Bahagia Ternyata Juga Rezeki: 3 Klasifikasi Rezeki Menurut Al-Qur'an

Hai, namaku Dwi Kusuma Astuti, seorang mahasiswi aktif S1 Prodi Ilmu Komunikasi di Universitas Tidar, Magelang. Aku berminat pada bidang jurnalistik dan broadcasting. And enjoy your life!
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dwi Kusuma Astuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di zaman yang serba modern seperti ini acap kali kita mendengar kata "tidak ada yang gratis". Sekarang apa pun itu harus menggunakan uang. Bahkan kita sering mengeluh kenapa rezeki kita seret ketika kita tidak punya uang. Kita sering menganggap bahwa orang yang banyak uang pasti rezekinya lancar.
Namun, tahukah kalian bahwa uang bukanlah satu-satunya rezeki di dunia ini. Loh, lalu apa saja rezeki itu jika selain uang? Apakah hidup ini juga rezeki? Mari kita bahas bersama.
Sebelumnya, apa itu definisi dari rezeki?
Menurut KH. Imron Hamzah dalam Kamus Kontemporer Arab Indonesia (1996: 493), istilah “rezeki” berasal dari bahasa Arab, yaitu razaqa, yarzuqu, rizqan, yang berarti kekayaan, nasib, harta warisan, upah, dan anugerah atau pemberian. Rezeki juga mempunyai makna seperti pemberian, makanan, hujan, dan buah-buahan.
Menurut pakar Yusuf Dinar menyebutkan bahwa rezeki merupakan semua pemberian dari Allah SWT. yang bisa dimanfaatkan baik secara material maupun spiritual, baik bermanfaat di dunia maupun di akhirat.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa rezeki merupakan suatu hal yang diberikan oleh Allah SWT sebagai Maha Pemberi Rezeki kepada umat manusia baik secara material maupun spiritual sehingga dapat bermanfaat bagi manusia.
Pada hakikatnya, rezeki sudah diatur oleh Allah SWT semenjak manusia berada di dalam kandungan sang ibu, akan tetapi Allah SWT tidak menjelaskan secara detail. Bahkan, tidak ada seorang pun yang mengetahui pendapatan rezeki yang akan diperoleh pada setiap harinya ataupun selama hidupnya.
Dalam hal ini, sebagaimana telah dicantumkan dalam berbagai ayat Al-Qur'an maka lebih spesifik lagi rezeki diklasifikasikan ke dalam tiga bagian yaitu:
Rezeki yang ditentukan, di mana setiap manusia memiliki rezeki yang mana masing-masing dari rezeki mereka itu sudah diatur dan ditentukan oleh Allah, jadi jika rezeki seseorang itu sudah habis maka habis pula umurnya.
Rezeki yang dijanjikan, dalam hal ini ada kaitannya dengan QS. at-Ṭalȃq ayat 3 bahwasanya Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang-orang yang bertaqwa.
Rezeki milik, yaitu segala sesuatu yang dipakai oleh manusia dan tidak tentu berupa materi, tetapi dapat berupa pakaian, rumah, anak, dan yang semisalnya itu semua merupakan rezeki, namun yang sebagian tadi disebutkan itu termasuk ke dalam kategori rezeki milik.
Dari klasifikasi di atas dapat dikemukakan bahwa sesungguhnya Allah sangatlah baik hati kepada umat manusia. Allah senantiasa mencukupi, menjamin dan hanya Dia saja yang memberi rezeki kepada semua makhluk-Nya.
Meskipun demikian, bukan berarti kita sebagai manusia hanya diam menunggu datangnya rezeki. Kita harus tetap berusaha dan berikhtiar menjemput segala rezeki yang sudah ditentukan oleh Allah SWT.
Apabila rezeki yang kita inginkan belum tercapai, tanamkan pada pikiran kita sebagai seorang hamba bahwa rezeki bukan hanya tentang sebuah materi seperti uang namun segala sesuatu yang Allah anugerahkan untuk kita salah satunya adalah kehidupan ini.
Kita dianugerahi kesempatan untuk hidup lalu mencari pahala sebanyak-banyaknya hingga saat ini merupakan rezeki yang lebih istimewa dibandingkan uang yang akan segera habis dan menghilang. Sehat, dapat tidur dengan nyaman di bawah atap rumah tanpa khawatir kehujanan, makan nasi walau lauk tempe dan sambal, hingga dapat melihat orang yang kita sayangi setiap hari, itulah rezeki yang nyata. Maka dari itu, syukuri segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT kepadamu termasuk kesempatan untuk terus bernapas hingga hari ini.
