Congor, Entri Baru dalam Glosarium Koruptor
Tulisan dari Eben E Siadari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata ‘Congor’ muncul dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 18 September 2026. Jaksa memunculkannya pada kasus dugaan suap importasi barang di lingkungan Ditjen Bea dan Cukai, yang menampilkan saksi mantan Kepala KPPBC Marunda, Ahmad Dedi (AD).
Mulanya ialah ketika jaksa mengangkat sebutan Decong dalam sidang. Decong adalah singkatan dari Dedi Congor, yang oleh sirkel terdakwa dalam kasus itu, disematkan sebagai nama julukan bagi AD. Hal itu diketahui setelah jaksa melakukan pengecekan melalui aplikasi GetContact.
Atas hal itu, saksi menyampaikan protes keras. Ia kecewa dan terkejut karena baik di lingkungan keluarga maupun di antara teman-temannya, panggilan demikian tidak pernah ia ketahui, apalagi dengarkan.
Fakta di persidangan ini banyak dijadikan sebagai berita oleh media. Mungkin karena lucu, tetapi mungkin juga karena reaksi AD dalam menyikapinya.
Tulisan ini ingin menganalisis mengapa ada yang menamai AD dengan julukan itu? Apa makna ‘Congor’ dalam glosarium para terdakwa suap/korupsi dalam kasus ini? Kontribusi apa yang diberikan penemuan julukan ini bagi memotret praktik korupsi?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan dapat membantu memotret praktik korupsi di Indonesia, terutama dalam menggunakan kata-kata tertentu. Esai ini mencoba menganalisisnya menggunakan beberapa konsep dalam teori ilmu komunikasi. Namun sebelumnya terlebih dahulu secara ringkas disajikan duduk perkara mengapa ia dihadapkan sebagai saksi.
Duduk Perkara
AD menjadi saksi dalam dakwaan suap dan gratifikasi Rp 78,8 Miliar atas tiga terdakwa yakni eks Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sumatera Bagian Barat R, eks Kepala Subdirektorat Intelijen Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai SS, dan eks Kepala Seksi Intelijen Bea Cukai, OH.
Ketiga terdakwa diduga menerima suap berupa uang sebesar Rp 61,7 miliar serta fasilitas hiburan dan barang mewah senilai Rp1,8 miliar. Total nilai suap yang didakwakan mencapai Rp 63,5 miliar.
Jaksa mendakwa suap diberikan oleh beberapa eksekutif Blueray Cargo Group untuk mempercepat proses pengeluaran barang impor dalam pemeriksaan kepabeanan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
R diduga menerima sekitar Rp 14 miliar, SS sekitar Rp 7 miliar, sedangkan OH menerima sekitar Rp 4,05 miliar serta fasilitas hiburan dan barang mewah senilai Rp 1,51 miliar.
Secara khusus, jaksa ingin membuktikan alur penyerahan barang bukti berupa foto goodie bag yang diduga kuat berisi uang suap dari terdakwa OH atas perintah terdakwa SS kepada AD.
JPU juga berupaya menggali sejauh mana kedekatan dan pengetahuan AD mengenai aliran dana dari bos PT Blueray Cargo serta konfirmasi profil dan julukan Decong yang kerap muncul dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) maupun kontak telepon pihak lain.
Selain saksi dalam kasus ini, AD secara paralel juga sedang menghadapi jeratan hukum dalam kasus Dugaan Gratifikasi oleh Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor).
Penyidikan kepolisian membidik praktik korupsi yang diduga dilakukan AD saat ia masih menjabat sebagai Kepala Seksi Penindakan Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) Ditjen Bea dan Cukai selama rentang waktu tahun 2008 hingga 2016.
Dalam konstruksi perkara PT Blueray Cargo yang sedang disidangkan di KPK, AD juga dituding oleh jaksa telah menerima aliran uang terpisah bernilai Rp30 miliar.
Makna Peyoratif Congor
Perilaku komunikasi yang memunculkan julukan ‘Congor’ untuk AD dapat dibedah menggunakan Teori Manajemen Kesan (Impression Management Theory) dari Erving Goffman (1959) yang mengajukan pendekatan Dramaturgi.
Menurut pendekatan ini, kehidupan sosial sama dengan sebuah pertunjukan teater. Ada panggung depan dan ada panggung belakang. Panggung depan adalah area publik, tempat segala sesuatu yang terbaik dari seorang aktor ditampilkan dalam peran sosialnya. Sedangkan panggung belakang adalah panggung privat, tempat aktor dapat melepas peran sosialnya.
Julukan ‘Congor’ bagi AD jelaslah sesuatu yang tersembunyi di panggung belakang. Congor ketika disematkan kepada hewan, mungkin bermakna netral. Namun ketika disematkan kepada manusia, ia menjadi bermakna buruk. Itu tampak dari keberatan AD ketika kata itu dipakai sebagai julukan bagi dirinya.
Karena bermakna buruk, sangat logis bila kata ‘Congor’ berkembang hanya di panggung belakang (back stage), bila meminjam pendekatan dramaturgi Hoffman. Sementara di panggung depan (front stage) AD jelas berusaha menampilkan citra diri sebagai seorang pejabat yang penuh wibawa.
Mengapa ‘Congor’ disematkan pada AD? Ada berbagai premis yang dapat diajukan.
Pertama, ‘Congor’ kemungkinan diasosiasikan dengan karakter perilaku komunikasi. Secara semantik, kata ‘Congor’ dalam bahasa pergaulan atau dialek daerah sering kali merujuk pada mulut dalam diksi tidak sopan. Julukan itu disematkan kepada seseorang kemungkinan karena ia gemar membual (banyak congor) atau bisa juga sering melontarkan gertakan kosong, seperti memamerkan klaim-klaim tinggi.
Dalam sidang, terungkap bahwa AD pernah mengirimkan foto ID-nya sebagai agen BIN dan staf khusus Menkopolhukam, kepada beberapa koleganya. Di persidangan ia berkata itu sekadar lucu-lucuan. Namun, kesan dari penerima gambar, apalagi jaksa, tidak demikian.
Kedua, julukan ‘Congor’ dapat juga disematkan kepada seseorang yang dinilai terlalu banyak menuntut dan tuntutannya berat untuk dipenuhi. Dalam lingkaran birokrasi yang koruptif, transaksi sering kali melibatkan negosiasi di bawah meja. Dalam proses negosiasi itu masing-masing pihak membaca karakter lawan negosiasinya.
Julukan ‘Congor’ sangat mungkin muncul dari interaksi tersebut. Julukan itu disematkan sebagai simbol frustrasi terhadap sosok yang dinilai hanya bisa menuntut tanpa mempertimbangkan risiko yang dipikul oleh orang yang dituntut melakukannya.
Ketiga, julukan ‘Congor’ sebagai praktik body shaming. Secara harfiah, ‘Congor’ merujuk pada bagian moncong hewan yang menonjol. Dalam sosiologi pergaulan di lingkungan kerja, tidak tertutup kemungkinan adanya unsur cemoohan fisik tersembunyi dalam kata itu. Ia dipakai sebagai bahan olok-olokan di panggung belakang yang kemudian diabadikan secara personal di daftar kontak ponsel.
Keempat, kata ‘Congor’ dapat muncul sebagai permainan kata (wordplay) untuk memodifikasi nama formal. Ini adalah premis yang paling sederhana namun kerap terjadi dalam manajemen data ponsel. Misalnya, nama Decong dipakai untuk membedakan AD dari orang-orang dengan panggilan serupa di dalam daftar kontak ponsel.
Pelepasan Emosi di Panggung Belakang
Adanya kesenjangan citra antara panggung depan dan panggung belakang dengan kemunculan julukan ‘Congor’, memunculkan premis yang lain. Jika nama julukan peyoratif secara rahasia disematkan kepada sosok yang dikenal dan sering menjadi mitra berkomunikasi (nomor ponselnya disimpan) ada kemungkinan ini merupakan kejengkelan yang terpendam tetapi tidak dapat disalurkan secara terbuka.
Mengapa kejengkelan itu tidak dapat disalurkan secara bebas? Pertama, kemungkinan karena batasan struktural birokrasi yang menyebabkan relasi kuasa yang tidak seimbang. Hubungan antara bawahan dengan atasan, atau seseorang pengusaha yang membutuhkan perlindungan atau dukungan kelancaran urusan dari pejabat, dapat memunculkan ketidakberanian mengungkapkan kejengkelan. Kejengkelan yang terpendam akhirnya disalurkan secara pasif-agresif di panggung belakang dengan menyimpan nomor telepon dengan nama yang merendahkan. Ini merupakan bentuk katarsis atau pelepasan emosi.
Kasus ini semakin menarik ketika korban kejengkelan tidak serta-merta menghapus semua kontak dengan si pembuat jengkel. Kontak tetap dipelihara bahkan nomor ponsel si pembuat jengkel tersimpan utuh di ponsel yang bersangkutan. Padahal, bagi sebagian orang, hal itu cukup diatasi dengan tidak memasukkan nomor yang bersangkutan dari daftar kontak di ponsel.
Mengapa tindakan membuangnya dari buku telepon, atau setidaknya memblokirnya tidak dilakukan? Ini dapat dijelaskan dengan memakai teori pertukaran sosial John Thibaut dan Harold Kelley (1959).
Menurut teori ini, relasi dua belah pihak atau lebih didasarkan pada nilai relasi. Nilai relasi ditentukan oleh perbandingan manfaat dan biaya. Sepanjang manfaat lebih besar dari biaya, relasi dipandang masih bernilai.
Ironisnya, sering kali sebuah relasi yang dipandang tidak lagi bernilai positif, harus dipertahankan karena pilihan alternatifnya jauh lebih buruk. Pilihan alternatif dikesampingkan sangat mungkin karena biaya keluar dari hubungan (exit costs) sangat tinggi.
Ini menyebabkan seseorang bertahan karena mereka ingin menghindari biaya keluar yang tak tertanggungkan, seperti kerugian finansial yang besar atau sanksi sosial yang berat. Ini menjadi alasan yang dapat menjelaskan mengapa nama orang yang menjengkelkan tetap tersimpan di memori ponsel. Di permukaan atau di panggung depan relasi tersebut tampak tidak terganggu tetapi sesungguhnya telah mengalami degradasi parah di panggung belakang.
Bukan Pesta Pora
Premis-premis ini membawa kita kepada pemahaman bahwa praktik korupsi berlangsung dalam ketegangan komunikasi dan psikologi tingkat tinggi. Berbeda dengan metafora lain yang sering menggambarkan korupsi sebagai pesta pora bagi-bagi rezeki atau diibaratkan makan bersama ala bancakan, penggunaan julukan 'Congor' bermakna peyoratif dalam komunikasi menunjukkan terdapat disonansi di antara sesama sirkel yang tidak terungkapkan dan terpecahkan.
Ironisnya, meskipun ketegangan itu menyebabkan disonansi, pilihan untuk keluar dari relasi tidak dapat diambil karena adanya relasi kuasa yang menyebabkan risiko keluar dari jejaring lebih merugikan daripada tetap bertahan. Hal ini menghasilkan dugaan bahwa praktik korupsi terjadi dalam rangkaian jejaring yang saling mengikat dan mengunci.
Dalam meneguhkan citra di panggung depan, berbagai langkah dilakukan oleh anggota jejaring, termasuk dengan membuat impresi tentang kuasa dan pengaruh yang dimiliki. Mengirimkan foto kartu pengenal yang menunjukkan kebonafidan, salah satu contoh yang terungkap di pengadilan. Dengan membentuk kesan sebagai anggota instansi yang powerful, misalnya, seseorang ingin menunjukkan pengaruh dan kekuatannya sehingga mendapatkan imbalan balik berupa rasa hormat dan patuh.
Sayangnya imbalan yang diharapkan, termasuk dari lingkungan sirkel sendiri, ternyata tidak selalu terwujud. Bahkan yang terjadi dapat berupa kebalikannya meskipun tidak dikatakan secara terang-terangan, seperti munculnya julukan 'Congor' yang disematkan pada nama sosok yang dikesankan powerful.
Mewaspadai Reframing Media
Munculnya kata ‘Congor’ di pengadilan tipikor hanya sebagian kecil dari fakta persidangan. Meskipun demikian hal ini menarik karena JPU membuat terobosan dengan menghadirkan bukti digital berbasis penamaan kontak menjadi bukti yang tidak dapat disangkal tentang intensitas interaksi di panggung belakang di antara sirkel pelaku korupsi.
Masuknya ‘Congor’ sebagai salah satu entri dalam glosarium para terdakwa korupsi menjadi jalan masuk bagi JPU untuk menelisik praktik korupsi. Penemuan nama julukan itu menjadi kunci bagi jaksa untuk menyinkronkan laporan-laporan dan aliran dana suap, yang sering kali dicatat menggunakan sandi nama julukan. Ketika jaksa dapat membongkar ini, jejak digital para terdakwa dikuliti secara meyakinkan.
Meskipun demikian, catatan juga perlu dibuat tentang respons emosional yang ditunjukkan oleh AD atas julukan yang disematkan kepadanya. Respons emosional tersebut seharusnya tidak perlu ditonjolkan secara berlebihan, termasuk dengan membingkainya sebagai sebuah adegan dramatis di persidangan.
Pemberitaan tentang ekspresi kemarahan AD terhadap julukan itu perlu dilakukan dengan cermat, sehingga pembingkaian berita jangan sampai beralih kepada drama tentang kekurang-ajaran sesama sirkel, yang berujung pada pengalihan isu di ruang publik.
Dari segi minat insani (human interest) sebagai bagian dari nilai berita, drama tentang kekesalan dijuluki dengan nama tertentu yang lucu atau kasar mungkin segera memantik insting jurnalis untuk menjadikannya aspek yang ditonjolkan dalam penceritaan. Namun perlu kehati-hatian agar drama emosional yang tidak perlu tersebut mengubah framing pemberitaan.
Fokus jurnalisme tidak seharusnya bergeser dari substansi korupsi importasi barang yang rumit menjadi konflik personal antar-pejabat. Akibatnya pemberitaan menjadi terjebak pada reframing status "terduga pelaku korupsi" menjadi "korban perundungan atau penghinaan rahasia." Ini adalah taktik distraksi yang sebaiknya diabaikan agar tidak memecah konsentrasi opini publik.

