Konten dari Pengguna

Mengenal Gaya Rumah Adat Kranggan di Jatisampurna Kota Bekasi

Dwitisya Rizky

Dwitisya Rizky

Dwitisya Rizky adalah seorang content writer dan fotografer yang aktif menulis isu budaya dan kota. Lulusan Fakultas Perikanan ini juga terlibat dalam berbagai proyek komunitas di Bekasi, termasuk pelestarian budaya @kasepuhankranggan @bangunkota.id

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwitisya Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rumah Adat Kranggan (dok. Dwitisya RIzky)
zoom-in-whitePerbesar
Rumah Adat Kranggan (dok. Dwitisya RIzky)

Rumah Adat Kranggan yang masih bisa ditemui di wilayah Jatisampurna, Kota Bekasi, menyimpan nilai-nilai arsitektur tradisional yang sangat berharga. Salah satu rumah tetua adat Kranggan yang sudah berusia ratusan tahun pun telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi. Di tengah kota yang terus tumbuh dengan perumahan modern, bangunan ini menjadi simbol kebudayaan yang otentik dari Kasepuhan Kranggan yang diharapkan makin bertambah keberadaannya agar terus lestari. Yuk kita lebih mengenal tentang Rumah Adat Kranggan.

Rumah Panggung

Rumah Adat Kranggan (dok. Dwitisya Rizky)

Rumah Adat Kranggan memiliki ciri khas berbentuk rumah panggung setengah yaitu tidak terlalu tinggi seperti rumah panggung di daerah Sumatera. Pada bagian depan rumah biasanya terdapat bale di atas kolong setinggi 75cm yang menyatu dengan dinding rumah.

Ukiran pada Pintu dan Jendela

Rumah Adat Kranggan (dok. Dwitisya Rizky)

Hal menarik dari Rumah Adat Kranggan adalah beberapa pintu utama di Rumah Adat Kranggan memiliki detail ukiran dengan motif yang beragam seperti bunga dan hewan. Di bagian atas pintu juga terdapat hiasan ukir yang menambah aksen unik pada pintu.

Dinding Kayu

Rumah Adat Kranggan (dok. Dwitisya Rizky)

Ciri khas dinding depan Rumah Adat Kranggan umumnya terbuat dari papan kayu nangka. Material lainnya yang sering digunakan adalah bambu untuk bagian lantai ataupun dinding area luar.

Paseban

Rumah Adat Kranggan (dok. Dwitisya Rizky)

Secara tata ruang, Rumah Adat Kranggan memiliki ciri khas memiliki tiga unsur ruang. Paseban, tengah imah (bangunan utama), dan pawon (dapur) yang masing-masing memiliki peruntukan dan kegunaannya. Paseban, merupakan unsur ruang pertama yang terletak di area luar bangunan rumah, namun dinaungi atap genteng tanah liat. Ruang semi indoor ini berfungsi sebagai pendopo untuk menerima tamu, musyawarah, hingga pelaksanaan kegiatan adat.

Tengah Imah

Rumah Adat Kranggan (dok. Dwitisya Rizky)

Tengah imah adalah unsur ruang kedua dari Rumah Adat Kranggan. Area yang berada di dalam rumah ini tidak memiliki banyak sekat sehingga terasa lapang dan hanya memiliki beberapa ruang seperti ruang keluarga, ruang menyimpan beras dan ruang menyimpang benda pusaka.

Pawon

Rumah Adat Kranggan (dok. Dwitisya Rizky)

Pawon atau dapur terletak di bagian belakang rumah sekaligus menjadi area kamar mandi. Pawon memiliki fungsi seperti dapur masak pada umumnya. Hanya saja, pawon di Rumah Adat Kranggan memiliki area lebih luas dari dapur pada rumah biasanya untuk menyimpan berbagai peralatan dan perlengkapan dapur. Selain itu, pawon yang luas juga memudahkan para ibu yang bergotong royong memasak untuk keperluan acara adat atau lainnya.

Rumah Adat Kranggan adalah contoh arsitektur yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga berfungsi maksimal dan menyatu dengan nilai budaya. Sederhana, tapi kuat. Tradisional, tapi relevan. Di era pembangunan masif, rumah ini memberi pelajaran penting: bahwa arsitektur bukan sekadar bentuk, melainkan perwujudan nilai hidup yang bisa bertahan melewati zaman.