Dari Layar Ponsel ke Rasa Penasaran: Siapa yang Membiayai Ogoh-Ogoh?

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dwiansyah Oktafian Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertama kali saya melihat tradisi pawai Ogoh-Ogoh. Bukan di ruang kelas, bukan pula saat berkunjung ke Bali, melainkan ketika saya sedang menggulir layar ponsel dan menonton video di media sosial. Potongan video yang lewat begitu saja di beranda media sosial menampilkan patung raksasa berwajah garang, dicat mencolok, diarak beramai-ramai pada malam hari. Suasananya sangat meriah. Orang-orang berkerumun di sepanjang jalan, lampu-lampu menyala, dan terdengar sorakan yang terasa menular meski hanya ditonton beberapa detik.
Dari situ saya memahami bahwa arak-arakan itu berkaitan dengan tradisi masyarakat Bali menjelang Hari Raya Nyepi. Saya mengenal sebutannya, ogoh-ogoh, tetapi pengenalan saya saat itu masih sangat permukaan. Saya hanya merasa kagum, lalu melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Namun, semakin sering melihat tayangan serupa, perhatian saya tidak lagi berhenti pada bentuknya yang unik. Muncul pertanyaan lain yang justru terasa lebih mengganggu pikiran. Jika patung sebesar dan sedetail itu dibuat setiap tahun, tentu ada biaya yang tidak kecil di baliknya. Lalu, dari mana biaya itu berasal dan siapa yang menanggungnya?
Sebagai mahasiswa yang sering menghitung pengeluaran harian, pikiran saya langsung tertuju pada harga bahan-bahan yang kemungkinan digunakan. Rangka bambu, lapisan pembentuk tubuh, cat berwarna-warni, kain, perekat, dan ornamen yang rumit. Jika ada bagian yang bisa bergerak, tentu diperlukan tambahan alat mekanis. Semua itu membuat saya menyadari bahwa ogoh-ogoh bukanlah karya yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
Rasa ingin tahu itu membuat saya ingin membaca beberapa liputan media. Dalam pemberitaan Detik Bali, disebutkan bahwa biaya pembuatan satu ogoh-ogoh bahkan bisa mencapai sekitar Rp100 juta ketika desainnya kompleks dan dilengkapi bagian yang dapat bergerak menggunakan mesin. Dana tersebut mencakup pembelian bahan, peralatan, konsumsi selama proses pengerjaan, hingga kebutuhan teknis saat arak-arakan berlangsung.
Angka itu terasa cukup besar. Awalnya saya sempat heran bagaimana sebuah karya yang hanya tampil sesaat dalam arak-arakan bisa menghabiskan biaya sebesar itu. Namun ketika saya membaca laporan yang sama dari Detik Bali, saya menemukan bahwa tidak semua ogoh-ogoh dibuat dengan biaya setinggi itu. Banyak juga yang biaya pembuatannya berada di kisaran Rp40 juta hingga Rp80 juta, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan desainnya.
Dari situ perhatian saya beralih pada pertanyaan berikutnya. Ketika saya tahu biayanya bisa mencapai puluhan juta rupiah, saya sempat bertanya-tanya siapa yang menanggungnya. Berdasarkan laporan DetikBali, biaya pembuatan ogoh‑ogoh biasanya ditanggung melalui kas sekaa teruna (organisasi pemuda adat di Bali), serta sumbangan dari desa adat dan warga sekitar, yang kemudian memungkinkan kelompok pemuda adat untuk mewujudkan ogoh‑ogoh yang besar dan rumit.
Membayangkan proses pengumpulan dana itu membuat saya memikirkan suasana di balik layar yang tidak pernah terlihat di media sosial. Saya membayangkan adanya pertemuan warga, pembagian tugas, dan kesediaan banyak orang untuk terlibat sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang mungkin menyumbang uang, ada pula yang menyumbang tenaga dan waktu.
Pemikiran itu perlahan mengubah cara pandang saya. Ogoh-ogoh yang selama ini saya lihat sebagai tontonan visual ternyata merupakan hasil dari proses sosial yang panjang. Ia tidak sekadar berdiri karena kreativitas satu dua orang, tetapi karena keterlibatan banyak pihak yang bekerja bersama.
Dalam suatu laporan Detik Bali tentang pembuatan ogoh‑ogoh, dijelaskan bahwa para pemuda bekerja bergotong-royong sejak beberapa minggu hingga berbulan-bulan sebelum perayaan, kadang hingga larut malam setelah aktivitas sehari-hari mereka selesai. Kebersamaan dan kerja keras dalam proses ini dianggap sama berharganya dengan hasil akhir ogoh‑ogoh itu sendiri.
Saya pun mulai menyadari bahwa nilai terbesar dari ogoh-ogoh mungkin tidak terletak pada bahan yang digunakan, melainkan pada waktu, tenaga, dan rasa kebersamaan yang tercipta selama proses pembuatannya. Puluhan juta rupiah yang dikeluarkan terasa lebih masuk akal ketika dilihat sebagai hasil dari kerja kolektif, bukan semata-mata pengeluaran untuk sebuah patung.
Kini setiap kali melihat ogoh-ogoh lewat di media sosial, perhatian saya tidak lagi hanya tertuju pada bentuknya yang megah. Saya justru membayangkan orang-orang yang terlibat di baliknya, malam-malam panjang yang mereka lewati bersama, serta semangat untuk menjaga tradisi tetap hidup.
Dari pengalaman sederhana melihat media sosial, saya akhirnya memahami bahwa ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni yang viral. Ogoh-Ogoh adalah cerminan dari gotong royong yang nyata, dari rasa memiliki terhadap tradisi, dan dari komitmen sebuah komunitas untuk merawat warisan budaya mereka.
Rasa penasaran tentang biaya yang awalnya tampak sepele justru membuka pemahaman baru bagi saya. Saya belajar bahwa di balik sesuatu yang terlihat megah, sering kali terdapat cerita tentang kebersamaan yang jauh lebih berharga daripada yang terlihat di permukaan.
