Konten dari Pengguna

Mengenal Tumbuhan Alien

Dwi Novia Puspitasari

Dwi Novia Puspitasari

Pranata Humas Penyelia, Biro Komunikasi Publik, Umum dan Kesekretariatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Novia Puspitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto (Tatang/Dwi): Contoh Tumbuhan Alien Species
zoom-in-whitePerbesar
Foto (Tatang/Dwi): Contoh Tumbuhan Alien Species

Alien biasanya terkenal dengan sosok luar angkasa yang penampakannya menyeramkan sesuai ilustrasi yang sering kita lihat baik di televisi maupun media sosial. Namun belum banyak yang tahu jika ada tumbuhan alien di dunia ini dan penampakannya justru menarik dan banyak kita temui di sekitar kita yang dikenal dengan sebutan Invasif Alien Species (IAS).

Invasive Alien Species (IAS) itu merupakan suatu jenis tumbuhan eksotik yang keberadaan/kedatangannya dapat menimbulkan dampak negatif pada ekosistem alami yang disinggahinya. Jenis tanamannya juga bermacam-macam, ada yang mengganggu dan ada yang bisa dimanfaatkan sebagai tanaman hias seperti bunga pacar air (Impatiens glandurifera). Sedangkan tumbuhan alien yang dianggap mengganggu yaitu eceng gondok (Eichhornia crassipes). Eceng gondok adalah salah satu tanaman yang keberadaannya telah dianggap merusak dan mengancam ekosistem di beberapa wilayah. Menurut ceritanya eceng gondok didatangkan dari Amerika Latin ke Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.

Lama kelamaan eceng gondok hidup mendominasi dan tidak terkendali hingga hampir menutupi seluruh permukaan sungai seperti yang terjadi di Sungai Rawa Pening, Jawa Tengah dan beberapa sungai di daerah lain. Hal ini pun menjadi suatu permasalahan yang serius karena dianggap telah menimbulkan suatu dampak negatif terhadap ekosistem di daerah tersebut. Keberlangsungan hidup hewan dan tumbuhan air yang ada di sana menjadi terganggu. Pada kondisi inilah tumbuhan eceng gondok yang awalnya hanya sebagai tumbuhan eksotik, telah berubah bersifat menjadi invasif atau lebih dikenal dengan istilah Invasive Alien Species.

Saat ini IAS sudah menjadi isu global, bahkan CBD (Convention of Biological Diversity) dan IPBES (The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services), telah memasukkan IAS ke dalam daftar salah satu faktor ancaman yang mengakibatkan kepunahan keanekaragaman hayati dalam suatu ekosistem. Untuk itu, perlu dilakukan pengendalian IAS agar dapat dimaksimalkan potensi pemanfaatan (dalam rangka pengelolaan) dan diminimalisir potensi negatifnya. Karena bila tidak dikendalikan IAS dapat menjadi salah satu ancaman yang berakibat pada penurunan kualitas biodiversitas dan menjadi salah satu faktor penyebab kepunahan dari suatu jenis mahluk hidup di suatu daerah atau ekosistem.

Nah tumbuhan alien selain ada di sekitar kita juga ada di Kebun Raya Cibodas. Menurut peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, Decky Indrawan Junaedi, Kebun Raya Cibodas memiliki beberapa koleksi tumbuhan eksotik yang didatangkan dari luar Indonesia dan memiliki potensi sebagai tumbuhan obat, tumbuhan pangan, tanaman hias, dan lainnya. Hanya saja dengan berjalannya waktu beberapa jenis tanaman eksotik tersebut saat ini sudah bersifat invasif di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Lokasi TNGGP sendiri berdampingan langsung dengan Kebun Raya Cibodas untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai tumbuhan IAS Kebun Raya Cibodas. Selain itu penanganan IAS di TNGGP menjadi sangat penting karena TNGGP merupakan daerah konservasi alam yang bernilai internasional dan sudah ditetapkan sebagai cagar biosfer.

Decky juga menyampaikan bahwa tujuan utama penelitian IAS yang dia lakukan bersama timnya di Kebun Raya Cibodas yaitu untuk meminimalisir dan menekan dampak negatif IAS, upaya tersebut melalui pengendalian potensi invasif dari koleksi eksotik Kebun Raya Cibodas serta berupaya mengelola jenis-jenis yang sudah bersifat invasif dan memaksimalkan potensi manfaat dari tumbuhan eksotik sesuai dengan tujuan awal kedatangannya.

Proses Terjadinya Invasive Alien Species

Secara umum proses suatu jenis eksotik menjadi invasif itu ada empat tahapan, yaitu:

  1. Introduksi, datangnya suatu tumbuhan eksotik ke suatu habitat baru.

  2. Naturalisasi, proses adaptasi agar bisa hidup di lingkungan baru.

  3. Kolonisasi, proses menghasilkan individu baru dan menyebar ke lokasi baru yang tidak jauh maupun jauh.

  4. Invasi, proses tumbuh lebih banyak dan mendominasi mengalahkan jenis-jenis tumbuhan lain di habitat baru tersebut. Proses invasi itu sendiri juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor lingkungan dan karakter biologis, seperti iklim, cahaya, kondisi air, laju tumbuh, kemampuan reproduksi, baik secara vegetatif dan atau generatif, media penyebaran, kandungan alelopati/alelokimia dan tidak adanya musuh alami.

Contoh kasus IAS yang dianggap telah mengganggu di Kebun Raya Cibodas (KRC), yaitu bambu cina (Chimonobambusa quadrangularis). Secara proses introduksi, awalnya bambu cina ini ditanam sebagai pagar hidup/pembatas antara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Kebun Raya Cibodas. Kemudian ternaturalisasi dan secara tidak sengaja bambu tersebut tumbuh dengan cepat dan menyebar melalui karakter biologisnya yaitu perbanyakan melalui rizoma/rimpang.

Bambu cina dapat menyebar dengan cepat dan bisa menjangkau daerah yang jauh walaupun dibatasi oleh banyak faktor lingkungan, seperti cahaya, iklim, dan air. Sejauh ini bambu cina belum terlalu banyak menyebar ke dalam hutan TNGGP, namun di wilayah perbatasan TNGGP dengan KRC dianggap cukup bermasalah karena populasinya yang padat.

Pengelolaan Invasive Alien Species

Pada prinsipnya pengelolaan IAS perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu:

  1. Teknik pengelolaan harus disesuaikan dengan kondisi populasi IAS yang akan dikelola.

  2. Pemilihan teknik pengelolaan harus berdampak minimal terhadap ekosistem yang dikelola IAS-nya.

  3. Pengelolaan IAS juga perlu mempertimbangkan ketersediaan sumber daya (waktu, sumber daya manusia, dana dan lainnya.) yang dapat digunakan untuk mengelola IAS tersebut.

Pengelolaan IAS juga dilakukan berdasarkan kondisi dari tahapan dan jenis invasifnya itu sendiri. Pengelolaannya dibagi menjadi empat yaitu:

  1. Do nothing atau tidak dilakukan pengelolaan apa-apa. Opsi ini dipilih untuk kondisi/jenis IAS yang keberadaannya diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak negatif yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan. Jika suatu jenis tanaman itu terintroduksi bahkan sampai pada tahapan ternaturalisasi, ternyata dianggap tidak memiliki potensi untuk menjadi invasif yang negatif maka dapat dilakukan dengan pengelolaan do nothing. Namun pengelolaan untuk jenis invasif dengan jenis dan kondisi ini, memerlukan biaya yang terlalu besar tetapi hasilnya tidak signifikan (tidak seimbang).

  2. Eradication (eradikasi) atau pemusnahan secara total semua individu eksotik yang ada di suatu habitat. Pengelolaan ini akan cocok dilakukan untuk jenis-jenis eksotik yang baru berada pada tahap awal proses invasi, minimal baru pada tahap introduksi atau naturalisasi. Alasan dilakukan pemusnahan secara total suatu jenis eksotik dari ekosistem alami yang diinvasinya, karena memiliki risiko biaya yang tidak terlalu besar dan upaya yang dilakukan tidak terlalu banyak, baik perhitungan dari sumber daya manusia ataupun waktu. Opsi ini juga akan sangat relevan untuk jenis-jenis eksotik yang mempunyai potensi invasif yang tinggi, sehingga opsi pengelolaan secara eradikasi dapat meminimalisir risiko negatif dari suatu jenis eksotik yang diduga akan menjadi invasif.

  3. Bio control atau penggunaan agen pengendali hayati. Opsi ini dilakukan apabila ada suatu tumbuhan eksotik yang didatangkan ke Indonesia yang menjadi invasif yang berpotensi tidak terkendali pada habitat barunya saat ini, namun tumbuhan eksotik tersebut ternyata memiliki musuh alami di habitat alami/asalnya yang dapat berperan sebagai pengendali/penyeimbangnya. Proses bio control memiliki kelemahan, yaitu dalam tahapannya proses ini memerlukan waktu yang agak lama dan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, tidak bisa sembarangan mendatangkan organisme baru yang menjadi musuh alami dari tanaman eksotik yang menjadi invasif tersebut ke Indonesia. Hal ini dikarenakan tanaman ini juga merupakan suatu jenis eksotik, sehingga bila tidak terkendali akan memiliki potensi risiko yang dapat memberikan dampak negatif untuk ekosistem tumbuhan asli di Indonesia atau ekosistem lain yang terinvasi.

  4. Containment yaitu pengendalian populasi dari jenis-jenis tumbuhan eksotik yang telah menjadi invasif untuk tetap berada pada jumlah tertentu yang dianggap tidak akan memberikan dampak yang terlalu besar terhadap ekosistem maupun manusia secara umum dari segi dampak sosial atau ekonominya. Opsi ini dilakukan pada jenis-jenis eksotik yang sudah menjadi invasi atau sedikit lagi menjadi invasif, dengan alasan bila opsi do nothing, eradication, dan bio control bukan merupakan opsi yang relevan atau realistis untuk jenis dan kondisi yang ada.

Selain itu dilakukan pengelolaan IAS berdasarkan kegiatannya yaitu:

  1. Perlakuan fisik, termasuk didalamnya manual removal dan penggunaan alat ringan maupun berat. Perlakuan ini dapat dilakukan untuk opsi pengelolaan eradication dan containment.

  2. Perlakuan kimia, termasuk di dalamnya penggunaan herbisida sintetis maupun organik dan perlakuan kimiawi lainnya dengan tujuan eradication atau containment.

  3. Perlakuan biologis. Perlakuan ini menggunakan agen hayati/musuh alami dari jenis eksotik IAS yang dikelola dalam opsi kegiatan bio control.

(Fitri Kurniawati/Dwi Novia)