Konten dari Pengguna

Gen Z dan Childfree: Tren atau Trauma?

Dzikra Almayda Patra

Dzikra Almayda Patra

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dzikra Almayda Patra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi childfree. (sumber: https://www.vecteezy.com/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi childfree. (sumber: https://www.vecteezy.com/)

Tren baru terus muncul di kalangan Gen Z, satu tren baru ini mungkin akan menimbulkan banyak perdebatan bagi banyak orang: keputusan untuk memilih hidup tanpa anak atau childfree. Childfree merupakan pilihan hidup pasangan suami istri untuk tidak memiliki anak dalam hubungan pernikahan mereka (Jurianto & Islam, 2024). Bagi generasi sebelumnya, memiliki anak adalah hal yang sangat dijadikan prioritas. Apalagi dengan adanya prinsip “banyak anak, banyak rezeki” menjadikan pemikiran untuk memiliki banyak anak sebagai jaminan masa depan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, prinsip tersebut mulai memudar. Bagi sebagian generasi muda saat ini atau Gen Z, keputusan untuk tidak memiliki anak merupakan cara mereka untuk menjaga kesehatan mental, fokus untuk pengembangan diri, dan kebebasan. Tapi, sebenarnya apa alasan mereka memutuskan untuk hidup tanpa anak?

Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa alasan Gen Z memilih untuk tidak memiliki anak.

1. Kesehatan mental

Salah satu faktor yang membuat mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak adalah karena mereka sudah lebih sadar terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental. Mereka yakin bahwa mengurus anak memiliki banyak tantangan. Tantangan-tantangan tersebutlah yang menjadi penyebab utama timbulnya stress. Sehingga, mereka mencoba menghindari tekanan-tekanan yang berdampak negatif terhadap kesejahteraan mentalnya. Apalagi, banyaknya tuntutan-tuntutan hidup menjadi pertimbangan yang besar untuk memilih childfree.

2. Trauma masa lalu

Trauma masa lalu bisa menjadi alasan mengapa Gen Z memilih untuk childfree. Pengalaman-pengalaman negatif yang pernah mereka alami, seperti korban dari perselingkuhan orang tua, tumbuh dari keluarga broken home, atau tumbuh dari keluarga yang tidak harmonis dan penuh konflik, mempengaruhi keputusan mereka untuk childfree. Trauma masa lalu tersebut yang membuat mereka takut untuk menjadi orang tua, mereka khawatir jika mereka akhirnya menjadi orang tua, mereka akan melakukan hal yang buruk terhadap anak mereka.

3. Finansial

Alasan terbesar seseorang memilih untuk childfree adalah karena finansial. Biaya hidup yang semakin tinggi membuat timbulnya keraguan pada Gen Z untuk memiliki anak. Mereka mulai menyadari bahwa membesarkan anak membutuhkan biaya yang besar. Adanya tanggung jawab finansial yang besar membuat Gen Z khawatir mengenai kemampuan mereka dalam menyediakan masa depan yang baik bagi anak mereka.

4. Kecemasan akan masa depan

Mereka khawatir tentang masa depan karena banyaknya tantangan yang akan mereka hadapi, mulai dari perlunya kesiapan mental dalam membesarkan anak, berkurangnya waktu untuk diri sendiri, hingga pemenuhan biaya hidup anak yang besar, membuat timbulnya kecemasan akan masa depan. Tantangan-tantangan tersebut yang akan menimbulkan beban psikologis, bagi diri mereka sendiri dan anak mereka di kemudian hari.

5. Perubahan pandangan dalam menilai kebahagiaan

Pandangan bahwa memiliki anak merupakan kewajiban dan sebagai tolak ukur dari kebahagiaan, perlahan mulai berubah. Gen Z menyadari bahwa kebahagiaan tidak hanya berasal dari memiliki anak, dengan adanya kebebasan dalam mengejar minat dan pengembangan diri dapat menjadi suatu kebahagiaan bagi mereka. Ambisi yang tinggi untuk mencapai kesuksesan, mengejar karier, dan mengejar minat, merupakan prioritas bagi sebagian orang. Hal tersebut yang memungkinkan mereka untuk memilih childfree. Selain itu, sebagian Gen Z juga menganggap bahwa memiliki anak bisa menjadi penghalang dalam mencapai tujuan dan ambisi mereka.