Konten dari Pengguna

Perceraian Sebabkan Psikologis Anak Terganggu?

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Kurniati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/images/id-3090056/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/images/id-3090056/

Permasalahan perkara perceraian di pengadilan agama Indonesia marak dan memungkinkan terjadinya lebih banyak perceraian karena beberapa faktor yang mempengaruhi. Secara umum, siapa yang tidak ingin hidup bahagia selamanya? Bagi sebagian orang, mengartikan kata cerai terkadang adalah yang paling tepat. Namun sebenarnya perceraian berdampak besar pada anak-anak. Perceraian adalah putusnya hubungan antara suami dan istri. Seorang suami dan istri tidak dapat tinggal di rumah yang sama tanpa hubungan perkawinan.

Makna keluarga bagi anak-anak adalah tempat kasih sayang. Sebagai tempat berlindung karena keluarga adalah tempat di mana keluhan dan masalah tumpah ruah dan merupakan sumber kebahagiaan mereka. Keluarga sangat penting bagi perkembangan anak, baik secara mental maupun fisik. Perceraian merupakan masa yang sulit bagi anak-anak, terutama anak di bawah umur. Situasi ini menghadapkan anak pada berbagai emosi, dan perceraian ini cenderung mengembangkan emosi anak ke tingkat negatif. Berbagai perasaan telah membasuh pikiran dan indera, dan saat ini sedang menikmatinya? Anak juga harus beradaptasi dengan perubahan dalam hidupnya. Awalnya, anak-anak tinggal bersama orang tua mereka. Tetapi harus mengakui bahwa setelah orang tua bercerai, ia harus tinggal bersama salah satu orang tuanya.

Perceraian adalah perpisahan antara suami dan istri karena ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kewajibannya sebagai suami dan istri. Banyak faktor yang menyebabkan perceraian. Diantaranya: akhlak yang kurang tepat, perselingkuhan, pengabaian terhadap pasangan, bullying, dan masih banyak lagi lainnya. Kasus perceraian di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya bersama dengan banyaknya COVID-19, yang menyebabkan peningkatan tajam jumlah perceraian Menurut Kementerian Agama, per Agustus (2020), jumlah perceraian selama wabah di Indonesia telah mencapai 306.688. Perceraian juga mempengaruhi perkembangan anak. Bagi sebagian anak korban perceraian maka anak akan merasa kehilangan cinta dan kasih sayang orang tuanya dan merasa berbeda dengan teman-teman lainnya.

Jumlah perceraian di Indonesia menurut laporan Badan Pusat Statistik tahun 2021, sebanyak 447.743 kasus, lebih dari 53,50% dibandingkan tahun 2020 yang tercatat sebanyak 291.677 kasus. Persentase yang lebih tinggi dari mereka yang mengajukan cerai diajukan oleh istri daripada oleh suami. Sebanyak 337.343 kasus perceraian atau 75,34 persen disebabkan oleh perceraian, termasuk kasus di mana perempuan mengajukan tuntutan hukum yang dikeluarkan oleh pengadilan. Sementara itu, sebanyak 110.440 kasus perceraian atau 24,66% karena perceraian, termasuk permohonan suami atas putusan pengadilan (Hasaznah, 2020).

Bahkan, dan tentunya ketika seorang pria dan seorang wanita memutuskan untuk menikah. Mereka pasti tidak menginginkan perceraian. Namun seperti yang telah disebutkan, angka perceraian di Indonesia pada tahun 2021 akan meningkat dibandingkan tahun 2020. Timbul pertanyaan apakah “Lalu mengapa suami istri bercerai? Lalu apa saja faktornya? Ada banyak hal yang menyebabkan perceraian. Misalnya, jumlah kasus perceraian karena diskriminasi materi mencapai 113.343 kasus dan 42.387 kasus perceraian karena kepergian salah satu pihak. Kemudian, ada faktor kekerasan dalam rumah tangga perceraian sebanyak 4.779 kasus. Faktor lainnya meliputi 1.779 pemabuk, 1.447 murtad, dan 893 poligami (Veronika et al., 2022)

Dampak negatif pada anak berasal dari keluarga yang disfungsi, seperti kurangnya minat terhadap perkembangan anak, komunikasi yang buruk, dan kegagalan menjelaskan apa yang ada di dalam keluarga. Dan hal-hal inilah yang membuat anak merasa tidak aman setelah bercerai. Tidak diterima oleh keluarga, sedih, kesepian, kehilangan, menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak ada yang mencintai mereka. Hingga menyebabkan anak merasakan tekanan dari situasi dan lingkungan. Dalam hal ini keadaan emosi yang sering diekspresikan pada anak rumah tangga yang terbagi (anak korban perceraian) seringkali tidak dapat mengontrol emosinya ketika sedang marah, keras kepala, sering menangis, kesal, kasar, malu dan melampiaskan amarahnya pada seseorang ketika harapan mereka tidak terwujud. Tentu saja, isu perceraian akan berdampak buruk bagi anak. Berikut beberapa dampak negatif perceraian yang bisa dialami anak.

1. Terdapat Kurangnya Interaksi Anak dengan Orang Tua

Karena orang tua yang tidak tinggal bersama, menyebabkan komunikasi antara anak dengan kedua orang tuanya berkurang. Sehingga anak akan merasa kurang percaya diri karena tidak tahu harus berbagi cerita dengan siapa. Selain itu, kurangnya interaksi anak dengan kedua orang tuanya dapat menghambat perkembangan emosional anak (Untari et al., 2018). Hal ini dapat mengakibatkan penelantaran anak, misalnya dengan tidak memperhatikan orang tua atau bahkan lingkungan sekitarnya. Keraguan diri juga membuat anak merasa terlalu nyaman di zona nyamannya. Karena itulah mengapa anak paling tidak berisiko gagal. Kemunduran sekecil apa pun atau tanda sekecil apa pun bahwa anak kurang pengalaman dan tidak mau mencoba hal baru. Ini mencegah anak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik yang secara negatif mempengaruhi perkembangan dirinya sendiri.

2. Merasa Kurang Mendapatkan Perhatian dari Orang Tuanya

Perceraian akan menyebabkan anak kehilangan minat juga. Hal ini mungkin karena anak merasa orang tuanya hanya disibukkan dengan pekerjaan. Pengaruh buruk anak yang merasa kurang mendapat perhatian dari orang tuanya adalah anak akan melakukan hal-hal yang tidak baik seperti mencoba-coba pergaulan bebas, mabuk-mabukan, dll. (Sukmawati, 2021). Selain itu juga anak akan menganggap dirinya kurang berharga dibandingkan teman-temannya yang lain. Perasaan ini yang pada akhirnya membuat anak merasa takut untuk mencoba hal baru dan tumbuh sebagai seseorang yang mudah cemas dan takut.

3. Dapat Menghambat Perkembangan Psikologis Anak.

Tanpa disadari terhambatnya psikologis anak merupakan salah satu dampak negatif yang harus dihadapi oleh orang tua yang bercerai (Ramadhani & Krisnani, 2019). Anak cenderung tertutup dengan lingkungannya. Beberapa anak trauma dengan pernikahan, karena anak-anak takut pernikahan itu akan berakhir sama seperti orang tuanya yakni bercerai. Salah satu hal yang menyakitkan bagi anak-anak adalah ketika mereka melihat orang tua mereka bertengkar. Dari apa yang dilihat anak, ini akan membuat kenangan yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.

Singkatnya, perceraian dapat berdampak sangat negatif bagi anak. Oleh karena itu, anak akan berusaha melakukan hal-hal yang negatif, selain itu perceraian dapat memperlambat perkembangan mental anak.

Maka dari itu, sebagai orang tua, sudah selayaknya jika Anda memiliki konflik dengan pasangan. Jangan biarkan anak mengetahui dan mendengar argumen tersebut. Apalagi jika menyangkut kekerasan dalam rumah tangga di depan anak-anak. Ketika mereka dewasa, mereka akan takut gagal dan takut membangun hubungan dengan banyak orang, karena anak-anak dengan masalah keluarga akan mengingat semua yang mereka lihat, bahkan jika mereka mencoba melupakan apa yang mereka lihat, itu akan terus tersimpan di otak. dan ingatan akan tumbuh sebagai orang dewasa, Anak itu mungkin sudah memaafkannya atas apa yang ada di masa lalunya. Namun rasa sakit pada anak itu tetap ada. Meski tidak seintens sebelumnya. Dampak perceraian pada anak usia dini bisa beragam dan konsekuensi negatif dan cedera dapat ditangani dengan banyak cara. Salah satunya adalah terapi dan konsultasi dengan psikolog anak.

Jika dampak ini dapat dikelola dengan baik, efek ini dapat berdampak positif bagi anak. Dan tidak menutup kemungkinan perkembangan anak korban perceraian mungkin lebih baik dari pada perkembangan anak dari keluarga utuh, misalnya perhatian dan empati yang meningkat. Lebih percaya diri, keberanian, keputusan yang lebih cepat dan responsif, cinta untuk orang lain, dll.