Konten dari Pengguna
Kunjungan Wisata Naik, Hotel Sepi: Apa yang Salah dalam Ekosistem Pariwisata?
23 Juli 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Kunjungan Wisata Naik, Hotel Sepi: Apa yang Salah dalam Ekosistem Pariwisata?
Artikel ini berisi kondisi pekerja di sektor pariwisata, khususnya di Yogyakata dan bagaimana solusi serta strategi yang bisa dilakukan dari sudut pandang SDM, dengan Caring HRM.Daniel Yudistya W
Tulisan dari Daniel Yudistya W tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Kondisi Pariwisata Terkini
Triwulan pertama 2025 mencatat angka yang tampaknya menggembirakan: jumlah kunjungan wisatawan nusantara secara umum naik 3,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Data BPS menyebutkan, ada lebih dari 10 juta kunjungan terjadi sepanjang Januari hingga Maret. Tapi bagi kami para pelaku usaha di sektor pariwisata, angka itu tak serta-merta membawa kabar baik.
ADVERTISEMENT
Alih-alih terjadi peningkatan pemasukan, yang dihadapi pelaku usaha justru sebaliknya: tingkat hunian hotel berbintang sempat terjun bebas ke angka 23 persen. Sementara penginapan non-bintang juga ikut merosot hingga 11,9 persen. Ini bukan sekadar anomali statistik—ini alarm keras bagi ekosistem pariwisata kita.
Tampak ada jurang besar antara angka kunjungan dan angka pembelanjaan. Wisatawan datang, tapi tidak menginap. Mereka mungkin memilih moda perjalanan harian atau penginapan informal yang tak tercatat. Yang jelas, pelaku usaha formal merasakan langsung dampaknya: kamar-kamar kosong, pendapatan turun, dan beban operasional tetap berjalan.
Tantangan Besar
Lebih parah lagi, kondisi ini berimbas ke sisi yang paling rentan yaitu para pekerja. Jam kerja panjang, upah minim, tekanan emosional tinggi, bahkan lembur tanpa kepastian sudah menjadi bagian keseharian mereka. Sementara itu, industri terus menuntut kualitas layanan tinggi di tengah sumber daya yang kian tergerus.
ADVERTISEMENT
Kami paham, sektor pariwisata sedang menghadapi tantangan besar: disrupsi digital, pola kerja yang berubah, hingga ekonomi global yang tak stabil. Tapi bagaimana mungkin sektor ini bisa bertahan kalau fondasinya—yakni para pekerja—terus dibiarkan kelelahan tanpa perlindungan?
Caring Human Resource Management: Sebuah Solusi
Beberapa dari pelaku usaha mulai mencoba pendekatan baru, seperti Caring Human Resource Management (CHRM), konsep manajemen berbasis empati dan kepedulian yang diperkenalkan Alan M. Saks. Bukan semata idealisme, tapi kebutuhan nyata. Contoh keberhasilan sudah banyak Hotel seperti Four Seasons, perusahaan-perusahaan di Swedia dan Jepang, semuanya menunjukkan bahwa memperhatikan kesejahteraan pekerja bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang.
Tapi perlu disadari, tidak semua pelaku usaha punya anggaran besar untuk melakukan transformasi menyeluruh. Karenanya, perlu ada dukungan ekosistem, pemerintah, asosiasi industri, hingga wisatawan itu sendiri. Jangan hanya menuntut layanan prima tanpa menghargai kondisi riil yang kami hadapi di balik layar.
ADVERTISEMENT
Mendorong keseimbangan kerja, memberi ruang aspirasi, bahkan sekadar menghentikan praktik eksploitatif—langkah-langkah kecil ini bisa jadi titik balik. Karena hari ini, tantangan bukan hanya tentang menarik wisatawan, tapi juga mempertahankan pekerja yang sehat, loyal, dan bangga menjadi bagian dari industri ini.
Industri pariwisata tak bisa lagi bertahan dengan pola lama. Saatnya harus diakui bahwa menjaga sumber daya manusia bukanlah tambahan biaya, tapi syarat mutlak agar sektor ini benar-benar pulih dan tumbuh. Empati bukan sekadar nilai—hal itu adalah pembeda yang bisa menyelamatkan pelaku usaha semua dari keterpurukan yang kian membelit.

