Buah Pala Maluku Manfaat Terbesarnya Justru Ada di Bagian yang Dibuang

Mahasiswa Progaram Studi Farmasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dwiana Puspa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Myristica fragrans Houtt adalah nama ilmiah pohon pala yang berasal dari Indonesia dan kini dibudidayakan di berbagai penjuru dunia tropis. Buahnya terdiri dari tiga bagian utama. Paling dalam ada biji cokelat gelap yang dikenal sebagai nutmeg atau pala. Di sekelilingnya ada selaput merah jaring bernama fuli atau mace. Dan yang paling luar adalah daging buah tebal berwarna kuning kehijauan yang dalam bahasa ilmiah disebut perikarp.
Selama ini yang diperdagangkan dan dimanfaatkan adalah biji dan fuli. Perikarp hampir selalu dibuang. Padahal perikarp buah pala merupakan produk sampingan yang hampir 85% dari berat buah. Selama ini dibuang atau kurang dimanfaatkan, padahal daging kulit ini kini diakui sebagai sumber kaya nutrisi dan senyawa bioaktif. nih
Lebih Sedikit Racun, Lebih Banyak Manfaat
Inilah temuan yang paling mengejutkan dari riset terbaru. Selama ini biji pala dikenal mengandung myristicin dan safrole dalam kadar cukup tinggi. Dua senyawa ini bersifat toksik jika dikonsumsi berlebihan dan bisa memicu halusinasi bahkan keracunan serius.
Profil fitokimia perikarp berbeda dari biji dan fuli, dengan kadar senyawa toksik seperti myristicin dan safrole yang lebih rendah, dan konsentrasi alkohol monoterpena bermanfaat seperti terpinen-4-ol yang lebih tinggi.
Artinya, bagian yang selama ini dibuang justru lebih aman untuk dikonsumsi dibandingkan biji yang selama berabad-abad diperebutkan. Dan bukan hanya lebih aman, tapi juga kaya manfaat yang tidak kalah dari bijinya.
Kandungan Bioaktif yang Membuat Peneliti Tertarik
Perikarp mengandung serat pangan, pektin, vitamin C, dan mineral esensial. Selain itu mengandung fenolik non-volatil berharga seperti lignan, flavonoid, dan tanin yang dikaitkan dengan aktivitas antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi dalam studi in vitro dan in vivo.
Penelitian dari Aceh yang dipublikasikan dalam Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024 secara khusus menguji aktivitas antioksidan ekstrak etanol daging buah pala dari wilayah Indonesia dan hasilnya mengkonfirmasi potensi yang sudah lama diduga oleh masyarakat lokal secara empiris.
Senyawa bioaktif dalam perikarp M. fragrans terbukti membatasi produksi enzim siklooksigenase COX-2 dan COX-1, serta menghambat peroksidasi lipid. Dua mekanisme ini sangat penting karena COX-2 adalah enzim yang terlibat dalam proses peradangan kronis dan menjadi target utama berbagai obat antiinflamasi modern.
Potensi Melawan Kanker, Bakteri dan Penuaan
Riset terbaru 2025 yang diterbitkan dalam jurnal Food Science and Nutrition merangkum potensi farmakologis pala secara menyeluruh. Fitokimia pala terbukti memberikan perlindungan dari kerusakan akibat stres oksidatif. Ini sangat relevan mengingat peran stres oksidatif dalam perkembangan penyakit kronis termasuk kanker, gangguan kardiovaskular, diabetes, dan penyakit neurodegeneratif.
Pala juga diyakini menghambat mediator proinflamasi seperti TNF-a, IL-6, dan COX-2, sehingga memengaruhi aktivitas sistem imun. Terhadap bakteri gram positif, jamur, dan patogen bawaan makanan, pala juga menunjukkan sifat antibiotik yang signifikan.
Seluruh potensi ini bukan hanya milik bijinya. Senyawa bioaktif yang sama dan bahkan dalam profil yang lebih aman ditemukan pula dalam perikarp yang selama ini menumpuk sebagai limbah di kebun-kebun pala Maluku.
Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai Tinggi
Di Maluku, daging buah pala sebenarnya sudah lama diolah secara tradisional menjadi manisan, sirup, dan selai. Tapi nilainya belum pernah diakui secara ilmiah sampai penelitian modern mulai membongkar kandungannya.
Makalah ilmiah terbaru mengompilasi temuan terkini untuk menonjolkan potensi perikarp pala sebagai bahan pangan fungsional. Ini adalah pergeseran paradigma yang besar. Dari sekadar limbah kebun menjadi kandidat bahan baku industri pangan fungsional dan farmasi.
Bayangkan potensi ekonominya bagi petani pala di Banda, Tidore, dan seluruh Maluku. Bagian buah yang selama ini hanya dikompos atau dibiarkan membusuk di ladang bisa menjadi sumber pendapatan baru yang justru nilainya melampaui biji yang selama ini menjadi fokus utama.
Yang Perlu Diingat soal Pala dan Keamanannya
Satu hal yang tidak boleh dilewatkan. Meski perikarp lebih aman dari biji, bukan berarti pala bisa dikonsumsi tanpa batas. Biji pala dalam dosis tinggi tetap berbahaya dan pernah dilaporkan menyebabkan keracunan serius. Konsumsi dalam bentuk bumbu masak dalam jumlah wajar adalah cara paling aman untuk mendapatkan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
