Konten dari Pengguna

Tunggu Aku Sukses Nanti : Saat Momen Lebaran Beralih Menjadi Ruang Tekanan

Dwi Luna Amalia

Dwi Luna Amalia

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Luna Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Dwi Luna Amalia
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Dwi Luna Amalia

Judul Film : Tunggu Aku Sukses Nanti

Produksi : Rapi Films

Sutradara : Naya Anindita

Produser : Gope T. Samtani

Penulis Skenario : Evelyn Afnilia

Durasi : 110 menit

Tanggal Rilis : 18 Maret 2026

Momen lebaran selalu mempunyai cerita yang berbeda di setiap orang. Momen ini biasanya identik dengan kehangatan, kebersamaan, dan yang tak kalah penting yaitu makanan favorit yang hanya muncul setahun sekali. Namun, di balik momen kebersamaan itu ada satu hal yang selalu menjadi langganan di beberapa orang, seperti pertanyaan tentang pekerjaan, pendidikan, hingga pencapaian hidup.

Bagi Sebagian orang, pertanyaan seperti “Kerja di Mana Sekarang?” mungkin hal itu terasa wajar dan biasa saja. Tetapi, bagi mereka yang masih berjuang mencari pekerjaan atau sedang berada di fase quarter life crisis, pertanyaan itu mungkin menjadi suatu hal yang tidak mudah untuk dijawab. Pertanyaan itu bukan sekadar menjadi basa basi lagi, justru malah menjadi tambahan beban yang sudah ada. Realitas inilah yang diangkat dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti dengan produser Naya Anindita.

Film drama keluarga yang dibalut dengan genre komedi ini menghadirkan kisah tentang adanya tekanan, harapan, serta perjuangan seseorang yang sedang mengejar kesuksesannya di tengah banyaknya tuntutan dari orang sekitarnya. Film ini diproduksi oleh Rapi Films dengan durasi 110 menit.

Tokoh utama dalam film ini adalah Arga, seorang lulusan sarjana yang sudah tiga tahun dan belum mendapatkan pekerjaan tetap. Setiap momen lebaran tiba, Arga selalu menjadi ajang perbandingan dengan saudaranya yang sudah jauh lebih mapan dan berkarier. Di saat yang sama, kondisi ekonomi keluarga Arga juga sedang tidak baik baik saja sehingga sepupu Arga pun tidak sungkan untuk menganggap remeh keluarga Arga. Ayahnya kehilangan pekerjaan, adiknya terancam putus kuliah, sementara rumah yang ditinggali Arga dan keluarganya pun hendak dijual. Bukan hanya itu, kekasih Arga juga mulai meminta kepastian terhadap hubungan yang sudah lama mereka jalani.

Melihat kisah Arga mungkin rasanya seperti melihat cerita yang banyak dialami oleh banyak orang, terutama bagi mereka yang setelah lulus kuliah belum mendapatkan pekerjaan. Perasaan tertinggal dari teman teman, tekanan untuk segera berhasil, dan ada diri sendiri yang ingin membuktikan bahwa ia juga sedang berusaha. Konflik yang disajikan dalam film ini memang sederhana, tetapi justru hal itu terasa sangat nyata dalam kehidupan.

Hal yang paling teringat dari film ini adalah tentang bagaimana sebuah percakapan bisa menjadi sumber konflik. Tidak ada pertengkaran besar atau konflik yang dibuat berlebihan, melainkan adanya sindiran, candaan, dan ajang perbandingan yang terlihat sepele justru menjadi bagian yang paling menyentuh.

Ardit Erwandha berhasil memerankan tokoh Arga dengan sangat natural. Tokoh Arga tidak digambarkan sebagai sosok yang selalu kuat atau selalu mempunyai jawaban dari setiap masalah. Ada momen di mana tokoh Arga juga bisa marah, kecewa, malu, bahkan putus asa. Emosi itu ditampilkan secara bertahap sehingga penonton juga bisa ikut merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh tokoh utama.

Karakter anggota keluarganya disini juga ternilai cukup penting. Karakter orang tua Arga diperlihatkan sebagai sosok yang tetap berusaha menjadi tempat pulang anak anaknya meskipun keluarganya sendiri juga sedang menghadapi masalah ekonomi. Di sisi lain, karakter beberapa anggota keluarga besarnya justru menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan bisa menjadi tekanan psikologis bagi seseorang yang tidak disadari oleh orang lain.

Naya Anindita mampu menjaga keseimbangan antara adegan yang mengundang tawa dan momen yang dilandasi emosional. Humor dihadirkan di waktu yang pas sehingga cerita terasa tidak berat. Ketika sudah mulai masuk konflik, emosinya pun dibangun secara perlahan sehingga penonton juga bisa ikut merasakan dan terbawa alur.

Suasana lebaran dibuat mirip dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Rumah yang diisi banyak keluarga, ramainya meja makan, hingga obrolan khas saat berkumpul membuat film ini terasa dekat dengan pengalaman penonton. Musik latarnya juga dibuat secukupnya untuk memperkuat suasana tanpa mengganggu jalannya cerita.

Meski begitu, ritme cerita di bagian tengah terasa sedikit melambat. Beberapa konflik ditampilkan cukup panjang sehingga alurnya sedikit kehilangan tempo. Namun, bagian tersebut tetap membantu penonton memahami beban yang sedang dipikul tokoh Arga sebelum cerita menuju penyelesaian.

Film Tunggu Aku Sukses Nanti bukan hanya cerita tentang seorang pengangguran yang sedang mencari pekerjaan atau meratapi nasibnya. Film ini justru mengajak penonton untuk melihat sisi lain dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul di beberapa momen.

Lewat film ini, bisa menjadi pengingat bagi kita bahwa kesuksesan tidak selalu memiliki garis waktu yang sama bagi setiap orang. Setiap individu memiliki proses, tantangan, dan waktunya masing masing. Oleh karena itu, film ini mengajak penonton untuk lebih bisa menghargai perjuangan yang mungkin tidak pernah terlihat di balik jawaban jawaban yang mereka berikan. (Dwi Luna Amalia)