Konten dari Pengguna

Resensi Novel Azzamine : Diantara Takdir dan Cinta Yang Tumbuh Perlahan

Dwi Luna Amalia

Dwi Luna Amalia

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Luna Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Dwi Luna Amalia
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Dwi Luna Amalia

Judul Buku : Azzamine

Penulis : Sophie Aulia

Penerbit : PT. Bukune Kreatif Cipta

Tahun Terbit : 2022

ISBN : 978-602-220-4336

Jumlah Halaman : 380 halaman

Tempat Terbit : Jakarta

Tidak semua orang jatuh cinta karena perasaan atau melalui pertemuan yang telah direncanakan. Ada kalanya cinta datang ketika hidup sedang baik baik saja, lalu tiba tiba semuanya berubah karena adanya suatu keputusan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Perasaan itulah yang menjadi benang merah dalam cerita novel Azzamine karya Sophie Aulia.

Haura Jasmine yang kerap dipanggil Jasmine adalah sosok perempuan yang sudah terbiasa menjalani hidupnya sesuai rencana yang telah ia buat. Jasmine memiliki impian tentang masa depan yang akan dicapainya dan ia bahkan merasa sudah menemukan sosok yang akan menemaninya hingga akhir hayat. Selama empat tahun, Jasmine sudah menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Deka. Hubungan itulah yang membuat ia merasa yakin bahwa perjalanan cintanya sudah mempunyai tujuan yang jelas.

Namun, keyakinan itu mendadak runtuh ketika kedua orang tuanya menyampaikan sebuah keputusan yang sama sekali tidak pernah ia duga dan bayangkan sepanjang hidupnya. Jasmine dijodohkan dengan Raden Azzam AL-Baihaqi, putra dari sahabat lama keluarga mereka. Menurut Jasmine, keputusan yang dibuat itu terlalu sepihak dan terasa tidak masuk akal, karena Jasmine masih memiliki kekasih dan belum mempunyai keinginan untuk menikah. Tak menunggu lama, ia pun langsung menolak mentah-mentah keputusan itu tanpa berpikir dua kali.

Penolakan Jasmine tidak hanya kepada keluarganya, ia bahkan sampai menemui Azzam secara langsung untuk meminta kepada laki-laki tersebut agar ikut serta menolak perjodohan yang telah direncanakan keluarganya. Jasmine mengira bahwa Azzam akan memaksanya untuk menerima keputusan keluarganya, namun dugaan itu ternyata keliru. Azzam justru tetap bersikap tenang dan lebih memilih untuk menghormati keputusan Jasmine. Azzam tidak mempunyai niat untuk memaksa, menyalahkan, dan tetap memperlakukan Jasmine dengan penuh rasa hormat.

Di sisi lain, hubungan Jasmine dan Deka mulai menghadapi berbagai persoalan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Hubungan yang sudah mereka bangun selama bertahun tahun, perlahan mulai memperlihatkan celah-celah yang sebelumnya tidak pernah disadari. Pada situasi yang sama, kehadiran Azzam justru menghadirkan pengalaman baru dalam hidup Jasmine. Sikap Azzam yang sabar, sederhana, dan penuh perhatian membuat Jasmine mulai mempertanyakan kembali apa yang selama ini ia yakin tentang arti cinta dan masa depan.

Cerita mulai berkembang, pembaca pun mulai diajak untuk mengikuti perjalanan Jasmine dalam menghadapi rasa kecewa, kebingungan, dan dilema antara mempertahankan rencana hidupnya atau menerima jalan yang telah dipilihkan oleh takdir. Novel ini tidak menghadirkan konflik yang berlebihan, pembaca justru diajak untuk melihat bagaimana sebuah hubungan, keluarga, dan kepercayaan dapat mengubah cara seseorang dalam memandang hidup.

Salah satu hal yang menarik dalam novel ini adalah ceritanya yang mengangkat tentang tema perjodohan sehingga terasa berbeda dari kisah romance yang lainnya. Perjodohan dalam novel ini tidak hanya menjadi konflik utama, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk membahas semua hal. Mulai dari hubungan anak dengan orang tua, proses dalam mengenal seseorang, hingga proses menerima kenyataan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Karakter Jasmine dan Azzam menjadi kekuatan dalam novel ini. Jasmine digambarkan sebagai sosok yang memiliki pendirian, tetapi juga dipenuhi keraguan ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapannya. Sebaliknya, Azzam hadir sebagai karakter yang tenang, sabar, dan menghargai keputusan. Perbedaan kedua sifat inilah yang membuat hubungan mereka berkembang secara perlahan dan terasa alami.

Selain kisah cinta yang menjadi fokus utama, novel Azzamine juga menonjolkan hubungan keluarga yang terasa sangat hangat. Peran orang tua, nasihat, dan nilai-nilai yang dipegang para tokoh membuat cerita berjalan sesuai dengan kehidupan nyata. Bahasa yang digunakan dalam novel ini pun tergolong ringan dan mudah dipahami. Alur dalam novel ini berjalan cukup perlahan di beberapa bagian, sehingga tempo tersebut membuat perkembangan karakter dan emosi para tokohnya terasa lebih meyakinkan dan mudah dipahami pembaca.

Dengan adanya konflik dan alur yang cukup dekat dengan kehidupan nyata, karakter yang berkembang secara alami, dan bahasa yang ringan, novel Azzamine menjadi novel yang tidak hanya sekedar menghibur, tetapi juga mengajak para pembacanya untuk memahami tentang arti keluarga, keikhlasan, dan penerimaan setiap proses hidup. Novel Azzamine ini cocok dibaca oleh pembaca yang menyukai kisah cinta yang hangat, tidak banyak drama berlebih, dan tetap memiliki makna yang membekas setelah halaman terakhir novel ini ditutup. (Dwi Luna Amalia)