Konten dari Pengguna

Jejak Sejarah, Tarik Pesona: Mahasiswa MMD UB 32 Angkat Potensi Budaya Ngadireso

Dzakwan Iqbal Ramadhan

Dzakwan Iqbal Ramadhan

Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya yang suka makan di warung bu pah, kertoraharjo

·waktu baca 4 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dzakwan Iqbal Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Penulis

Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang — Mengunjungi destinasi wisata setelah menghadapi hiruk-pikuknya kesibukan khususnya di Kota Malang merupakan salah satu pilihan untuk refreshing. Beragam referensi wisata yang ditawarkan di laman media sosial. Dari wisata yang berfokus pada nilai estetika, hingga edukasi. Namun, sangat disayangkan ketika para wisatawan sebatas hadir tanpa mengenal sejarah dari wisata tersebut.

Di wilayah Kabupaten Malang, masih banyak desa dengan potensi luar biasa yang belum tergarap maksimal sebagai destinasi wisata., salah satunya adalah desa ngadireso yang terletak di kecamatan poncokusumo. Desa ini menyimpan kekayaan alam dan budaya yang tak kalah menarik dibanding tempat wisata populer lainnya, namun belum banyak dikenal oleh publik.

Mahasiswa Membangun Desa (MMD) kelompok 32 dari Universitas Brawijaya yang tengah melakukan pengabdian di Desa Ngadireso, berupaya mengangkat potensi tersebut dengan pendekatan berbasis kearifan lokal. Salah satu fokus utamanya adalah mengenalkan dan mendokumentasikan kekayaan budaya dan sejarah desa sebagai pondasi menuju desa wisata budaya.

Asal-Usul Desa: Dari Topo Broto, Keris Lima, hingga Sri Kuning

Sumber: Penulis

Kisah spiritual ini masih dipercaya masyarakat dan menjadi bagian dari identitas desa. Narasi ini sangat potensial untuk dikembangkan dalam bentuk wisata sejarah dan ziarah budaya, yang tidak hanya menghadirkan tempat fisik tetapi juga cerita dan makna.

Sumber: Penulis

Selain itu, terdapat pula kisah Sri Kuning, seorang permaisuri dari Kadipaten Tuban, yang menetap di wilayah ini bersama dua pengikutnya: Ngadi dan Reso. Dari nama keduanya, desa ini mendapat nama Ngadireso. Sri Kuning tidak hanya dikenal sebagai tokoh pelarian, tetapi juga sebagai pembawa ilmu pertanian dan keagamaan yang menjadi fondasi spiritual dan ekonomi desa hingga kini. Untuk mengenangnya, dibangunlah Punden Sri Kuning, yang hingga kini masih digunakan masyarakat untuk berdoa dan bermunajat. “Cerita-cerita lama itu memang hadir dari mulut ke mulut, tetapi cerita para leluhur tersebut kami jadikan pegangan hidup agar tetap pada poros kebaikan” ucap Pak Subakir sebagai salah satu tokoh masyarakat memberi nasihat melalui kisah asal-usul Desa Ngadireso.

Tirta Umbulan, Wisata Air Desa yang Tidak Biasa

Sumber: Penulis

Simbol ikonik dari kawasan ini adalah gerbang bertuliskan “Umbulan” yang berdiri sederhana namun mencolok, menjadi titik awal perjalanan wisata yang sarat dengan pengalaman natural. Di sekitarnya, pagar bambu warna-warni memberi kesan ramah dan hangat, menyambut pengunjung dari berbagai kalangan usia.

Keberadaan Umbulan tak hanya menjadi penggerak pariwisata lokal, tetapi juga menjadi ruang rekreatif bagi warga sekitar. Ditopang oleh potensi desa yang terus dikembangkan, seperti keberadaan komunitas lokal dan pemuda desa yang aktif menjaga kebersihan serta kelestarian alam, tempat ini menyimpan peluang besar sebagai destinasi ekowisata unggulan di Kabupaten Malang. Dengan segala daya tarik yang dimilikinya, Umbulan layak disebut sebagai permata tersembunyi di kaki Gunung Semeru—sebuah oase alami yang menanti untuk ditemukan.

Tari Beskalan: Warisan Budaya dari Mimpi Leluhur

Sumber: Bu Surti sebagai anak Pak Tekenu

Tak hanya alam, Ngadireso juga menyimpan warisan budaya dalam bentuk kesenian tradisional. Salah satu yang paling unik adalah Tari Beskalan, sebuah tarian penyambutan yang dipercaya berasal dari mimpi seorang sepuh desa bernama Mbah Muskayah pada tahun 1940-an. Menurut penuturan cucunya, Pak Tekenu, "Mbah Muskayah bermimpi dirinya sedang menari, dan setelah terbangun, ia benar-benar dapat menarikan gerakan tersebut" ungkapnya.

Tarian ini kemudian dikenal masyarakat sebagai Tari Beskalan, yang digunakan untuk menyambut tamu dan sebagai bagian dari ritual adat seperti tayupan. Gerakannya menyerupai ngeremo, yakni gaya khas penyambutan dalam tari klasik Jawa, dan diiringi oleh gamelan serta gong. Hingga kini, makna kata Beskalan sendiri belum diketahui secara pasti, namun fungsinya sebagai simbol penghormatan dan keramahan masih terus dijaga.

Menghidupkan Kembali Ruh Desa Melalui Wisata Berbasis Budaya

Upaya yang dilakukan oleh mahasiswa MMD 32 Universitas Brawijaya menjadi satu langkah kecil namun bermakna dalam menghidupkan kembali ruh Desa Ngadireso melalui narasi sejarah, budaya, dan alamnya. Dari kisah Topo Broto dan Sri Kuning, hingga kolam alami Umbulan yang jernih dan tarian Beskalan yang sakral—semua menjadi potensi luar biasa yang jika dikelola secara serius dapat menjadikan Ngadireso sebagai desa wisata berbasis budaya dan ekowisata yang kuat.

Sumber: Penulis

Dzakwan Iqbal Ramadhan, sebagai anggota MMD kelompok 32 yang menggali informasi mengatakan “Identitas lokal bukan sekadar menggali masa lalu, melainkan mengaitkannya dengan masa kini dan masa depan. Di tengah arus modernisasi, Desa Ngadireso hadir sebagai ruang yang menawarkan pelarian dari penatnya kesibukan sekaligus pelajaran, bahwa desa bukan hanya tempat tinggal, tapi juga ruang hidup penuh makna yang layak dikenalkan pada dunia.

#SDGs

#SDGsNo8

#DecentWorkandEconomicGrowth