Gotong Royong di Tempat Nongkrong

Seorang pengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMP Negeri 1 Tambak, penikmat seni dan petualangan mengenal keberagaman
Konten dari Pengguna
1 Oktober 2022 19:56
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari R Dwi Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan ruang berinteraksi dengan manusia lainnya, untuk bertukar pemikiran, berdiskusi, berekspresi atau hanya sekedar meluangkan waktu luang dari rutinitas pekerjaan yang terkadang membuat penat dan membutuhkan teman curhat untuk sekedar mendengarkan problematika yang sedang dihadapi. Sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Aristoteles bahwa manusia memang dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama sebagai zoon politicon, salah satunya adalah interaksi yang terjadi di tempat nongkrong.
foto by : dokumentasi angkringan BUMDes Selanegara, Sumpiuh. (Penampilan AKSARAHMAT dalam acara Bhineka Tunggal Karya)
zoom-in-whitePerbesar
foto by : dokumentasi angkringan BUMDes Selanegara, Sumpiuh. (Penampilan AKSARAHMAT dalam acara Bhineka Tunggal Karya)
Bagi kaula muda, sarana asik untuk berinteraksi salah satunya adalah tempat nongkrong. Kafe atau angkringan tentu saja menjadi ruang interaksi popular pemuda zaman now untuk berbincang atau sekedar mendengarkan live musik. Tetapi masih ada pendapat yang menyatakan bahwa nongkrong sebagai suatu kegiatan yang membuang-buang waktu dan tidak produktif. Memang tidak salah jika masih ada yang berpendapat seperti itu, karena pada realitasnya tidak semua aktivitas nongkrong membuahkan hal-hal yang produktif dan banyak unfaedah-nya seperti menggosip teman yang tidak sefrekuensi dengan menjelek-jelekan dan berdampak pada pengucilan satu sama lain, parahnya akan menimbulkan perpecahan dikemudian hari.
ADVERTISEMENT
Dari hal unfaedah ditempat nongkrong itu dapat memberi sekat dalam usaha gotong royong yang seharusnya dipupuk ditengah keharusan pemuda saat ini untuk saling berkolaborasi satu sama lain untuk menciptakan ruang symbiosis mutualisme pada tiap relasi yang dibangun ditengah persaingan global antar negara. Dalam situasi throw away society, masyarakat memiliki ciri mudah membuang. Bukan hanya sekedar barang yang dibuang, tetapi kebiasaan ini bisa menyebar pada ranah lain seperti mulai dibuangnya nilai- nilai luhur bangsa yang sudah dibangun lama, salah satunya adalah nilai semangat gotong royong atau persatuan dalam kebhinekaan pada tingkat kolektif.
Melihat realitas yang terjadi, sudah sepatutnya kita mencoba merubah kebiasaan yang dianggap membuang-buang waktu menjadi kegiatan yang berpusat pada produktifitas kolektif dalam memupuk semangat gotong royong di tempat nongkrong. Kita harus menyadari bahwa dari tempat nongkrong, interaksi sosial bisa saling mempengaruhi kelakuan individu satu dengan lainnya, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Hal ini sejalan dengan definisi interaksi sosial yang dijelaskan oleh H.Bonner, yang menggambarkan kelangsungan timbal-balik dari interaksi sosial antara dua atau lebih manusia dalam suatu ruang.
ADVERTISEMENT
ada salah satu tempat nongkrong yang bisa kita jadikan prototipe masa depan pengembangan tempat nongkrong yang menumbuhkan semangat gotong royong untuk saling bahu membahu meningkatkan ekonomi kerakyatan adalah Angkringan BUMDes Selanegara, Kecamatan Sumpiuh,Kabupaten Banyumas yang dikekolah oleh Mas Wasis dan dibantu oleh pemuda-pemuda sekitar. melalui upaya kolektif, angkringan bermetamorfosa dari sekedar tempat nongkrong menjadi wadah untuk saling bergotong royong melalui event rutinan yang dibuat untuk mewadahi potensi pemuda desa dan membantu ekonomi mikro lainnya untuk tumbuh bersama.
Kegiatan kolektif kepemudaan di Angkringan BUMDes Selanegara, Kecamatan Sumpiuh. Foto by: Instagram Angkringan horor BUMDes Selanegara.
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan kolektif kepemudaan di Angkringan BUMDes Selanegara, Kecamatan Sumpiuh. Foto by: Instagram Angkringan horor BUMDes Selanegara.
Narasi positif dan usaha mendobrak stigma negative tentang budaya nongkrong dikalangan anak muda perlu di diasporakan di semua kalangan supaya kegiatan nongkrong bisa memberikan output positif bagi semua kalangan dan berdampak baik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai upaya kolektif generasi penerus dalam berkolaborasi menghadapi persaingan global yang mulai dirasakan sampai pada akar rumput kalangan pemuda pedesaan saat ini.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020