Konten dari Pengguna

Mengapa Orang Mulai Meninggalkan Kota Besar? Membaca Fenomena Suburbanisasi

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dyah Ayu San Kamila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kawasan Perkotaan (Sumber: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kawasan Perkotaan (Sumber: https://pixabay.com/id/)

Selama puluhan tahun, kota-kota besar dianggap sebagai simbol kemajuan. Kesempatan kerja yang lebih luas, akses pendidikan yang lebih baik, hingga fasilitas publik yang lengkap menjadikan kota sebagai tujuan utama perpindahan penduduk. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul fenomena yang menarik perhatian. Semakin banyak masyarakat memilih tinggal di kawasan pinggiran kota dibandingkan pusat kota. Apakah ini menandakan kota besar mulai kehilangan daya tariknya, atau justru menunjukkan perubahan cara masyarakat memaknai kualitas hidup?

Tentu saja perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Ada banyak faktor yang membuat masyarakat mulai melirik kawasan pinggiran sebagai tempat tinggal baru. Meningkatnya harga rumah, kemacetan lalu lintas, kepadatan penduduk, serta tingginya biaya hidup di pusat kota mendorong sebagian masyarakat mencari alternatif tempat tinggal yang lebih nyaman dan terjangkau. Dulu, kawasan pinggiran sering kali hanya dianggap sebagai “tempat lewat”. Kini, wajahnya berubah. Perumahan baru bermunculan, pusat perbelanjaan semakin lengkap, bahkan lapangan pekerjaan mulai tumbuh di sana. Kehadiran jalan tol, transportasi massal, fasilitas umum seperti rumah sakit, hingga kawasan industri membuat wilayah suburban tidak lagi sekadar menjadi tempat tinggal, tetapi juga pusat aktivitas ekonomi baru.

Mengapa Fenomena Ini Terjadi?

Jika diperhatikan, semakin banyak orang yang mulai memilih tinggal di kawasan pinggiran kota. Bukan karena kota besar sudah tidak menarik, tetapi karena tinggal di pusat kota kini memiliki tantangan yang semakin besar. Harga rumah yang terus naik, biaya hidup yang semakin mahal, kemacetan yang hampir menjadi bagian dari rutinitas, hingga minimnya ruang terbuka membuat banyak orang berpikir ulang untuk menetap di pusat kota. Di sisi lain, kawasan pinggiran justru menawarkan lingkungan yang lebih tenang dengan harga rumah yang relatif lebih terjangkau.

Pilihan untuk tinggal di wilayah pinggiran juga semakin memungkinkan karena perkembangan infrastruktur. Jalan tol, kereta komuter, hingga transportasi umum membuat jarak bukan lagi menjadi hambatan utama. Banyak orang tetap bekerja di pusat kota, tetapi memilih pulang ke rumah yang berada di kawasan suburban. Akibatnya, wilayah yang sebelumnya hanya dikenal sebagai daerah penyangga kini berkembang menjadi kawasan yang memiliki pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit, bahkan kawasan bisnisnya sendiri.

Di balik perubahan tersebut, sebenarnya ada perubahan cara masyarakat memandang kualitas hidup. Dahulu, tinggal di pusat kota sering dianggap sebagai simbol keberhasilan karena dekat dengan berbagai fasilitas. Kini, banyak keluarga justru mengutamakan kenyamanan, lingkungan yang lebih asri, dan ruang tinggal yang lebih luas. Perubahan pola kerja yang semakin fleksibel setelah pandemi juga membuat sebagian orang tidak lagi harus datang ke kantor setiap hari. Kondisi ini semakin mendorong masyarakat untuk mencari tempat tinggal yang dianggap lebih nyaman meskipun lokasinya berada di luar pusat kota.

Fenomena tersebut dapat dengan mudah ditemukan di berbagai kota besar, termasuk di Indonesia. Kawasan penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi terus berkembang menjadi pusat permukiman baru. Hal serupa juga terlihat di Surabaya Raya dengan berkembangnya Sidoarjo dan Gresik, maupun di kota-kota besar dunia seperti Tokyo dan Seoul yang membangun kawasan satelit untuk mengakomodasi pertumbuhan penduduk. Perubahan ini menunjukkan bahwa pusat kota tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan untuk tinggal maupun beraktivitas.

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Indonesia. Jepang mengembangkan kota-kota satelit di sekitar Tokyo melalui sistem transportasi yang terintegrasi sehingga suburbanisasi tetap diikuti oleh pelayanan publik yang memadai. Sebaliknya, di sejumlah kota berkembang, pertumbuhan kawasan pinggiran sering kali lebih cepat dibandingkan penyediaan infrastruktur, sehingga memunculkan berbagai persoalan tata ruang. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa suburbanisasi bukanlah masalah, melainkan proses yang memerlukan perencanaan dan tata kelola yang baik.

Fenomena perpindahan dari pusat kota ke kawasan pinggiran inilah yang dikenal sebagai suburbanisasi. Namun, suburbanisasi tidak terjadi begitu saja. Ada kebijakan pemerintah yang ikut memengaruhi arah perkembangan kota, yaitu desentralisasi. Ketika pemerintah daerah diberi ruang yang lebih besar untuk mengembangkan wilayahnya, berbagai kawasan mulai tumbuh menjadi pusat kegiatan ekonomi baru. Lapangan kerja, kawasan industri, fasilitas pendidikan, hingga layanan kesehatan tidak lagi hanya terpusat di kota besar. Akibatnya, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk tinggal dan bekerja tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pusat kota.

Namun, apakah suburbanisasi selalu menjadi kabar baik?

Melihat semakin berkembangnya kawasan pinggiran, mungkin banyak orang akan menganggap suburbanisasi sebagai hal yang sepenuhnya positif. Memang, perpindahan penduduk dari pusat kota dapat membuka peluang bagi tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru. Kawasan yang sebelumnya hanya menjadi daerah penyangga kini mulai dipenuhi perumahan, pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit, hingga kawasan industri. Kondisi ini tentu dapat menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan roda perekonomian di daerah.

Namun, di balik perkembangan tersebut, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Pertumbuhan kawasan pinggiran yang terlalu cepat sering kali tidak diikuti dengan perencanaan tata ruang yang matang. Akibatnya, pembangunan perumahan terus meluas ke lahan pertanian atau ruang terbuka hijau. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengurangi fungsi lingkungan sekaligus meningkatkan risiko banjir, kemacetan, dan berbagai persoalan perkotaan lainnya. Selain itu, suburbanisasi juga berpotensi menciptakan ketimpangan baru. Tidak semua kawasan pinggiran berkembang dengan kualitas infrastruktur yang sama. Ada wilayah yang tumbuh menjadi kota satelit dengan fasilitas lengkap, tetapi ada pula yang justru berkembang tanpa didukung transportasi umum, layanan kesehatan, maupun fasilitas pendidikan yang memadai. Akibatnya, masyarakat tetap harus bergantung pada pusat kota untuk bekerja atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di sinilah pentingnya peran desentralisasi. Pembangunan tidak cukup hanya memindahkan penduduk ke wilayah pinggiran, tetapi juga harus diikuti dengan pemerataan pembangunan antarwilayah. Pemerintah daerah perlu didukung agar mampu menyediakan layanan publik, menciptakan lapangan kerja, dan mengembangkan pusat-pusat ekonomi baru. Dengan begitu, kawasan suburban tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi tempat yang mampu memberikan kualitas hidup yang baik bagi masyarakat.

Suburbanisasi bukanlah sesuatu yang harus dianggap baik atau buruk. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika perkembangan kota yang akan terus terjadi seiring bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan ruang. Yang menjadi tantangan bukanlah perpindahan penduduk itu sendiri, melainkan bagaimana pemerintah mampu mengelola pertumbuhan tersebut agar tetap terarah, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi semua pihak.

Mari kita belajar dari pengalaman kota-kota di dunia. Fenomena suburbanisasi sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Banyak kota besar di dunia telah lebih dulu mengalaminya dan memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah kota seharusnya berkembang. Tokyo, misalnya, berhasil mengembangkan kota-kota satelit seperti Chiba, Saitama, dan Yokohama yang terhubung dengan sistem transportasi publik yang efisien. Masyarakat tetap dapat tinggal di kawasan pinggiran tanpa kehilangan akses menuju pusat kota karena didukung jaringan kereta yang terintegrasi dan pelayanan publik yang merata.

Artinya, suburbanisasi sebenarnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah mampu mengelolanya dengan baik agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Perpindahan penduduk ke kawasan pinggiran justru dapat menjadi peluang untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, mengurangi kepadatan di pusat kota, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, keberhasilan itu tidak terjadi begitu saja. Dibutuhkan perencanaan tata ruang yang matang, pembangunan infrastruktur yang merata, serta koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Indonesia sebenarnya memiliki peluang yang sama. Pertumbuhan kawasan seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, maupun kota penyangga lainnya menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat kawasan suburban sebagai tempat tinggal yang menjanjikan. Sayangnya, perkembangan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kemacetan, transportasi umum yang belum sepenuhnya terintegrasi, hingga alih fungsi lahan yang terus terjadi. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan kawasan pinggiran tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan perumahan, tetapi juga harus diikuti dengan penyediaan fasilitas publik dan kesempatan kerja yang memadai.

Tujuan pembangunan kota bukanlah membuat masyarakat terus berkumpul di satu pusat kota, melainkan menciptakan wilayah-wilayah yang sama-sama layak untuk ditinggali. Di sinilah desentralisasi memiliki peran penting, bukan hanya sebagai kebijakan pemerintahan, tetapi juga sebagai strategi untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih merata. Ketika setiap daerah mampu berkembang sesuai potensinya, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk hidup, bekerja, dan membangun masa depannya tanpa harus bergantung pada satu kota besar.

Pada akhirnya, kota besar tidak benar-benar sedang ditinggalkan. Yang berubah adalah cara masyarakat memandang tempat terbaik untuk membangun kehidupan. Kota besar mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan hidup masyarakat. Namun, bukan berarti kota telah kehilangan perannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Jika dahulu kedekatan dengan pusat kota menjadi ukuran utama, kini banyak orang mulai mempertimbangkan faktor lain seperti kenyamanan, lingkungan yang sehat, akses terhadap ruang terbuka, hingga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Pergeseran ini menunjukkan bahwa kualitas hidup telah menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan tempat tinggal.

Fenomena suburbanisasi menjadi pengingat bahwa perkembangan kota akan selalu mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan tidak seharusnya hanya berfokus pada memperluas kawasan perkotaan atau membangun gedung-gedung baru. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap wilayah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang melalui penyediaan infrastruktur, pelayanan publik yang berkualitas, serta kebijakan desentralisasi yang mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru. Keberhasilan sebuah kota bukan hanya diukur dari seberapa cepat kota itu tumbuh, tetapi dari seberapa baik kota tersebut mampu memberikan kehidupan yang nyaman, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakatnya. Sebab, tujuan pembangunan bukan sekadar membangun kota yang lebih besar, melainkan membangun kota yang benar-benar layak untuk dihuni.

Dyah Ayu San Kamila, mahasiswi Program Studi Ekonomi Pembangunan UAD.