5 Fase Berduka yang Tergambar dalam Film Sore: Istri dari Masa Depan

Dwitisya Rizky adalah seorang content writer dan fotografer yang aktif menulis isu budaya dan kota. Lulusan Fakultas Perikanan ini juga terlibat dalam berbagai proyek komunitas di Bekasi, termasuk pelestarian budaya @kasepuhankranggan @bangunkota.id
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dwitisya Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Sore: Istri dari Masa Depan bukan hanya tentang cinta lintas waktu, tapi juga tentang proses berduka yang pelan-pelan dijalani oleh tokoh utamanya, Sore (Sheila Dara). Bukan duka karena sudah kehilangan, tapi karena tahu kehilangan itu akan datang. Inilah fase berduka yang diperlihatkan dengan lembut namun menyayat dalam film ini:
1. Penolakan (Denial): Saat cinta terlalu indah untuk dipisahkan
Sore tahu Jonathan akan meninggal delapan tahun kemudian. Tapi ia tetap memilih hadir di hidupnya. Di tahap ini, penolakan muncul bukan dalam bentuk penyangkalan realita, tapi dengan memeluk harapan bahwa cinta bisa mengalahkan waktu. Ia menikmati setiap momen, seakan tak ada yang akan hilang.
2. Kemarahan (Anger): Marah terhadap waktu, takdir dan ketidakadilan
Ada kegelisahan yang tak diucap. Sore menyimpan amarah dalam diam—pada waktu yang tak memberi ruang lebih lama, pada kenyataan yang sudah ditulis. Marah karena tahu cintanya akan berakhir, namun tak bisa berbuat apa-apa. Film menggambarkan ini lewat perubahan mood, ekspresi Sore yang kadang penuh beban, dan cara dia menjaga jarak emosional dari Jonathan.
3. Tawar Menawar (Bargaining): Andai waktu bisa diulang
Di fase ini, kita bisa merasakan bagaimana Sore seakan ingin bernegosiasi dengan semesta. Ia memberi isyarat, mencoba mengubah sedikit demi sedikit masa kini, seolah berharap masa depan bisa diubah. Tapi seperti semua proses berduka, kita tahu, tawar-menawar ini hanya memperpanjang rasa sakit.
4. Depresi (Depression): Saat diam lebih nyaring dari tangisan
Kesedihan Sore tak ditunjukkan dengan air mata, tapi dengan ketenangan yang menyesakkan. Ia menyimpan segalanya sendiri. Tatapan kosong, senyuman yang dipaksakan, dan keraguan saat mengambil keputusan bersama Jonathan menunjukkan betapa hancurnya dia di dalam. Fase ini sangat terasa di pertengahan hingga menjelang akhir film.
5. Penerimaan (Acceptance): Aku Sore, istri kamu selamanya
Fase ini adalah klimaks emosional film. Bukan ketika Sore mencegah kematian Jonathan, tapi saat ia memperkenalkan dirinya dengan utuh:
"Aku Sore. Istrimu. Dari masa depan."
Itu bukan sekadar pengakuan waktu, tapi penanda bahwa dia telah ikhlas. Ia menerima bahwa kehilangan itu nyata, tapi cintanya tidak perlu ikut hilang. Ia memilih mencintai dengan penuh kesadaran akan perpisahan. Dan di sanalah, duka berakhir menjadi bentuk cinta paling dewasa.
