Konten dari Pengguna

Surat Cinta Terbuka Untuk Dito Ariotedjo

Bagaskoro

Bagaskoro

Fresh graduate dari FEB UNS. Menyukai sepak bola, musim, dan buku.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagaskoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menpora RI Dito Ariotedjo saat Konpers Peluncuran Digital Campaign Hari Sumpah Pemuda di Kantor Kemenpora, Jakarta, Selasa (17/10/2023). Sumber:Kumparan.com.
zoom-in-whitePerbesar
Menpora RI Dito Ariotedjo saat Konpers Peluncuran Digital Campaign Hari Sumpah Pemuda di Kantor Kemenpora, Jakarta, Selasa (17/10/2023). Sumber:Kumparan.com.

Dear, Bapak Dito Ariotedjo, Meteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora), yang saya hormati!

Usia kita sebenarnya tidak terpaut cukup jauh hanya 12 tahun untuk saya memanggil anda dengan sebutan bang, mas, atau kak. Saya memanggil anda dengan sebutan bapak karena pernyataan anda kepada media beberapa hari yang lalu seperti para bapak-bapak yang tidak terima kekalahan anaknya. Disclamer, saya mohon maaf untuk bapak-bapak yang tidak mau disamakan dengan Bapak Dito.

Pernyataan bapak yang saya maksud ialah “Yang penting di Piala AFF nanti wasitnya terjaga. Saya rasa sih wasit juga sudah trauma ya kalau mengerjai Indonesia karena langsung diserang warganet,” dalam postingan instagram Kumparan. Bagaimana bisa ucapan seperti ini keluar dari bapak, seorang Menpora?

Bapak tau tidak bahwa di sebuah kompetisi harus ada yang namanya sportivitas? Apakah bapak tidak menyadari ada kata sport dalam sportivitas? Jikalau belum mengetahuinya, biar saya jelaskan apa itu sportivitas.

Menurut kbbi daring, sportivitas ialah bentuk sikap adil, sikap berani mengakui keunggulan lawan, dan sikap berani mengakui kekalahan diri sendiri. Sportivitas merupakan nilai yang terkandung dalam olahraga dan kompetisi. Dengan berkompetisi, kita melatih diri kita untuk menjadi yang terbaik dan juga melatih kita dalam menerima kekalahan jika gagal menjadi yang terbaik.

Sebagai penggemar Timnas Sepak Bola Indonesia, saya bisa mengerti alasan mengapa ucapan tersebut bisa keluar dari Bapak Dito. Dalam beberapa pertandingan Timnas Indonesia kerap sekali tidak diuntungkan oleh keputusan wasit. Namun, hal tersebut tidak bisa menjadi pembenaran warganet untuk menyerang akun media sosial wasit yang bertugas karena keputusan wasit bukan satu-satunya penyebab kekalahan TImnas Indonesia.

Izinkan saya menjelaskan apa itu sepak bola kepada bapak. Sepak bola merupakan cabang olahraga yang mempertandingkan dua kesebelasan selama 2 x 45 menit dengan tim yang berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan keluar sebagai pemenang.

Jadi. Jikalau tim kita mendapatkan hukuman pinalti yang kontroversial pada babak pertama yang menghasilkan kita tertinggal oleh tim lawan, masih ada 45 menit lagi untuk kita membalas ketertinggalan tersebut.

Atau, Jikalau salah satu pemain kita ada yang mendapatkan kartu kuning kedua meskipun keputusan wasit yang bertugas menurut kita keliru, masih ada 10 pemain lainnya yang masih ada dapat melanjutkan permainan dan mencetak lebih banyak gol dari tim lawan.

Pak, akui saja bahwa Timnas Sepak Bola kita belum pantas, atau secara halus belum siap, ke pentas yang lebih tinggi. Menyakitkan ya pak? Memang, tetapi itu kenyataannya.

Bapak mungkin terlahir dari keluarga berada, memiliki berbagai sumber daya yang dapat bapak gunakan untuk mendapatkan sesuatu yang bapak inginkan, sehingga jarang mengalami kekalahan-kekalahan kecil dalam hidup.

Orang biasa seperti saya sering kali menerima kekalahan kecil dalam hidup. Namun, saya tidak langsung menyalahkan pihak lain. Sebagai contoh, kita saya kesusahan mencari dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi saya, saya tidak langsung menyalahkan Pemerintah meskipun hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab pemerintah sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2. Melainkan, hal pertama yang lakukan ya belajar lagi dan cari pekerjaan lagi. Maaf ya pak jadi curhat. Semoga Bapak Dito dapat menyampaikan curhatan saya kepada rekan sejawat bapak sesama menteri.

Bapak ingin tau kenapa saya bisa menerima kekalahan-kekalahan kecil dalam dengan lapang dada? Untuk level orang biasa seperti saya, pengamalan saya berkompetisi kejuruan dalam mewakili sekolah yang lebih sering menerima kekalahan daripada pulang membawa piala sudah cukup untuk melatih pengalaman dan sikap sportivitas saya. Namun, untuk atlet sekaliber level internasional seperti para pemain Timnas Indonesia apakah sudah cukup?

Bapak selaku Menpora alih-alih membenarkan apa yang dilakukan warganet kita untuk menyerang akun sosial media penyebab kekalahan Timnas kita, lebih baik bapak untuk melihat apakah kementerian yang bapak pimpin telah menggelar banyak kompetisi olahraga, khususnya sepak bola, untuk para pemuda? Beruntung ketika ada wasit yang bisa disalahkan ketika kita kalah. jika wasit bekerja dengan baik, pemain kita yang sudah berjuang yang akan menjadi kambing hitam seperti yang terjadi pada Marselino Ferdinand setelah pertandingan perebutan posisi ke-3 melawan Iraq.

Lagi pula, sepak bola profesional itu tanggung jawab terbesar ada di PSSI. Tugas bapak sebagai Menpora berada di tingkat akar rumput atau masyarakat seperti bagaimana meningkatkan tingkat partisipasi masyarakat dalam berolahraga. Berdasarkan Sport Development Index (SDI) tahun 2022 yang dirilis Kemenpora, tingkat partisipasi olahraga masyarakat Indonesia hanya 30,93 persen. Artinya, hanya ada tiga dari setiap 10 penduduk di Indonesia yang aktif berolahraga secara rutin.

Selain melatih sikap sportivitas masyarakat, tingkat partisipasi masyarakat berolahraga akan berdampak baik pada prestasi olahraga sebuah negara. Contohlah Jepang di tahun 2012, tingkat partisipasi masyarakatnya dalam berolahraga sudah mencapai 59 persen. Hasilnya pada Olimpiade London 2012, mereka bertengger di posisi 11 dalam perolehan mendali. Prestasi tersebut semakin meningkat, hingga puncaknya di Olimpiade Tokyo 2020 berhasil merangsek ke posisi 4.

Pak Dito, sekarang sudah tau kan apa dampaknya jika tingkat partisipasi olahraga masyarakat dan kompetisi olahraga banyak di gelar? Pastinya negara kita punya talent pool yang banyak, semakin banyak persaingan semakin bagus untuk atlet kita. Untuk mereka yang tidak menjadi atlet professional, setidaknya sudah terasah sikap sportivitasnya sehingga tidak ada lagi kejadian penyerangan bahkan hingga doxing akun sosial media wasit.

Demikian surat terbuka dari saya sebagai bentuk kepedulian saya terhadap bapak dan olahraga di negeri ini. Melihat pengalaman bapak di keorganisasian pemuda selama berkuliah dan pengalaman bapak dalam mengelola sebuah klub olahraga profesional, masih ada secercah harapan saya kepada bapak sebagai Menpora. Saya harap bapak dapat menarik ucapan bapak di awal tulisan ini.

Terima kasih sudah membaca. Salam olahraga.