Mitos - Mitos Yang Berlatar Belakang

Mahasiswa S1 Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dzakwan Tamir Falih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi lisan dan folklor merupakan warisan kebudayaan takbenda yang memegang peranan sangat vital dalam menjaga identitas serta kearifan lokal masyarakat Nusantara. Menurut Bayu Ananto Wibowo dalam Eksistensi Tradisi Lisan Sebagai Sumber Sejarah Lokal, tradisi lisan mencakup seluruh wacana yang disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi guna merawat ingatan kolektif masyarakat. Keberadaan cerita rakyat sebagai bagian integral dari folklor memberikan gambaran mendalam mengenai nilai-nilai budaya, sistem kognitif, serta sejarah asal-usul suatu komunitas. Sebagaimana dijelaskan oleh Heri Jauhari dalam Folklor: Bahan Kajian Ilmu Budaya, Sastra dan Sejarah, cerita rakyat yang berkembang di Indonesia secara umum diklasifikasikan ke dalam tiga jenis utama, yaitu mitos atau mite, legenda, dan dongeng. Ketiga bentuk tradisi lisan ini tidak hanya menghibur, melainkan juga memuat ajaran moral yang mendidik generasi penerus.
Pemahaman mendalam mengenai klasifikasi cerita rakyat sangat penting untuk mengungkap fungsi historis dan kulturalnya dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana dipaparkan oleh Heri Jauhari dalam Folklor: Bahan Kajian Ilmu Budaya, Sastra dan Sejarah, mitos dianggap sebagai cerita suci berlatar dunia gaib yang ditokohi para dewa, sedangkan legenda berhubungan dengan situs sejarah serta tokoh nyata, dan dongeng berfungsi sebagai hiburan didaktis. Menurut Bayu Ananto Wibowo dalam Eksistensi Tradisi Lisan Sebagai Sumber Sejarah Lokal, tradisi lisan berperan sebagai sumber sekunder atau alternatif dalam penulisan sejarah lokal ketika dokumen tertulis sangat terbatas[9]. Proses rekonstruksi sejarah lokal memanfaatkan ingatan masyarakat yang digali melalui wawancara mendalam serta perekaman suara. Dengan demikian, keberadaan tradisi lisan menjadi fondasi utama dalam melestarikan memori lokal.
Keterkaitan antara mitos, legenda, dan kenyataan geografis maupun kultural terlihat jelas dalam berbagai cerita rakyat Jawa dan Sunda. Dalam artikel Wikipedia bahasa Indonesia bertajuk Sangkuriang (legenda), kisah pembendungan Sungai Citarum dan terciptanya Gunung Tangkuban Parahu terbukti selaras dengan penelitian geologi terkait letusan Gunung Sunda purba dan pengeringan Danau Bandung purba[16]. Sebagaimana dikaji oleh Hidayat Suryalaga dalam artikel Wikipedia Sangkuriang (legenda), legenda tersebut memuat falsafah Sunda mendalam tentang penyatuan antara rasio manusia dan hati nurani[19][20]. Sementara itu, dalam artikel Wikipedia berjudul Nyi Roro Kidul, legenda Ratu Laut Selatan seperti penjelmaan Dewi Kadita dari Pajajaran mencerminkan kepercayaan animisme prasejarah terhadap keganasan alam Samudra Hindia. Mitos ini menegaskan penghormatan manusia terhadap kekuatan alam.
Selain legenda kemasyarakatan, tokoh-tokoh besar dalam sejarah kerajaan Nusantara sering kali berada di antara batas mitos, legenda, dan fakta historis. Menurut Imron Arlado dalam Siapa Sebenarnya Gajah Mada? Antara Mitos atau Fakta, sosok Mahapatih Gajah Mada yang tercatat dalam naskah Pararaton dan Negarakertagama menampilkan perpaduan antara fakta politik ekspansi Majapahit dan narasi supranatural yang menguatkan kebesaran kerajaan. Sementara itu, dalam artikel Koran Sulindo berjudul Kisah Prabu Brawijaya V, Raja Terakhir Majapahit yang Mualaf, sosok Prabu Brawijaya V menggambarkan masa transisi spiritual dari Hindu-Buddha menuju era Islam. Menurut artikel Koran Sulindo tersebut, kisah perlawanan dan proses moksa Prabu Brawijaya V di Gunung Lawu melegenda sebagai simbol kebijaksanaan dan perdamaian di tengah perubahan zaman.
Fenomena keberadaan fakta sejarah di balik mitos dan legenda tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga ditemukan dalam sejarah dunia. Menurut Utomo Priyambodo dan Mahandis Yoanata Thamrin dalam *Lima Legenda Kuno yang Berdasarkan Peristiwa Nyata dalam Sejarah Dunia, banyak mitos kuno sesungguhnya menyimpan catatan peristiwa nyata yang disampaikan melalui pendongengan berbalut cerita dramatis. Sebagaimana diulas oleh Utomo Priyambodo dan Mahandis Yoanata Thamrin dalam artikel tersebut, legenda suku Klamath mengenai pertempuran dewa di Danau Crater sebenarnya menggambarkan bencana letusan gunung berapi purba Mazama sekitar 7.700 tahun lalu. Selain itu, kisah pembangunan Jembatan Rama dalam epik Ramayana terbukti memiliki dasar fisik berupa hamparan batu kapur dan pasir terendam antara India dan Sri Lanka.
Kearifan lokal berbasis tradisi lisan juga memancar kuat di Kepulauan Maluku sebagai kawasan yang kaya akan warisan budaya luhur. Menurut Threesje R. Souisa, Jenny Lekatompessy, dan Marcy Ferdinandus dalam Diglot Picture Storybook Based on Maluku Content and Its Relevance for Young Learners' Literacy, Maluku sebagai "Negeri Raja-Raja" memiliki keberagaman cerita rakyat seperti fabel, legenda, dan mitos yang membentuk karakter anak. Sebagaimana ditulis oleh Threesje R. Souisa dkk. dalam karya ilmiah tersebut, cerita rakyat Kolmedni dari Pulau Babar mengajarkan pentingnya menjaga janji dan membangun komunikasi harmonis antara manusia dengan alam. Selain itu, legenda Nene Luhu dari Negeri Soya merekam riwayat sejarah lokal masa kolonial Belanda sekaligus menyampaikan pesan moral agar anak-anak patuh pada orang tua.
Inovasi media pembelajaran menjadi langkah krusial agar cerita rakyat bermuatan kearifan lokal Maluku tetap relevan bagi generasi muda. Menurut Threesje R. Souisa, Jenny Lekatompessy, dan Marcy Ferdinandus dalam Diglot Picture Storybook Based on Maluku Content and Its Relevance for Young Learners' Literacy, pengembangan buku cerita bergambar dwibahasa atau *diglot picture storybook berbahasa Melayu Ambon dan Inggris menjadi sarana efektif membangun literasi anak. Sebagaimana dijelaskan oleh Threesje R. Souisa dkk. dalam penelitian itu, penyisipan konten lokal Maluku dalam bacaan anak membantu mereka memahami identitas budaya sendiri. Hal ini melatih anak-anak untuk berpikir secara lokal namun tetap mampu bertindak secara global dalam menghadapi era globalisasi tanpa kehilangan jati diri.
Pada era modern saat ini, pelestarian tradisi lisan tidak hanya berfungsi untuk menjaga identitas bangsa, tetapi juga membuka potensi ekonomi masyarakat. Menurut Bayu Ananto Wibowo dalam Eksistensi Tradisi Lisan Sebagai Sumber Sejarah Lokal, tradisi lisan yang diadaptasi menjadi seni pertunjukan, karya sastra, maupun destinasi wisata sejarah mampu memberikan nilai ekonomis bagi warga setempat. Selain meningkatkan perekonomian daerah, keberlanjutan tradisi lisan menjadi sarana penanaman karakter yang memperkuat solidaritas sosial[54][55]. Sebagaimana ditekankan oleh Threesje R. Souisa dkk. dalam Diglot Picture Storybook Based on Maluku Content and Its Relevance for Young Learners' Literacy, penggalian kearifan lokal melalui cerita rakyat memastikan generasi muda terus mengenali, menghormati, dan melestarikan kebudayaan Nusantara.
