Konten dari Pengguna

Manfaat Puasa dari Segi Kesehatan

Dzakiyyatul Atiqoh

Dzakiyyatul Atiqoh

Fakultas Ilmu Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dzakiyyatul Atiqoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Remaja Masjid Al-Iman dan At-Takwa dan Para Pemuda dalam Kegiatan Memperingati Nuzulul Qur'an di Link. Kaligandu RW 04 Kel/Kec Purwakarta Kota Cilegon, Banten. 1443 H/2022 M
zoom-in-whitePerbesar
Remaja Masjid Al-Iman dan At-Takwa dan Para Pemuda dalam Kegiatan Memperingati Nuzulul Qur'an di Link. Kaligandu RW 04 Kel/Kec Purwakarta Kota Cilegon, Banten. 1443 H/2022 M

Penerapan gaya hidup sehat salah satunya dengan puasa, seorang muslim akan dapat mengatur pola makannya. Puasa memiliki manfaat dari segi kesehatan baik kesehatan fisik maupun mental jika dilakukan dengan gaya hidup yang baik. Allah swt. telah berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat ke 183 yakni diwajibkan atas umatnya untuk melaksanakan puasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelumnya agar manusia bertakwa. Arti takwa bagi seorang muslim yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya begitupun dalam penerapan puasa ramadhan ini. Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Keberkahan di dunia yakni bagi sisi kesehatan fisik, mental, sosial maupun di akhirat sebagai tabungan pahala dan membuka pintu surga. Beberapa manfaat puasa dalam segi kesehatan, yakni :

1. Bagi Pasien dengan Penyakit Ginjal

Penderita gagal ginjal juga bisa melakukan puasa ramadan dengan aman karena beberapa alasan, pertama, puasa ramadan dapat menurunkan tekanan darah, sehingga pasti akan meningkatkan kinerja atau fungsi ginjal. Kedua, puasa di bulan Ramadhan dapat menurunkan berat badan dan berdampak pada peningkatan fungsi jantung dan ginjal. Penderita gagal ginjal boleh berpuasa, namun tetap perlu dipantau oleh tim kesehatannya untuk beberapa hal, yaitu asupan cairan, aktivitas sehari-hari, pengobatan, apalagi jika mengidap diabetes. Pasien dialisis peritoneal juga dapat berpuasa selama Ramadhan, karena puasa tidak memiliki efek nyata pada fungsi ginjal. Pasien hemodialisis juga dapat berpuasa dengan aman selama Ramadhan karena penurunan berat badan dan perbaikan.

Di sisi lain, dalam penelitian lain dijelaskan bahwa puasa di bulan Ramadan dapat menyebabkan ketidaknyamanan, terutama pada mereka yang memiliki penyakit ginjal. Salah satu penyebabnya adalah efek dehidrasi saat berpuasa. Oleh sebab itu pasien yang mempunyai riwayat penyakit ginjal tetap disarankan konsultasi dengan tim kesehatan sebelum memutuskan untuk melaksanakan puasa Ramadan.

2. Bagi Pasien Gangguan Kolesterol dan Obesitas

Mengenai puasa selama Ramadan, sebuah penelitian menjelaskan bahwa puasa selama Ramadan secara signifikan mengurangi kadar lemak jahat dan meningkatkan kadar lemak baik. Proses penurunan kadar lemak dimulai dari pertengahan Ramadan hingga akhir bulan. Hal ini terjadi karena selama bulan puasa, terjadi peningkatan lemak bermanfaat akibat berkurangnya konsumsi makanan.

Mengenai obesitas, puasa Ramadan dapat menurunkan berat badan (2 kg saat puasa) dan persentase lemak tubuh serta meningkatkan lemak baik. Namun penurunan berat badan ini akan optimal jika jenis makanan yang dikonsumsi diatur saat puasa, baik saat sahur maupun berbuka puasa. Karena beberapa penelitian menjelaskan bahwa puasa di bulan Ramadan justru menambah berat badan karena tidak ada perubahan gaya hidup, terutama bagaimana menyusun strategi makan saat sahur dan berbuka puasa.

3. Meningkatkan Kekebalan Tubuh

Sistem imun adalah sistem tubuh manusia yang memiliki fungsi untukmelawan semua penyebab penyakit seperti bakteri, virus, jamur, parasit dan zat-zat penyebab alergi. meskipun terdapat penelitian dengan hasil yang bertentangan terkait efek puasa Ramadan terhadap sistem imun, maka bagi yang tengahmenjalankan puasa Ramadan disarankan untuk tetap mengkonsumsi makanan yangsecara ilmiah memiliki peran meningkatkan fungsi sistem imun.

4. Bagi Pasien dengan Kanker

American Cancer Society dan National Cancer Institute melaporkan bahwa pada 1 Januari 2016, lebih dari 15,5 juta orang Amerika memiliki riwayat kanker. Prevalensi kanker yang dimaksud adalah kanker prostat (3.306.760), kanker usus besar dan rektum pada pria (724.690), kanker melanoma/kulit pada pria (614.460), kanker payudara (3.560.570), kanker tubuh rahim (757.190) dan kanker usus besar dan rektum pada perempuan (727.350). Lebih dari 56% pasien didiagnosis dengan kanker 10 tahun yang lalu, dan 47% berusia 70 tahun atau lebih. Jumlah pasien diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 20 juta per tahun 1 Januari 2026.

Berkaitan dengan puasa Ramadhan, yang justru memperbaharui sel dan sistem kekebalan tubuh, terutama pada sel yang dapat mengontrol pertumbuhan kanker. Sebuah penelitian telah dilakukan untuk mendukung pernyataan tersebut pada pasien yang menderita kanker pankreas, payudara, usus besar, prostat, dan paru-paru. Namun demikian, pelaksanaan puasa Ramadan pada pasien kanker masih menyisakan masalah khususnya pada kualitashidup pasien kanker dan kepatuhan terhadap mengkonsumsi obat. Maka dari itu pasien menderita kanker yang berkeinginan untuk melaksanakan puasa Ramadan membutuhkan informasi dari ahli kesehatan seperti dokter onkologi, ahli nutrisi, ahli psikologi begitu juga dengan ahli hukum islam. (Sumarno Adi Subrata, 2017)

5. Bagi Kesehatan Mental

Selain memiliki manfaat pada sisi kesehatan fisik, puasa juga memiliki dampak positif bagi kesehatan mental, yakni puasa dapat mengubah pikiran menjadi tenang, damai, dan bahagia, mengurangi rasa takut danagresif, puasa dapat mengurangi kecemasan dan depresi. Seiring waktu, lebih banyak penelitian telah dilakukan tentang puasa. Kazemi et al (2006) menemukan bahwa rata-rata skor kesehatan mental meningkat dari 33,94±8,55 menjadi 34,5±8,2 sebelum dan sesudah Ramadhan. Sedangkan rerata skor depresi menurun dari 14,45±10,33 menjadi 11,88±10,38. Hasil di atas menyimpulkan bahwa puasa selama Ramadhan merupakan faktor penting dalam mengurangi depresi dan meningkatkan kesehatan mental.

Studi terkait puasa lainnya, Julianto dan Muhopilah (2015), menemukan bahwa puasa berhubungan positif dengan regulasi amarah. Semakin tinggi jumlah puasa, semakin tinggi tingkat pengaturan kemarahan, dan sebaliknya, semakin sedikit jumlah puasa, semakin rendah tingkat pengaturan kemarahan. Semakin banyak individu berpuasa maka semakin tinggi tingkat regulasi marahnya, dan sebaliknya semakin sedikit individu berpuasa maka semakin rendah tingkat regulasi marahnya. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa individu dianjurkan untuk terus berpuasa karena dapat digunakan untuk melatih diri dalam mengontrol emosinya, khususnya pengaturan amarah. Kualitas puasa berkorelasi positif dengan kesejahteraan siswa. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa ketika siswa berpuasa, mereka cenderung menghindari perilaku buruk, bersabar setiap saat, dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki, yang menghasilkan emosi positif dan kepuasan hidup, sehingga dapat disimpulkan bahwa puasa semakin tinggi kualitasnya maka semakin tinggi kebahagiaan. (Aqiilah, 2020)

Setelah kita mengetahui berbagai manfaat puasa Ramadan dalam segi kesehatan baik secara fisik maupun mental semoga bisa menambah keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah Swt. Sebaik-baik tujuan melaksanakan puasa adalah melaksanakan ibadah dan menerapkan perilaku takwa, dan berbagai manfaat yang bisa dirasakan anggap saja sebagai bonus atas usaha yang telah kita lakukan. Dari sinilah kita sebagai umat muslim dapat mengambil hikmah, bahwa Allah Swt. memberi perintah kepada hambanya selalu dengan berbagai alasan yang masuk akal dan bisa dirasakan manfaatnya baik secara langsung maupun tidak langsung, baik di dunia maupun di akhirat. Kita sebagai umat islam sudah sepatutnya bersyukur atas segala nikmat yang tak henti-hentinya Allah Swt. berikan kepada kita.

DAFTAR PUSTAKA

Aqiilah, k. I. (2020). PUASA YANG MENAJUBKAN (STUDI FENOMENOLOGIS PENGALAMAN INDIVIDU YANG MENJALANKAN PUASA DAUD). Jurnal Empati: Volume 9 (Nomor 2) , 82-108.

Sumarno Adi Subrata, M. V. (2017). PUASA RAMADHAN DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN: LITERATUR REVIEW. Jurnal Studi Islam dan Humaniora Volume XV, Nomor 02 , 242-254.

Miller et al. (2016). Cancer treatment and survivorship statistics, 2016.