Saya Hanya Ramah,Bukan Ingin Didekati

Mahasiswa Akuntansi Perpajakan D4,Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dwi Mudholifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu bersikap ramah kepada seseorang karena memang ingin memberikan pelayanan yang baik, tetapi justru dianggap sedang memberikan perhatian khusus?
Hal seperti itu mungkin terdengar sepele. Namun, bagi orang yang mengalaminya, salah mengartikan keramahan bisa membuat situasi menjadi tidak nyaman.
Menjaga warung sering kali terlihat seperti pekerjaan yang sederhana. Melayani pembeli, menerima pembayaran, lalu memberikan barang yang mereka beli. Padahal, orang yang berada di balik meja kasir atau warung juga harus menghadapi berbagai macam karakter pelanggan setiap harinya.
Ada pelanggan yang ramah, ada yang banyak bertanya, ada yang terburu-buru, dan ada pula yang terkadang membuat orang yang melayani merasa tidak nyaman.
Ramah Adalah Bagian dari Pelayanan
Ketika menjaga warung, saya berusaha bersikap ramah kepada setiap pelanggan. Menyapa, menjawab pertanyaan dengan baik, dan memberikan pelayanan yang nyaman menurut saya merupakan bagian dari pekerjaan.
Bukan karena ingin dekat secara pribadi dengan pelanggan.
Sebagai penjual, tentu saya berharap pelanggan merasa nyaman ketika berbelanja dan bersedia datang kembali. Hubungan yang baik antara penjual dan pembeli memang penting, tetapi menurut saya hubungan tersebut tetap memiliki batas.
Masalahnya, tidak semua orang melihat keramahan dengan cara yang sama.
Ada yang menganggap sikap ramah sebagai bentuk pelayanan, tetapi ada juga yang mungkin menganggapnya sebagai tanda bahwa mereka boleh menjadi lebih dekat secara pribadi.
Ketika Pertanyaan Pribadi Mulai Membuat Tidak Nyaman
Saya pernah mengalami sendiri situasi seperti itu.
Suatu ketika, ada seorang pelanggan yang bertanya kepada saya apakah saya sudah menikah. Saya menjawab dengan sederhana, “Belum.”
Setelah itu, ia beberapa kali meledek saya. Cara berbicara dan tatapan yang diberikan membuat saya merasa tidak nyaman.
Mungkin bagi orang tersebut pertanyaannya hanya bercanda. Namun, bagi saya sebagai orang yang sedang bekerja dan melayani pelanggan, pertanyaan serta candaan seperti itu terasa berbeda.
Saya tetap berusaha bersikap biasa karena posisi saya sedang melayani. Namun, dari pengalaman tersebut saya menyadari bahwa pertanyaan yang dianggap biasa oleh seseorang belum tentu terasa nyaman bagi orang lain.
Pelayanan Bukan Berarti Tidak Memiliki Batas
Selain pertanyaan pribadi, ada juga hal lain yang menurut saya perlu diperhatikan, yaitu kontak fisik.
Saya pernah melihat atau mengalami situasi ketika seseorang yang sedang berbelanja menyentuh atau memegang tangan orang yang sedang melayani mereka tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Menurut saya, hal seperti ini sebaiknya tidak dianggap sebagai candaan biasa.
Ketika seseorang sedang bekerja, bukan berarti batas pribadi mereka hilang. Meskipun sedang berada dalam situasi pelayanan, mereka tetap memiliki ruang pribadi yang perlu dihormati.
Begitu juga dengan pertanyaan mengenai kehidupan pribadi. Tidak semua hal yang terlihat sederhana perlu ditanyakan kepada orang yang baru kita kenal, apalagi jika pertanyaan tersebut membuat orang yang ditanya merasa tidak nyaman.
Pembeli Bukan Raja, Penjual Juga Bukan Bawahan
Dalam transaksi jual beli, pelanggan memang memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik. Namun, orang yang melayani juga berhak mendapatkan perlakuan yang sopan.
Membayar barang atau jasa bukan berarti seseorang mendapatkan izin untuk memperlakukan penjual sesuka hati.
Menurut saya, hubungan antara penjual dan pembeli seharusnya bukan tentang siapa yang lebih tinggi atau siapa yang harus selalu mengalah. Keduanya memiliki peran masing-masing dalam sebuah transaksi.
Penjual memberikan barang atau jasa dan pelayanan. Pembeli membayar sesuai dengan harga yang telah ditentukan. Di antara keduanya seharusnya tetap ada sikap saling menghargai.
Ramah Tidak Sama dengan Memberikan Izin
Saya belajar dari pengalaman menjaga warung bahwa bersikap ramah memang penting, tetapi keramahan juga sering kali perlu disertai batas yang jelas.
Saya bisa tersenyum kepada pelanggan, menjawab pertanyaan mereka, dan membantu ketika mereka membutuhkan sesuatu. Namun, hal tersebut tidak berarti saya ingin membicarakan kehidupan pribadi atau mendapatkan perlakuan yang terlalu dekat.
Menurut saya, kita perlu belajar membedakan antara keramahan dan kedekatan pribadi.
Seseorang yang bekerja sebagai penjual, kasir, pelayan, atau siapa pun yang berhadapan langsung dengan pelanggan memang dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik. Tetapi mereka tetap memiliki perasaan, ruang pribadi, dan batas kenyamanan.
Karena itu, ketika seseorang bersikap ramah kepada kita, tidak ada salahnya membalasnya dengan keramahan yang sama.
Sebab,ramah adalah bagian dari pelayanan, bukan sebuah undangan untuk melewati batas pribadi.
