Konten dari Pengguna

Kita Belum Apa-apa bila Menganggap Menulis Sebagai Kesenangan

Makna Menulis bagi Abdulrazak Gurnah

Abdulrazak Gurnah, pemenang Nobel Sastra 2021 (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Abdulrazak Gurnah, pemenang Nobel Sastra 2021 (Foto: Wikimedia Commons)

Kebanyakan orang mengawali dunia kepenulisan dengan kesenangan. Tetapi perjalanannya kerap menukik ke dalam penderitaan.

Sering kali di ruang kelas tidak ada guru yang berani mengatakan ini. Mungkin mereka khawatir hal itu merusak mood murid yang tengah berbunga-bunga ingin jadi penulis.

Kisah Abdulrazak Gurnah, pemenang Nobel Sastra tahun 2021, menarik untuk dipelajari. Ia membagi tiga tahap kepenulisannya.

Pertama, kepenulisan di masa kecil. Ia menulis karena diminta menulis pada pelajaran Mengarang. Ia menulis sebagai wujud kepatuhan.

Kedua, di masa remaja, menulis sebagai kesenangan. Menulis untuk bikin hati nyaman.

Ketiga, menulis ketika menjadi orang asing dan tanpa tanah air. Ini menempa jatidiri kepenulisannya.

“Saya tidak menyadari hal ini sepenuhnya sampai saya pergi (melarikan diri ke) untuk tinggal di Inggris,” kata Gurnah dalam "Kuliah Penghargaan Nobel" yang disampaikannya pada 7 Desember 2021, sebelum menerima penghargaan itu.

“Di sana lah, dalam kerinduan akan kampung halaman dan di tengah penderitaan, saya mulai merenungkan begitu banyak hal,” kata penulis berdarah Yaman, namun lahir di Zanzibar, negara kepulauan di Afrika yang kini tinggal nama.

Menurut dia, di tanah rantau semakin besar kesadaran padanya bahwa ada sesuatu yang perlu ia katakan dan bahwa ada tugas yang harus ia selesaikan. Itu menjadi panggilan untuk menulis.

Abdulrazak Gurnah lahir 20 Desember 1948. Ia meninggalkan tanah kelahirannya, Zanzibar, pada usia 18 tahun. Ia mengungsi demi menyelamatkan diri setelah revolusi 1964 yang menggulingkan penguasa Zanzibar. Setelah itu Zanzibar bergabung membentuk Tanzania, sebuah negara yang terkenal dengan wisata safari dan satwa liar, serta Gunung Kilimanjaro, gunung berdiri bebas tertinggi di dunia.

Gurnah tak pernah menganggap Zanzibar lenyap. Ia mempertahankan hubungan kuat dengan negeri yang hilang itu melalui karya-karyanya.

Dalam kekalahan, orang sering menghibur diri dengan sejarah palsu. Gurnah tidak. Sejarah palsu itu sering ditulis oleh para pemenang. Dan bagi Gurnah, sejarah semacam itu “lebih sederhana” dengan narasi pilihan yang disesuaikan. Ia jauh dari kebenaran, tetapi karena dibuat oleh pemenang, menjadi kuat dan dominan.

Namun, kata Gurnah, selemah apa pun kebenaran, pasti ada yang mengingatnya.

Komite Nobel memilih Gurnah sebagai pemenang anugerah termasyhur itu oleh karena "penetrasinya yang tanpa kompromi dan penuh belas kasih terhadap dampak kolonialisme dan nasib pengungsi di jurang antara budaya dan benua." Karya-karya sastra Gurnah menjadi pintu bagi pembaca untuk memahami orang-orang yang tercerabut dari akar budayanya, dan hidup di 'tanah orang.'

Dalam novel By the Sea (2001) Gurnah mengisahkan seorang pencari suaka asal Zanzibar yang tiba di sebuah kota di Inggris. Penolakan, ingatan masa lalu, dan beban hidup seorang imigran menjadi sorotan utama dalam novel itu.

Gurnah melihat para pengungsi sebagai manusia seutuhnya. Bukan sebagai daftar nama-nama yang hanya perlu diketahui jumlahnya.

Pengalamannya sendiri serta empatinya yang sangat dalam, membuat karya-karyanya dapat menggambarkan para pengungsi sebagai insan-insan yang kehilangan akar. Mereka terjebak di tengah jurang perbedaan budaya, dan berjuang melawan rasisme di tempat baru.

Gurnah pernah berkata tentang perbedaan orang-orang sezamannya yang datang mengungsi ke negara-negara Barat dengan para pencari suaka yang datang belakangan. Dulu orang-orang datang dikarenakan keadaan yang pahit di negara asalnya. Mereka diteror dan harus berjuang melawan ancaman kematian. Pendatang belakangan lebih banyak didorong oleh motif ekonomi, mencari kehidupan yang lebih baik.

Para pencari suaka di era Gurnah harus menghadapi pergulatan jiwa yang mendalam. Perasaan tercerabut dari tanah kelahiran yang dicintai bercampur dengan perasaan terasing di tempat baru. Ada trauma mengingat masa lalu, tetapi juga rasa rindu yang tak terkatakan. Pada saat yang sama, mereka harus menerima kenyataan untuk hidup dengan identitas baru. Kompleksitas pembentukan identitas itu digambarkan oleh Gurnah dengan penuh nuansa.

Gurnah tidak pernah melihat kenyataan secara hitam putih. Karya-karyanya merupakan gambaran pergulatan sekaligus perlawanan terhadap dikotomi semacam itu. Ia mengeritik penjajahan dan kolonialisme. Namun, ia juga menyoroti kelemahan stratifikasi sosial di negara-negara jajahan jauh sebelum penjajah datang.

Dalam novel Desertion (2005) ia mengetengahkan kompleksitas cinta dalam budaya yang melihat perbedaan ras sebagai hambatan dan aturan kolonialisme yang mengekang. Martin Pearce, Amin, dan Rashid, tiga karakter dalam novel itu, terpaksa meninggalkan kekasih-kekasih mereka demi keluarga. Namun, Gurnah tak melakukan penghakiman. Tindakan yang diambil oleh tokoh-tokoh novelnya bukan tindakan kepengecutan biasa. Itu adalah hasil dari tekanan struktur sosial, ras, dan politik yang sangat kuat di masa mereka hidup.

Menurut Gurnah, ingatan adalah kekayaan yang sangat berharga bagi mereka yang telah kehilangan negara tempat mereka berasal. Karena itu merawatnya merupakan kewajiban yang tak dapat ditawar.

“Penting untuk melakukan upaya melestarikan ingatan itu, untuk menulis kisah-kisah yang dialami orang-orang, dan melaluinya mereka memahami diri mereka sendiri, yang ingin dihapuskan dari ingatan kita,” kata Gurnah.

Di Inggris, jauh dari peristiwa-peristiwa traumatis di negaranya yang ia tinggalkan, Gurnah justru tersiksa. Ia saat diganggu oleh ingatan-ingatan menyakitkan. “Saya menduga ini adalah salah satu beban orang-orang yang melarikan diri dari trauma dan mendapati diri mereka hidup aman, jauh dari orang-orang yang ditinggalkan.”

Terdengar seperti kontradiksi. Tetapi inilah yang terus memanggilnya untuk menulis, meskipun pahit.

Gurnah percaya menulis harus menunjukkan apa yang tidak dapat dilihat oleh mata. Misalnya, tentang hal-hal yang membuat mereka yang tampak lemah tetap merasa percaya diri tanpa hirau hinaan orang lain.

“Saya merasa perlu menulis tentang hal itu juga, dan melakukannya dengan jujur, sehingga keburukan dan kebaikan muncul, dan manusia keluar dari penyederhanaan dan stereotip.”

Ketika itu berhasil, kata Gurnah, semacam keindahan muncul dan “menulis menjadi bagian yang berharga dalam hidup saya.”

Gurnah menerima jabatan sebagai Profesor Sastra di Universitas New York Abu Dhabi pada tahun 2024. Ia juga merupakan Profesor Emeritus Sastra Inggris dan Pascakolonial di Universitas Kent. Di masa mudanya ia menempuh Pendidikan di Christ Church College, Canterbury, Inggris. Lalu melanjutkan studi di Universitas Kent, tempat ia memperoleh gelar PhD di bidang sastra.

Referensi

Erskine, Elizabeth, ed. (1989). Annual Bibliography of English Language and Literature for 1986. Vol. 61. W. S. Maney & Son.

Gurnah, A. (2001). By the Sea. London: Bloomsbury

Gurnah, A. (2006). Desertion. New York: Anchor

Hand, Felicity (2012). "Abdulrazak Gurnah". The Literary Encyclopedia. 15 August 2012 [http://www.litencyc.com/php/speople.php?rec=true&UID=11741, accessed 15 August 2012.]

Nobelprize.org (2021). Writing, Abdulrazak Gurnah Nobel Prize lecture.https://www.nobelprize.org/prizes/literature/2021/gurnah/lecture/