Ekonomi Indonesia Tumbuh, Mengapa Rakyat Masih Merasa Sulit Sejahtera?
Tulisan dari Dwi Yuliyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen pada 2025. Namun, mengapa sebagian masyarakat masih merasa kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari? Harga beras, minyak goreng, telur, dan biaya transportasi menjadi pengeluaran yang harus diperhitungkan oleh setiap keluarga.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang menunjukkan perkembangan perekonomian nasional. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi setiap rumah tangga. Pendapatan, daya beli, kesempatan kerja, dan harga kebutuhan pokok turut menentukan apakah masyarakat dapat merasakan manfaat pertumbuhan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.
Pertumbuhan Ekonomi Belum Tentu Menjamin Kesejahteraan
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada 2024 yang mencapai 5,03 persen.
Capaian tersebut menjadi perkembangan positif bagi perekonomian nasional. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis membuat seluruh masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan yang sama.
Pertumbuhan ekonomi menggambarkan perkembangan kegiatan ekonomi suatu negara. Sementara itu, kesejahteraan masyarakat juga berkaitan dengan pendapatan, kesempatan kerja, harga kebutuhan pokok, dan akses terhadap layanan dasar.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan dapat mengalami peningkatan penjualan dan keuntungan. Namun, apabila peningkatan tersebut tidak diikuti dengan bertambahnya kesempatan kerja atau meningkatnya pendapatan pekerja, manfaat pertumbuhan ekonomi belum tentu dirasakan secara merata.
Karena itu, keberhasilan ekonomi tidak cukup dinilai dari tingginya angka pertumbuhan. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah bagaimana perkembangan ekonomi dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Kenaikan Harga Memengaruhi Daya Beli Masyarakat
Salah satu persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah perubahan harga barang dan jasa. Ketika harga kebutuhan meningkat, sementara pendapatan tidak naik dalam jumlah yang sebanding, kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa dapat menurun.
Misalnya, seseorang memiliki penghasilan Rp3 juta per bulan. Penghasilan tersebut digunakan untuk membeli makanan, membayar listrik, membiayai transportasi, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.
Ketika pengeluaran meningkat, orang tersebut perlu mengatur kembali anggarannya. Ia mungkin mengurangi belanja di luar kebutuhan pokok, menunda membeli pakaian, atau menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut berkaitan dengan daya beli masyarakat, yaitu kemampuan seseorang untuk membeli barang dan jasa menggunakan pendapatan yang dimiliki.
Apabila pengeluaran meningkat lebih cepat daripada pendapatan, tekanan ekonomi rumah tangga dapat semakin besar. Bagi keluarga berpenghasilan terbatas, keadaan ini bahkan dapat memengaruhi anggaran pendidikan, kesehatan, dan tabungan.
Oleh karena itu, menjaga kestabilan harga perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi kehidupan sehari-hari.
Kemiskinan Masih Menjadi Tantangan
Selain pertumbuhan ekonomi dan daya beli, tingkat kemiskinan juga menjadi salah satu indikator untuk melihat kondisi kesejahteraan masyarakat.
BPS mencatat bahwa persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2025 mencapai 8,47 persen atau sekitar 23,85 juta orang. Angka tersebut menurun dibandingkan September 2024, ketika tingkat kemiskinan tercatat sebesar 8,57 persen.
Penurunan ini merupakan perkembangan yang baik. Namun, jumlah penduduk miskin yang masih mencapai jutaan orang menunjukkan bahwa upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat perlu terus dilakukan.
Kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan. Kondisi ini juga dapat berhubungan dengan terbatasnya akses terhadap pekerjaan yang layak, pendidikan, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Karena itu, keberhasilan pembangunan ekonomi perlu dilihat dari berbagai indikator secara bersamaan. Pertumbuhan ekonomi yang positif perlu disertai upaya mengurangi kemiskinan dan memperluas kesempatan masyarakat untuk memperbaiki kehidupannya.
Lapangan Kerja dan Pendapatan Menentukan Kesejahteraan
Kesempatan kerja menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi yang baik idealnya mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh penghasilan yang layak.
Namun, mendapatkan pekerjaan saja belum tentu cukup. Kualitas pekerjaan juga perlu diperhatikan, termasuk tingkat pendapatan, kepastian kerja, dan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan.
Bagi pekerja berpenghasilan terbatas, meningkatnya biaya hidup dapat membuat kemampuan menabung semakin kecil. Sementara itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dapat menghadapi tekanan ketika biaya bahan baku, sewa tempat, dan distribusi meningkat.
Ketika biaya produksi bertambah, pelaku usaha mungkin perlu menyesuaikan harga jual. Jika harga barang meningkat sementara pendapatan konsumen tetap, kemampuan konsumen untuk membeli produk tersebut dapat ikut terpengaruh.
Keadaan ini menunjukkan bahwa pekerja, konsumen, dan pelaku usaha saling berkaitan dalam kegiatan ekonomi. Karena itu, pembangunan ekonomi perlu memperhatikan kebutuhan berbagai kelompok agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan secara lebih luas.
Langkah yang Diperlukan untuk Meningkatkan Kesejahteraan
Peningkatan kesejahteraan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pertumbuhan ekonomi perlu disertai kebijakan yang membantu masyarakat memperoleh pekerjaan, memenuhi kebutuhan dasar, dan mengembangkan usaha.
Pertama, pemerintah perlu menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok. Distribusi barang yang lancar, infrastruktur yang memadai, dan pengawasan terhadap pasokan dapat membantu mengurangi hambatan yang berpotensi memengaruhi harga.
Kedua, penciptaan lapangan kerja perlu menjadi perhatian. Kesempatan kerja yang lebih luas dapat membantu masyarakat memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Ketiga, UMKM perlu mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya. Pelatihan usaha, kemudahan akses pembiayaan, pemanfaatan teknologi digital, dan perluasan akses pasar dapat membantu pelaku usaha mengembangkan kegiatan ekonominya.
Keempat, pembangunan ekonomi perlu memberikan kesempatan yang lebih merata bagi berbagai daerah. Dukungan terhadap sektor pertanian, perikanan, pariwisata, dan industri lokal dapat membuka peluang ekonomi sesuai dengan potensi masing-masing wilayah.
Selain itu, keberhasilan kebijakan ekonomi perlu dinilai berdasarkan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tetap penting, tetapi tingkat kemiskinan, kualitas pekerjaan, ketimpangan pendapatan, dan daya beli rumah tangga juga perlu diperhatikan.
Mengatur Keuangan Penting, tetapi Bukan Satu-satunya Solusi
Di tengah tantangan ekonomi, masyarakat dapat mengambil langkah untuk menjaga kondisi keuangan rumah tangga. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah menyusun anggaran bulanan, mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyiapkan dana darurat sesuai kemampuan.
Masyarakat juga dapat meningkatkan keterampilan untuk memperluas kesempatan kerja atau mengembangkan usaha secara bertahap. Bagi pelaku UMKM, pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan produk kepada lebih banyak konsumen.
Namun, kemampuan mengatur keuangan memiliki batas. Ketika pendapatan sangat terbatas dan sebagian besar penghasilan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, berhemat saja belum tentu cukup untuk mengatasi tekanan ekonomi.
Karena itu, peningkatan kesejahteraan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada individu. Kesempatan kerja yang layak, akses pendidikan, layanan kesehatan, serta kebijakan publik yang mendukung masyarakat tetap diperlukan.
Pertumbuhan Ekonomi Harus Dirasakan Masyarakat
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11 persen pada 2025 menunjukkan perkembangan positif bagi perekonomian nasional. Di sisi lain, data kemiskinan memperlihatkan bahwa peningkatan kesejahteraan masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.
Kedua hal tersebut menunjukkan pentingnya melihat perekonomian dari berbagai sisi. Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator penting, tetapi dampaknya terhadap kehidupan masyarakat juga tidak boleh diabaikan.
Keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi angka pertumbuhan yang dicapai. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah apakah masyarakat memiliki pekerjaan yang layak, apakah penghasilan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan apakah mereka mempunyai kesempatan untuk memperbaiki masa depan.
Pada akhirnya, ekonomi yang kuat bukan hanya ekonomi yang mencatat pertumbuhan tinggi. Ekonomi yang kuat juga harus mampu memperluas kesempatan kerja, menjaga daya beli, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Bagi masyarakat, keberhasilan ekonomi bukan sekadar angka yang diumumkan setiap tahun. Keberhasilan itu juga terasa ketika penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, biaya pendidikan dapat dibayar, kebutuhan kesehatan terpenuhi, dan masih ada kesempatan untuk menabung demi masa depan.
Sumber Referensi
Badan Pusat Statistik. (5 Februari 2026). Ekonomi Indonesia Tahun 2025 Tumbuh 5,11 Persen. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/05/2546/indonesia-s-economic-growth-in-2025-was-5-11-percent.html
Badan Pusat Statistik. (25 Juli 2025). Persentase Penduduk Miskin Maret 2025 Turun Menjadi 8,47 Persen. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/07/25/2518/persentase-penduduk-miskin-maret-2025

