Konten dari Pengguna

Saat Harapan Tak Sesuai Rencana: Belajar Bangkit dari Proses Pendaftaran Kuliah

DWI FITRIYA ARIFIN

DWI FITRIYA ARIFIN

Mahasiswa universitas Negeri Jember

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DWI FITRIYA ARIFIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto ini adalah foto kebanggakan buat saya. karna bisa berdiri di fakultas impian
zoom-in-whitePerbesar
foto ini adalah foto kebanggakan buat saya. karna bisa berdiri di fakultas impian

Hai, perkenalkan nama saya Dwi Fitriya Arifin. Saya ingin berbagi pengalaman tentang proses mendapatkan universitas impian. Proses pendaftaran kuliah adalah momen paling menegangkan dalam hidup saya. Awalnya penuh semangat dan harapan besar, semua orang punya kampus impian masing-masing seperti Universitas Brawijaya atau Universitas Jember, dengan alasan yang berbeda-beda. Dari jauh hari saya mulai belajar rutin, bahkan bergadang demi memahami materi, meskipun terkadang rasa malas datang dan tergoda untuk menunda belajar. Namun, tujuan membuat saya sadar bahwa untuk mencapai universitas impian harus banyak belajar dan berlatih soal. Saya pun membayangkan serunya menjadi mahasiswa, memakai jaket almamater, nongkrong di kantin, dan ikut organisasi.

Namun kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Saat pengumuman hasil seleksi keluar, ada yang senang karena lolos, dan ada yang sedih karena gagal. Saya sempat merasa kecewa dan bertanya-tanya "kenapa bukan saya yang diterima", apalagi saat melihat teman-teman memposting kabar bahagia mereka di media sosial. Tapi setelah beberapa hari, saya sadar bahwa gagal bukan akhir dari segalanya. Hidup tidak berhenti hanya karena satu pintu tertutup. Masih banyak jalur lain yang bisa dicoba seperti jalur mandiri, nilai rapor, atau skor UTBK. Dengan dukungan orang tua dan keyakinan diri, saya berusaha lebih giat lagi.

Hingga akhirnya saya dinyatakan lolos, meskipun bukan di jurusan yang saya impikan. Awalnya berat, tapi lama-kelamaan saya mulai menikmati suasana baru yang ternyata tidak kalah menyenangkan. Dari situ saya belajar bahwa proses pendaftaran kuliah bukan hanya tentang diterima atau tidak, tapi tentang bagaimana kita menghadapi kegagalan dan berani mencoba lagi. Saya belajar sabar, ikhlas, dan percaya bahwa setiap hal punya waktunya sendiri. Semua pengalaman itu menjadi pelajaran berharga yang membuat saya lebih kuat dan siap melangkah ke depan.