Live Streaming Jadi Etalase Baru, TikTok Shop Raup 80% Penjualan dari Fitur Ini

Saya Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Manajemen S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Manajemen Digital Marketing.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dwika Syahputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena belanja melalui siaran langsung atau live shopping kini menjadi salah satu tren dominan dalam ekosistem perdagangan digital di Indonesia. Fitur live streaming yang awalnya identik dengan hiburan dan interaksi sosial, kini berubah fungsi menjadi etalase virtual yang mendorong transaksi jual-beli secara instan di berbagai platform, mulai dari TikTok, Instagram, hingga marketplace seperti Shopee dan Tokopedia.
Live Streaming, Dari Hiburan Menjadi Etalase Belanja
Berdasarkan laporan TMO Group bertajuk Southeast Asia E-Commerce Outlook 2024, sebanyak 80 persen penjualan di TikTok Shop Indonesia dilakukan melalui fitur siaran langsung. Nilai transaksi ByteDance selaku perusahaan induk TikTok di Asia Tenggara tercatat mencapai 1,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp27,3 triliun dalam satu bulan.
Indonesia bersama Thailand tercatat sebagai pasar dengan kontribusi terbesar terhadap transaksi TikTok Shop di kawasan Asia Tenggara, masing-masing menyumbang 26 persen dan 28 persen dari total penjualan. Seller Education Shop Tokopedia, Shavira Artham, mengungkapkan bahwa masyarakat cenderung lebih menyukai metode belanja yang memungkinkan mereka melihat produk secara langsung sekaligus berdiskusi dengan penjual secara real-time. Dari sisi kategori produk, pakaian wanita dan pakaian dalam menjadi kategori dengan jumlah toko terbanyak di TikTok Shop, disusul oleh kecantikan dan perawatan diri, perlengkapan rumah, pakaian pria, aksesori, hingga pakaian muslim.
Persaingan Ketat Antarplatform
Tren ini tidak hanya terjadi di TikTok. Data tingkat kesadaran pengguna terhadap fitur live streaming di berbagai platform marketplace menunjukkan Shopee Live berada di posisi tertinggi dengan tingkat awareness mencapai 96 persen, disusul TikTok Live di angka 87 persen, kemudian Lazada Live sebesar 71 persen, dan Tokopedia Play di angka 62 persen.
Persaingan ini menunjukkan bahwa tren live streaming shopping yang semakin populer membuktikan TikTok sebagai platform social commerce mampu bersaing dengan pemain e-commerce yang lebih dahulu hadir, meski TikTok Live baru diperkenalkan pada 2021 dan harus bersaing ketat dengan fitur serupa milik kompetitor.
Mengapa Konsumen Mudah Tergoda?
Studi yang dihimpun dari kalangan akademisi turut menyoroti alasan di balik masifnya fenomena ini. TikTok Live Shopping di Indonesia berkembang pesat seiring tingginya popularitas platform tersebut di kalangan Generasi Z dan milenial, dengan 41 persen dari kelompok usia ini tercatat melakukan pembelian impulsif di media sosial setiap dua hingga tiga minggu sekali.
Pengalaman berbelanja yang interaktif dan menghibur melalui live streaming memungkinkan pengguna menonton produk yang dipromosikan secara langsung sekaligus melakukan pembelian dengan mudah lewat tautan yang tersedia di dalam video. Faktor pendukung lain yang membuat metode ini efektif adalah tingginya interaksi antara host dan penonton, serta kepercayaan yang diberikan pada influencer atau selebgram yang mempromosikan produk secara real-time. Perpaduan antara hiburan dan aktivitas belanja inilah yang membuat live commerce dinilai lebih menarik dibandingkan platform e-commerce konvensional.
Strategi "Urgensi" di Balik Layar
Di balik kesuksesan tren ini, terdapat sejumlah strategi pemasaran yang secara sengaja dirancang untuk mendorong keputusan pembelian secara cepat. Sejumlah fitur yang umum digunakan penjual dalam sesi live streaming antara lain tautan produk yang bisa langsung diklik saat siaran berlangsung, diskon dengan batas waktu tertentu untuk memicu rasa urgensi, hingga sesi tanya-jawab langsung antara host dan penonton yang membangun kedekatan emosional dengan calon pembeli.
Kombinasi antara hiburan, interaksi personal, dan tekanan waktu inilah yang oleh sejumlah pengamat dinilai efektif mendorong konsumen mengambil keputusan membeli secara lebih cepat dibandingkan berbelanja melalui katalog statis.
Catatan bagi Konsumen
Di tengah pesatnya pertumbuhan tren ini, sejumlah pihak mengingatkan pentingnya kehati-hatian bagi konsumen. Kemudahan bertransaksi dalam hitungan detik saat live streaming berlangsung berpotensi mendorong pembelian impulsif tanpa pertimbangan matang, terutama bila didorong oleh suasana yang penuh urgensi dan interaksi sosial yang intens.
Konsumen disarankan untuk tetap membiasakan diri menyusun kebutuhan belanja terlebih dahulu, memberi jeda waktu sebelum memutuskan pembelian saat sesi live berlangsung, serta membatasi anggaran belanja bulanan agar tren live shopping tidak berujung pada pemborosan finansial.
