COVID-19 dalam Komponen Paradigma Keperawatan

Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya
Tulisan dari Earlene Devita Wibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini, seluruh masyarakat di dunia sedang berjuang untuk pulih dari pandemi COVID-19 yang telah menyerang seluruh belahan dunia sejak Desember 2019. Meskipun pandemi COVID-19 telah menyerang selama 2 tahun lamanya, pandemi ini masih belum bisa dianggap usai untuk saat ini karena terdapat beberapa negara seperti Korea Selatan dan Jepang yang mengalami lonjakan pasien COVID-19. Bagi dunia keperawatan, tentunya COVID-19 merupakan sebuah musibah yang memiliki dampak yang besar untuk keperawatan dan perawat-perawat di seluruh dunia.
Paradigma keperawatan merupakan suatu pandangan terhadap suatu fenomena yang ada dalam dunia keperawatan. Paradigma keperawatan mempunyai 4 komponen penting, yaitu manusia, kesehatan, keperawatan, dan lingkungan. Apa saja dampak COVID-19 terhadap komponen-komponen paradigma keperawatan?
1. Komponen Paradigma Keperawatan: Manusia
COVID-19 sangat berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan manusia, antara lain pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain. Pada bidang pendidikan, semua murid di seluruh dunia harus melakukan pembelajaran secara daring. Tak hanya murid, banyak pekerja kantor yang juga melakukan pekerjaannya dari rumah atau biasa disebut Work From Home (WFH). Kurangnya bersosisalisasi saat terjadi pandemi juga dapat menimbulkan mental manusia yang semakin memburuk dari hari ke hari. Hal itu ditakutkan dapat menjadi perasaan khawatir saat bersosialisasi dan bertemu banyak orang di masa depan. COVID-19 juga dapat berpengaruh pada bidang ekonomi manusia. Seperti yang terjadi pada gelombang pandemi pertama dan kedua, ekonomi masyarakat di seluruh dunia akan menurun saat terjadi penyebaran varian Covid-19 terbaru karena masyarakat enggan untuk berjualan dan membeli sesuatu secara langsung karena takut terpapar varian COVID-19.
2. Komponen Paradigma Keperawatan: Kesehatan
COVID-19 sangat berpengaruh pada keadaan kesehatan seseorang. Terlebih lagi varian Omicron bermutasi lebih cepat dibandingkan varian Delta dan varian SARS-CoV-2. Hal tersebut dapat menyebabkan derajat kesehatan menurun dari waktu ke waktu. Padahal, beberapa waktu yang lalu derajat kesehatan manusia di seluruh dunia mulai meningkat akibat masa pemulihan dari gelombang pandemi kedua varian Delta. Namun, apabila terdapat gelombang pandemi varian baru, dikhawatirkan akan membuat derajat kesehatan manusia di seluruh dunia menurun kembali.
3. Komponen Paradigma Keperawatan: Keperawatan
Selain berpengaruh terhadap bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan masyarakat yang ada di dunia, COVID-19 juga berdampak besar pada keperawatan. Hal ini disebabkan karena perawat merupakan garda terdepan dalam menangani pasien yang terpapar COVID-19. Hal tersebut menyebabkan perawat memiliki risiko terpapar COVID-19 jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat lain. Maka dari itu, perawat juga membutuhkan persiapan lebih matang untuk menangani pasien-pasien yang terpapar COVID-19. Selain itu, perawat juga harus mempelajari dan menerapkan metode keperawatan terbaru untuk menyesuaikan dalam masa pandemi varian Omicron untuk penyakit-penyakit lainnya.
4. Komponen Paradigma Keperawatan: Lingkungan
COVID-19 juga berdampak sangat buruk terhadap lingkungan. Hal tersebut dikarenakan pandemi membuat limbah medis di seluruh dunia semakin menumpuk. Hal itu disebabkan masyarakat yang sering menggunakan masker sekali pakai. Selain itu, alat pelindung diri atau APD yang digunakan oleh tenaga medis juga menjadi sumber terbesar dari limbah medis. Bertambahnya limbah medis ini dinilai sangat berbahaya apabila terus-menerus menumpuk dan tidak ada inovasi untuk daur ulangnya. Hal tersebut disebabkan karena terdapat virus-virus berbahaya yang dapat dengan mudah menular kepada orang lain apabila limbah medis tidak dikelola dengan baik.
Selain dampak buruk, COVID-19 juga dapat berdampak postif terhadap lingkungan. Masyarakat yang sebagian besar belajar dan bekerja dari rumah mengakibatkan berkurangnya polusi udara di beberapa kota besar di dunia. Selain itu, hal tersebut juga membuat berkurangnya pembakaran bahan bakar minyak atau BBM karena berkurangnya penggunaan transportasi untuk bepergian. Meskipun penurunan aktivitas industri berdampak pada penurunan di bidang ekonomi, namun hal tersebut berdampak positif pada lingkungan hidup karena mengurangi pencemaran polusi udara dan air dari pabrik yang beroperasi sehingga dapat lebih menjaga dan melestarikan lingkungan.
