Konten dari Pengguna

Sastra Bandingan Nusantara dan Kekayaannya

Dzikra Mufti

Dzikra Mufti

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dzikra Mufti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pembaca sastra, sumber gambar https://pixabay.com.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembaca sastra, sumber gambar https://pixabay.com.

Indonesia merupakan salah satu negeri yang sangat kaya sebagai sumber penelitian sastra bandingan. Kekayaan ini tidak terlepas dari keragaman bahasa yang hidup dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara. Bahasa, sebagaimana dikemukakan Damono (2009), merupakan kristalisasi nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan. Ratusan kebudayaan etnik di Indonesia telah melahirkan beragam tradisi kesenian, sebagian di antaranya mencapai bentuk sebagai tradisi tulis dan cetak. Kekayaan tersebut menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi kajian sastra bandingan, khususnya dalam konteks Nusantara.

Namun, tidak semua bahasa di Indonesia memiliki aksara. Hanya beberapa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, Bugis, dan Batak yang mengembangkan sistem aksara sendiri. Daerah-daerah ini kemudian menghasilkan berbagai jenis karya sastra tulis yang masing-masing berdiri sendiri, tetapi sekaligus memiliki keterkaitan satu sama lain (Damono, 2009). Hubungan tersebut dapat dilihat dari kesamaan tema, pengaruh budaya, hingga bentuk dan fungsi sastra dalam masyarakat. Inilah yang membuat sastra Nusantara menarik untuk dikaji secara bandingan, karena memperlihatkan dinamika pertemuan antarkebudayaan dalam satu wilayah geografis.

Sastra, sebagai bagian dari kebudayaan, tidak lahir secara terpisah dari kondisi alam dan lingkungan sosialnya. Geografi dan sumber daya alam turut menentukan pembentukan masyarakat serta tata nilai yang dianut. Dalam karya sastra, semua unsur tersebut dicatat, diolah, dan ditanggapi secara kreatif. Oleh sebab itu, membaca sastra Nusantara berarti juga membaca cara masyarakat memahami alam, kekuasaan, kepercayaan, dan kehidupan sosialnya.

Dalam konteks sastra bandingan Nusantara, Clements (dalam Damono, 2009) mengelompokkan masalah kajian ke dalam beberapa bentuk, yaitu: genre dan bentuk, periode, aliran, dan pengaruh, serta tema dan mitos. Pengelompokan ini membantu peneliti melihat pola-pola kesastraan yang berkembang lintas daerah dan lintas zaman.

Genre yang berkembang di Nusantara sangat beragam. Salah satu genre penting adalah wiracarita yang hadir dalam berbagai bentuk, seperti syair, kidung, kakawin, hikayat, beragam jenis teater rakyat, serta pelipur lara. Keberagaman bentuk ini menunjukkan kemampuan sastra Nusantara dalam menyesuaikan diri dengan medium, fungsi, dan kebutuhan masyarakat pendukungnya. Menurut Ikram (dalam Damono, 2009), genre yang paling digemari di Indonesia adalah sastra didaktik, karena masih dianggap sebagai intipati dari segala sastra. Hal ini menunjukkan bahwa sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan penanaman nilai.

Selain itu, sejarah sastra merupakan genre yang hampir selalu hadir dalam berbagai kebudayaan. Salah satu cirinya adalah fungsinya sebagai alat legitimasi kekuasaan. Dalam upaya merunut asal-usul suatu bangsa, sejarah sastra kerap dimulai dari mitologi yang menjelaskan asal mula dunia dan masyarakat. Di sisi lain, mantra juga menjadi genre yang selalu hadir dalam kebudayaan Nusantara. Sebagai bagian dari tradisi lisan, mantra digunakan sebagai wahana untuk mencapai berbagai maksud dan tujuan, baik yang bersifat spiritual, sosial, maupun praktis.

Dengan demikian, sastra bandingan Nusantara membuka ruang pembacaan yang luas terhadap kekayaan budaya Indonesia. Melalui perbandingan genre, tema, dan bentuk sastra, kita dapat memahami bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan fondasi bagi dialog budaya yang telah lama hidup di Nusantara.