Konten dari Pengguna

Judi Online: Sekali Mencoba, Sulit Berhenti, Kenali Risikonya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Nurwiyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judi online dimulai dengan taruhan kecil yang muncul karena rasa penasaran dari melalui iklan, mendapatkan tawaran bonus, atau tergiur dengan tawaran dengan keuntungan yang besar secara instan. Jika terus dilakukan, kebiasaan tersebut dapat menguras keuangan dan berdampak pada keluarga, pekerjaan, hingga masa depan seseorang.

Dosen UTA'45 Jakarta Yudha Aditya Nugraha, S.T., M.T. tengah menyampaikan materi mengenai bahaya dan risiko judi online kepada warga. (sumber: Dokumentasi KKN UTA'45 Jakarta).
zoom-in-whitePerbesar
Dosen UTA'45 Jakarta Yudha Aditya Nugraha, S.T., M.T. tengah menyampaikan materi mengenai bahaya dan risiko judi online kepada warga. (sumber: Dokumentasi KKN UTA'45 Jakarta).

Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan Yudha Aditya Nugraha, S.T., M.T., Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, kepada warga RW 09 Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Sabtu, 5 September 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa KKN Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta Kelompok 8 Sore sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan kepada warga mengenai risiko dan bahaya judi online yang semakin mudah ditemukan di ruang digital.

Dalam penyampaiannya, Yudha Aditya Nugraha, S.T., M.T., menjelaskan bahwa salah satu hal yang membuat judi online berbahaya adalah kemudahan dalam mengaksesnya. Seseorang tidak harus datang ke tempat tertentu, karena aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan mudah melalui perangkat digital dan bisa mainkan kapan saja.

“Judi online lebih mudah diakses, bisa dilakukan di mana saja, termasuk di tempat kerja atau saat sedang makan,” jelas Yudha Aditya Nugraha, S.T., M.T.

Warga mengikuti kegiatan seminar edukasi mengenai bahaya dan risiko judi online. (sumber: Dokumentasi KKN UTA'45 Jakarta).

Warga juga diberikan pemahaman mengenai beberapa ciri yang perlu diwaspadai, seperti tawaran mendapatkan uang dengan cepat, bonus yang menggiurkan, ajakan untuk terus melakukan deposit, serta tautan mencurigakan. Judi online juga dapat dibuat menyerupai permainan biasa sehingga terkadang sulit untuk dikenali jika tidak diperhatikan dengan baik.

Selain itu, kemenangan dalam judi online dapat menimbulkan rasa senang yang berkaitan dengan pelepasan dopamin. Sensasi tersebut muncul sehingga membuat seseorang ingin bermain kembali dan terus mengejar kemenangan, bahkan ketika sebelumnya sudah mengalami kerugian.

Dampak yang ditimbulkan juga tidak hanya dirasakan oleh seorang pemain judi online. Dalam keluarga, judi online dapat menyebabkan berkurangnya uang untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan terkuras, hutang bertambah, hingga munculnya konflik dan hilangnya kepercayaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, aktivitas tersebut juga dapat mengganggu pekerjaan dan kegiatan sehari-hari sehingga menimbulkan ketergantungan.

Untuk menghindari hal tersebut, warga diajak menerapkan prinsip “Berhenti, Periksa, Baru Bertindak.” Yang mana, warga perlu memeriksa terlebih dahulu sumber informasi yang diterima dan tidak langsung percaya pada tawaran dengan keuntungan yang instan yang tidak masuk akal. Warga juga diingatkan untuk tidak memberikan PIN, kode OTP, maupun data pribadi kepada orang lain serta menghindari tautan yang mencurigakan.

Apabila terdapat anggota keluarga yang sudah terlibat dalam judi online, pendekatan sebaiknya dilakukan dengan cara tenang dan tidak langsung menghakimi. Keluarga dapat mengajaknya dengan berbicara, mendengarkan permasalahan yang dihadapi, dan mendorong untuk mencari bantuan ke pihak professional seperti psikolog maupun lembaga resmi seperti LBH (Lembaga Bantuan Hukum).

Melalui kegiatan seminar edukasi ini, warga diharapkan dapat lebih mengenali bentuk dan risiko judi online yang ada di ruang digital. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah tergiur oleh keuntungan yang instan, sehingga warga dapat lebih berhati-hati dalam menjaga keuangan, keluarga, serta masa depan.

Dosen dan mahasiswa UTA'45 Jakarta berfoto Bersama dalam kegiatan sebelum seminar. (sumber: Dokumentasi KKN UTA'45 Jakarta).