaplah Rp100 ribu. Namun, ketika harga-harga berubah, kemampuan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan juga ikut berubah. Karena itu, memahami inflasi bukan hanya urusan ekonom atau pemerintah. Bagi masyarakat, memahami inflasi berarti memahami bagaimana menjaga daya beli dan membuat keputusan keuangan yang lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari.