Konten dari Pengguna

Konstruktivisme dalam Pembelajaran dan Tantangan di Era Generasi Z

Dyah Ambarwati

Dyah Ambarwati

Mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSRI

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dyah Ambarwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dyah Ambarwati, S.K.M., M.K.M. (Dosen Kesehatan Masyarakat UNSRI)

Transformasi menjadi katalisator bagi metode belajar yang efektif dan teori belajar yang tepat untuk dapat melahirkan konsruktivisme

Ilustrasi: Suasana Belajar dengan pendekatan konstruktivisme (Sumber : Canva.com)

Bagi yang suka film action fiksi, mungkin tidak asing dengan film Transformers. Film box office garapan Amerika Serikat yang dirilis di tahun 2017 itu, kini sudah memiliki tujuh sekuel. Judul film ini dinamai transformers, karena menceritakan kisah heroik robot-robot humanoid yang memiliki kemampuan untuk merubah bentuk mereka sendiri menjadi bentuk lain, seperti kendaraan, objek statis, bahkan hewan. Perubahan bentuk itu disebut dengan transformasi. Sedangkan sesuatu yang memiliki kemampuan untuk bertransformasi disebut dengan transformers.

Selain robot-robot humanoid itu, ada profesi di dunia pendidikan yang dituntut untuk menjadi seperti transformers, yaitu dosen. Dosen, berdasarkan permendikbudristek Nomor 44 Tahun 2024, adalah seorang pendidik profesional dengan tugas utama untuk mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Jika transformers mengubah dirinya sendiri, maka dosen tidak hanya mengubah dirinya, namun juga harus mampu mengubah objeknya.

Dosa Besar (Sebahagian) Dosen Muda

Secara bahasa, konstruktivisme berasal dari akar kata konstruktif yang memiliki arti memperbaiki, membangun, atau membina. Merujuk pada ilmu psikologi, konstrukif bermakna membangun ide baru. Proses pembelajaran dikatakan konstruktif apabila seseorang mampu untuk membangun pengetahuannya sendiri dan mampu memberi makna terhadap hal yang sedang dipelajari. Terdapat empat ciri khas utama konstruktivisme dalam pembelajaran, yaitu (1) active learning; (2) learning by doing; (3) scaffolded learning; dan (4) collaborative learning. Oleh karenanya, konstruktivisme menekankan pembelajaran yang berpusat kepada mahasiswa.

Disinilah tugas dosen sebagai tranformers dimulai. Dosen harus menjadi fasilitator yang dapat mengubah dirinya sendiri untuk mampu mengarahkan, menciptakan lingkungan yang positif dan kondusif, mendorong kemandirian, dan menjadi stimulus bagi mahasiswa untuk dapat berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Dosen tidak lagi menjadi pusat yang mengambil peran dominan dalam proses pembelajaran. Karena pembelajaran yang menjadikan dosen lebih aktif dan mendominasi sering disebut dengan pembelajaran tradisional.

Dosen transformers akan berupaya untuk menyediakan metode belajar yang efektif. Metode belajar ini, bisa dalam bentuk case based learning dan project based learning. Kedua metode belajar tersebut dapat bersinergi dengan menggunakan teori belajar humanistik, kognitivisme, ataupun sibernetik. Disebut teori belajar humanistik karena menekankan pada aspek perkembangan diri. Maksudnya bahwa setiap individu itu unik dengan potensi yang luar biasa. Oleh sebab itu, dosen transformers harus mampu ‘membaca potensi’ setiap mahasiswanya. Teori ini mampu menumbuhkan suasana belajar yang kreatif dan inovatif. Sedangkan teori belajar kognitivisme menitikberatkan pada keseluruhan proses perkembangan mahasiswa yaitu terkait proses berpikir, mengingat, menyimpan, dan menemukan makna.Kemudian sibernetik berkaitan dengan bagiamana mahasiswa mampu memproses sebuah informasi sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, selayaknya teknologi.

Transformasi menjadi katalisator bagi metode belajar yang efektif dan teori belajar yang tepat untuk dapat melahirkan konsruktivisme. Sebagai ilustrasi, seorang dosen memberikan apel kepada mahasiswa. Dosen tidak memberikan instruksi secara langsung bagaimana mengolah apel tersebut dan harus menjadikannya dalam bentuk apa. Dosen hanya mengatakan bahwa, “Saya tidak ingin makan buah apel, tapi saya lapar”. Lalu, proses pembelajaran yang konstruktivimse dengan teori belajar yang sesuai mampu menstimulus mahasiswa untuk menjadikan apel tersebut dalam bentuk yang beragam, seperti misalnya apple pie, cuka apel, jus apel, bahkan keripik apel. Variasi makanan ini tercipta karena potensi mahasiswa yang unik sesuai dengan minat dan bakatnya. Proses berubahnya apel menjadi apple pie (misalnya) terjadi oleh karena proses berpikir dari pengalaman dan pengetahuan yang telah dimilikinya. Tentu saja perubahan yang terjadi dapat dilakukan oleh tools dan equipment yang memadai, seperti penggunaan teknologi.

Kesalahan yang sering menjebak (sebahagian) dosen muda adalah dosen tidak melakukan tugas utamanya untuk melakukan transformasi, melainkan hanya sekedar aktivitas ‘transfer informasi’ yang saat ini sangat dengan mudah diakses dimanapun. Sebagai ilustrasi, dosen memberikan apel kepada mahasiswa. Setelah itu, dosen berharap dapat menerima apel yang benar-benar sama dengan apel yang baru saja diberikannya. Jika mahasiswa tidak memberikan apel yang serupa, maka mahasiswa tersebut dinilai gagal dalam proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran ini sering menggunakan teori behavioristik, dimana dosen menjadi sangat dominan dalam memberikan informasi dan berharap mahasiswa memiliki pengetahuan yang sama dengan tujuan untuk mengubah perilaku.

Penerapan teori behavioristik tidak sepenuhnya salah, terlebih dalam keilmuan eksakta. Teori behavioristik juga sangat dibutuhkan. Namun, jika penerapannya hanya berfokus pada satu kacamata, maka dunia keilmuan akan semakin sempit. Oleh sebab itu, bahkan di ilmu eksakta sekalipun, dosen tetap dituntut untuk dapat melakukan transformasi. Pada hakikatnya, pendekatan konstruktivisme sejalan dengan fitrah intelektual manusia. Meskipun belum memiliki banyak pengalaman mengajar sebagai dosen, pendekatan konstruktivisme secara sengaja ataupun tidak sengaja, sudah banyak diterapkan dalam proses pembelajaran.

Tantangan di Era generasi Z

Hal yang menjadi tantangan di zaman ini adalah perkembangan teknologi yang begitu masif di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Generasi Z adalah generasi yang lahir bersamaan dengan perkembangan tersebut, sehingga mereka dijuluki sebagai generasi digital native. Generasi tersebut memiliki keunggulan dalam mengakses informasi dari berbagai sumber, menguasai berbagai jenis teknologi, serta kemampuan terhubung dengan dunia global. Berbeda dengan generasi sebelumnya, milenial, yang ditakdirkan merasakan tata kehidupan transisi dari analog yang perlahan berkembang menjadi digital. Hal tersebut sangat mempengaruhi gaya belajar di kelas.

Mahasiswa generasi Z cenderung suka mengandalkan teknologi untuk mencari informasi. Jika dulu, saat para milenial menjadi pelajar, penggunaan handphone di kelas sangat tidak familiar dan tidak pada tempatnya. Tapi, tidak begitu di zaman ini. Saat pembelajaran, mereka sangat interaktif dalam menggunakan mobile phone untuk mencari alternatif jawaban yang dilemparkan dosen kepada mahasiswa.

Secara praktis, dosen bisa saja membuat sebuah peraturan yang melarang mahasiswanya menggunakan handphone di dalam kelas, sebagai upaya agar peserta didik dapat lebih kritis dalam menanggapi suatu persoalan. Namun, menjadikan teknologi sebagai hambatan belajar bukan merupakan solusi adaptif dari lajunya perkembangan zaman. Ini menjadi tantangan di dunia akademisi. Oleh sebab itu, dosen tidak hanya dituntut sebagai transformers bagi dirinya, tetapi juga objeknya. Objek yang dimaksud adalah sistem belajar berbasis masalah, studi kasus, ataupun proyek. Dosen dituntut untuk memperluas wawasan terkait isu terkini, membawanya di depan kelas, dan menyelesaikan persoalan tersebut dengan pendekatan konstruktivisme. Sehingga, ketika suatu saat mahasiswa harus turun langsung ke masyarakat dan dihadapkan pada persoalan sosial, mereka tidak lantas membuka chatGPT untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Konstruktivisme : Cogito, Ergo Sum

Sekali lagi bahwa, teori konstruktivisme itu sesuai dengan fitrah intelektual. Fitrah intelektual yang dimaksud adalah kemampuan manusia untuk berpikir, belajar, dan memaknai sesuatu. Berdasarkan pendekatan filsafat, konstruktivisme selalu beriringan dengan rasionalisme, empirisme, relativisme, dan pragmatisme. Kontruktivisme yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘membangun pengetahuan sendiri’, dapat menjadikan rasionalisme, empirisme, relativisme, dan pragmatisme sebagai material bangunannya.

Sebagai ilustrasi menarik yang disampaikan oleh Dr. Sardianto Markos S, M.Si., M.Pd., dalam forum pelatihan pedagogis yang dilaksanakan di Gedung FKIP Universitas Sriwijaya. Beliau menanyakan pada peserta sebuah pernyataan sederhana, “kenapa Air Conditioner (AC) selalu di pasang di atas?”. Dengan spontan, saya mengatakan, “kalau di bawah, kakinya aja pak yang dingin”. Hal tersebut, karena saya menggunakan pendekatan rasionalisme dan pragmatisme. Jawaban saya menjadi relatif jika harus dibandingkan dengan jawaban ahli fisika dengan prinsip fisikanya. Prinsip fisika yang mengatakan bahwa udara dingin memiliki berat lebih tinggi daripada udara panas, adalah jawaban yang mengkaitkannya dengan ilmu pengetahuan (empiris).

Di sisi lain, konstruktivisme juga bertentangan pada idealism, objektivisme, dan nativisme. Sebuah ilustrasi bermakna yang dilontarkan seorang peserta forum kala itu adalah, “disebut kuda, jika berkaki empat.”. Bagi penganut paham idealism, objetivisme, dan naivisme akan mengamini bahwa jika kakinya tidak empat, maka tidak bisa disebut dengan kuda. Padahal, ada kondisi tertentu yang mungkin menyebabkan kaki kuda tidak berjumlah empat. Kelainan kongenital misalnya, atau patah karena kecelakaan. Oleh sebab itu, dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivisme, dosen harus menjadi pendengar yang baik bagi mahasiswa, mampu menganalisis jawaban,menerima dan mengapresiasi pemikiran kritis tersebut sebagai usahanya mencari penyelesaian masalah. Tidak ada kebenaran yang absolut.

Penutup

Pembelajaran yang konstruktif, menjadi modal dasar dalam dunia akademisi untuk dapat mengembangkan potensi mahasiswa dalam pembelajaran. Sebagaimana ungkapan yang pernah dicetuskan oleh Rene Decrates, bahwa “Aku berpikir maka aku ada”. Cogito, ergo sum.

Referensi:

Azzahra, N. T., Ali, S. N. L., & Bakar, M. Y. A. (2025). Teori Konstruktivisme Dalam Dunia Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Research Student, 2(2), 64-75.

https://gurudikdas.dikdasmen.go.id/news/konstruktivisme-dalam-kurikulum-merdeka-belajar-%28kmb%29