Konten dari Pengguna

Sejarah Perlawanan terhadap Penjajah Belanda di Kabupaten Jember

Axv

Axv

Graduated

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Axv tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tugu Pahlawan di Dusun Curah Buntu, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember. Foto adalah koleksi pribadi milik penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Tugu Pahlawan di Dusun Curah Buntu, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember. Foto adalah koleksi pribadi milik penulis.

Perjuangan rakyat Indonesia pada tahun 1945-1949, disebut sebagai revolusi. Istilah revolusi pada saat itu digunakan untuk melukiskan terobosan zaman serupa yang lebih baik dan penataan ulang kehidupan masyarakat oleh masyarakat itu sendiri ke arah yang secara umum dipandang lebih baik dari sebelumnya. Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerahkan diri kepada sekutu setelah diledakkannya kota Hiroshima dan Nagasaki. Hal ini menandakan pihak sekutu memenangkan Perang Dunia II.

Belanda yang sudah pergi dari Indonesia, dapat kembali ke Indonesia dikarenakan adanya perjanjian postdam yang membuat wilayah jajahan akan diambil alih oleh pihak yang memenangkan perang. Namun, Indonesia yang sedang mengalami kekosongan melakukan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang merupakan hari yang terpenting bagi Indonesia. Belanda yang mengetahui ini segera berangkat ke Indonesia dimana pihak Belanda sudah melakukan perjanjian dengan Inggris.

Perjanjian di Chequers menghasilkan kesepakatan bahwa panglima Inggris di Indonesia akan memegang kekuasaan atas nama pemerintahan Belanda, dan mengembalikan kepada kerajaan Belanda jika telah siap. Kembalinya Belanda di Indonesia diboncengi oleh NICA. Orang-orang NICA membebaskan dan mempersenjatai para KNIL yang sebelumnya dipenjara oleh pemerintahan dipenjara oleh pemerintahan militer Jepang pada masa pendudukannya. Para KNIL yang telah bebas kemudian membuat ulah dengan memancing kerusuhan di kota-kota dan daerah.

Tentu saja masyarakat Indonesia tidak tinggal diam dengan adanya perebutan kekuasaan tersebut. Belanda beserta sekutunya pergi ke setiap daerah untuk melakukan perebutan kekuasaan. Sehingga banyak perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia di antara tahun 1945-1949. Salah satu perlawanan daerah juga terjadi di Kabupaten Jember.

Perlawanan di Jember terjadi di beberapa desa salah satunya di Dusun Curah Buntu, Kecamatan Jenggawah. Pada tahun 1949, banyak tentara yang datang ke Jember atau singgah ke Jember untuk melarikan diri atau mencari tempat persembunyian dari pasukan Belanda dan sekutunya. Tentara yang bersembunyi ini adalah gerilyawan Brigade Damarwulan yang sedang dalam perjalanan dari Blitar menuju Desa Sucopangepok di lereng Gunung Argopuro. Tentara-tentara itu bersembunyi di wilayah Mumbulsari dan wilayah sekitarnya. Beberapa tentara pergi ke Dusun Curah Buntu untuk berlindung. Mereka bersembunyi di pemukiman penduduk- penduduk untuk mengelabui pihak Belanda dan sekutunya.

Namun, pihak Belanda sudah mendapatkan kabar bahwa banyak tentara yang singgah ke Jember untuk bersembunyi. Pada waktu itu, banyak pasukan Belanda yang ditugaskan untuk melakukan pencarian terhadap tentara yang dikabarkan bersembunyi. Selain itu, Belanda melakukan pemblokadean di beberapa tempat sehingga membuat tentara-tentara yang melarikan diri tidak dapat melarikan diri lagi. Seperti di daerah Ambulu dan Ajung.

Pasukan Belanda sampai pada Dusun Curah Buntu, mereka ingin melakukan penggeledahan rumah terhadap rumah para penduduk yang ada. Namun, para penduduk berpihak kepada para tentara dan menyembunyikan tentara di rumah mereka, sehingga para penduduk menolak untuk dilakukan penggeledahan terhadap rumahnya. Pihak Belanda memaksa dengan kekerasan para penduduk melakukan perlawanan terhadap para pasukan Belanda sehingga terjadi pertikaian kepada para penduduk di Dusun Curah Buntu yang menewaskan sekitar 27 orang. Dimana, 20 orang dikenal dan 7 orang lainnya tidak dikenal, 20 orang yang dikenal merupakan tentara Indonesia yang gugur dalam perlawanan tersebut.

Pahlawan yang tewas terbunuh di Dusun Curah Buntu ini setidaknya adalah sersan, kopral dan prada jika dilihat dari tulisan yang berada di salah satu sisi tugu pahlawan. Saat melakukan wawancara, narasumber mengatakan bahwa jasad-jasad yang gugur dikubur hanya dengan satu lubang kubur saja sehingga jasad-jasad itu dikubur secara massal dikarenakan pada waktu itu daerah tersebut dipantau oleh pihak tentara Belanda. Kejadian ini terjadi pada hari Senin tanggal 17 Februari 1949 seperti yang tertulis pada salah satu sisi tugu pahlawan. Waktu kejadian terjadi tepat pada pukul 12.00 dan pada hari Senin legi.

Dari perlawanan itu dibangunlah tugu pahlawan atau monumen pahlawan yang disimbolkan untuk pahlawan yang tewas di Dusun Curah Buntu yang melakukan perlawanan terhadap pihak Belanda. tugu pahlawan atau monumen pahlawan ini terletak di sekitar persawahan yang ada di dekat perbatasan antar Dusun Curah Buntu dengan Babatan. Tugu ini dibangun di atas gundukan bukit yang menjulang ke atas. Tugu pahlawan ini dibangun dengan adanya lambang bambu yang menjulang ke atas dan terdapat lambang dari setiap sila Pancasila. Dibangunnya tugu pahlawan atau monumen pahlawan sebagai penunjang tujuan dari pendidikan Sejarah Nasional. Dengan Monumen Perjuangan akan dapat diberikan visualisasi dan peristiwa-peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia, sesuai dengan konteks ruang dan waktu.

Sumber Referensi :

Tasnuri, Irvan dan M. R. Fadli. 2019. Republik Indonesia Serikat: Tinjauan Historis Hubungan Kausalitas Peristiwa-Peristiwa Pasca Kemerdekaan Terhadap Pembentukan Negara RIS (1945-1949). Jurnal Candrasangkala. 5(2): 58-67

Limah, Hurti., U. T. Cahyo., dan S. Andy. 2018. Poster dan Upaya Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Yogyakarta Tahun 1945-1949. Journal of Indonesian History. 7(1): 35-44

Kartomihardjo, Prayoga., P. Saptono., dan Soekarsono. 1986. Monumen Perjuangan Jawa Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Nawiyanto, S.A. Handayani, dan D. Salindri. 2018. Dari Kisah Hingga Monumen Sejarah: Palagan Jumerto Jember. Jember: Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Setiaji, N. C., dan M. Hanif. 2018. Kajian Makna Simbolis Patung dan Monumen di Kabupaten Ponorogo sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Lokal. Jurnal Agatsya. 8(1): 59-74