Konten dari Pengguna

Darah yang Jauh dari Kamera: Sudan dan Keheningan dari Komunitas Internasional

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dzakwan Amali Murabbi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi masyarakat Sudan (Unspalsh; Yassir, 2021).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi masyarakat Sudan (Unspalsh; Yassir, 2021).

Asal-usul Perang

Pada tanggal 15 april 2023, perang yang kembali berkecamuk di Sudan. Kali ini, konflik berasal dari ketegangan antara Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces, SAF) dan Angkatan Sokongan Cepat (Rapid Support Force, RSF) (Descifrando la Guerra, 2025). Konflik tersebut pecah karena sengketa demi kekuatan antara pemimpin masing-masing kelompok, yaitu Abdel Fattah Al-Burhan dan Mohamed Hamdan Dagalo (juga dikenal sebagai “Hemedti” atau “Hemetti”). Yang awalnya hanya bermula sebagai perang internal telah berubah menjadi simbol kegagalan PBB dalam menjaga perdamaian dunia (IECAH, 2024).

Perang ini berakar pada kerja sama kedua kelompok militer untuk menyelenggarakan transisi pemerintahan setelah tumbangnya mantan presiden Sudan, Omar Al-Bashir, pada tahun 2019. Beberapa tahun setelahnya, ketegangan antara mereka tumbuh subur karena ketidaksetujuan mengenai cara RSF nantinya akan diintegrasikan ke dalam angkatan militer Sudan. Menurut konferensi pers UNHCR (UNHCR, 2024), sekitar 10 juta orang telah menjadi pengungsi internal (internal refugee), sementara 2 juta lainnya terpaksa mencari suaka di luar negeri (kebanyakan menuju Chad, Mesir dan Sudan Selatan). Jika terus berlanjut, situasi ini dikhawatirkan sekali dapat dimanfaatkan oleh adidaya daerah (regional power) seperti Arab Saudi, Iran, Rusia dan Uni Emirat Arab dengan diubah menjadi medan perang proksi (proxy war).

Ketidakstabilan yang dibawa oleh pertempuran pada sistem politik, ekonomi serta pangan Sudan, yang diperburuk lagi oleh bencana paceklik dan banjir, mengubah perang saudara ini menjadi salah satu krisis kemanusiaan yang paling parah pada zaman modern.

Pembersihan Etnis

Dilansir dari El País (2024), selain serangan kepada rakyat sipil yang tak terhitung, masuknya RSF ke daerah Darfur juga menyebabkan banyak sekali pembantaian suku-suku non-Arab, terutama para Masalit, Fur dan Zaghawa, yang kelompok-kelompok HAM seperti Amnesty International (2024) telah anggap sebagai “genosida”.

Kampanye-kampanye ini berbahan bakar kebencian hasil dari ketegangan dan kelangkaan sumber daya antara populasi non-Arab dan Arab, yang mantan presiden Al-Bashir pernah manfaatkan sebagai casus belli (alasan berperang) untuk melenyapkan pemberontakan mereka. Kejahatan-kejahatan tersebut mencakup pembunuhan ribuan penduduk Darfur, pelaksanaan taktik bumi hangus (scorched earth) di pusat urban, pengosongan daerah-daerah secara paksa, serta kekerasan seksual sistematis terhadap wanita dan anak-anak perempuan.

Keheningan

PBB dikritik keras karena belum maksimal mengerahkan sumber daya dan lembaga-lembaganya untuk menghentikan perang saudara tersebut. Kurangnya liputan intensif dari kantor berita internasional mengenai perang yang telah membuat 10 juta orang menjadi pengungsi internal menunjukkan sedikitnya ketertarikan dunia pada mandi darah yang sedang terjadi sampai detik ini.

Liputan internasional yang disambut oleh konflik ini tidak sebesar dengan konflik Israel-Palestina atau operasi militer istimewa Rusia di Ukraina, yang telah menjadi kritik dari berbagai organisasi perlindungan pengungsi (Columbia Journalism Review, 2025). Selain ketidaktertarikan publik terhadap tema ini, wartawan yang memberitakan perkembangan konflik juga kerap dipenjarakan, disiksa dan dibunuh yang alhasil menyebabkan eksodus ratusan wartawan mencari suaka di luar negeri.

Sara Qudah, Direktur Daerah Afrika Timur dan Utara (MENA) Committee to Protect Journalists (CPJ), mengucapkan, “keadaannya terlalu sulit untuk ditebak sehingga para wartawan tidak tahu jika mereka akan bisa membuat berita, apalagi bertahan hidup pada esok harinya”. Meneurut beliau, wartawan menghadapi ancaman konstan dipenjara, disiksa dan dibunuh, baik melalui penargetan langsung maupun kekerasan yang tak memandang bulu. "Banyak yang telah bersembunyi, berhenti mencetak, atau memakai nama samaran saat beroperasi” beliau tambahkan.

Lebih parahnya, kedua kubu tersebut sudah lama mengincar infrastruktur wartawan Sudan secara sistematis, menurut beberapa lembaga pengawas. Diambil dari Columbia Journalism Review (2025), beberapa kelompok bersenjata telah menjarah, menduduki serta merobohkan stasiun televisi dan radio utama Sudan, terutama yang berada di Khartoum. Percetakan telah berhenti karena penjarahan, kekurangan bahan bakar, dan kerusakan parah. Ini mengakibatkan banyak surat kabar menghentikan operasi sepenuhnya atau pindah ke mancanegara.

Pembatasan partisipasi publik dalam industri jurnalisme dalam negeri Sudan membolehkan kedua faksi yang berperang ini mencengkeram dengan erat monopoli berita melalui kampanye malinformasi besar-besaran di jaringan media sosial dengan tujuan memperparah luka-luka yang sudah terbuka (Daily Sabah, 2025). Amar Salah Omar, pengungsi asal Sudan yang pindah ke Paris, bilang, “kami mencari kebenaran, tapi sukar sekali. Mereka semua berbohong, dan informasi yang kami punyai sangatlah sedikit”.

Pada bulan Agustus awal, sebuah kantor televisi pro-RSF memberitakan kejadian pesawat terbang asal Uni Emirat Arab yang ditembak jatuh saat membawa tentara bayaran dari Kolombia. Meski tak ada bukti, berita tersebut tersebar ke seluruh negeri. Sementara pada bulan Oktober, gambar penggantungan di depan umum menjadi tenar setelah dipersembahkan oleh delegasi Algeria di PBB sebagai bukti penganiayaan RSF, meski pada nyatanya gambar-gambar tersebut muncul beberapa bulan yang lalu di Chad.

Kesimpulan

Perang saudara Sudan terus berkobar sampai sekarang karena kombinasi antara kurangnya respons langsung dari organisasi global seperti Dewan Keamanan PBB, serta sedikitnya liputan yang diterimanya di berita dan media sosial. Kewajiban etis kita semua, tak peduli akademisi, tentara, wirausaha atau orang biasa, adalah membicarakannya sebanyak mungkin sehingga masyarakat sadar akan daruratnya situasi di Sudan.

Daftar Pustaka

Agence France-Presse - AFP. (2025, November 21). Social media fuels Sudan’s civil war, humanitarian crisis. Daily Sabah. https://www.dailysabah.com/world/africa/social-media-fuels-sudans-civil-war-humanitarian-crisis

Akua, N. (2021). The Hidden Toll of Reporting on the Sudanese Civil War. Columbia Journalism Review. https://www.cjr.org/news/journalism-reporters-sudan-civil-war.php

Ali, A. H. (2025, January 3). Guerra silenciosa de Sudán, una crisis ignorada que pone en riesgo al mundo. Trtespanol.com; TRT Español. https://www.trtespanol.com/article/1493399200

Con el empeoramiento de la crisis en Sudán, la comunidad internacional solicita medidas en la Asamblea General de la ONU | ACNUR. (2024). ACNUR. https://www.acnur.org/noticias/comunicados-de-prensa/con-el-empeoramiento-de-la-crisis-en-sudan-la-comunidad

Conflicto de Sudán. (2024, April 15). Amnistía Internacional. https://www.amnesty.org/es/projects/sudan-conflict/

Dos años de la guerra de Sudán: el mayor éxodo interno jamás registrado a nivel global. (2025, April 15). CEAR; Comisión Española de Ayuda al Refugiado (CEAR). https://www.cear.es/noticias/aniversario-guerra-sudan/

Guerra civil de Sudán. (2025, March 5). Descifrando La Guerra. https://www.descifrandolaguerra.es/coberturas/guerra-civil-de-sudan/

https://www.facebook.com/bbcnews. (2025a, November 6). Se hizo rico vendiendo camellos y oro: ahora sus tropas controlan la mitad de Sudán - BBC News Mundo. BBC News Mundo.

https://www.bbc.com/mundo/articles/c2dr7er2ze6o

https://www.facebook.com/bbcnews. (2025b, November 11). “Nuestra única misión es matar”: cómo la brutal milicia de Sudán perpetró una masacre en la ciudad de El Fasher - BBC News Mundo. BBC News Mundo. https://www.bbc.com/mundo/articles/cn4j8pw082vo

La guerra se agrava en Sudán con 3.384 civiles muertos en la primera mitad de 2025. (2025). RTVE.es.

https://www.rtve.es/noticias/20250919/guerra-sudan-civiles-muertos-2025-onu/1673

718.shtml

Sudán y Gaza, muestra de la inacción internacional. (2024). Www.msf.es. https://www.msf.es/noticia/sudan-y-gaza-muestra-la-inaccion-internacional