Mengapa Video Teh Rini Viral di Kalangan Orang Batak
Tulisan dari Eben E Siadari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nama Teh Rini pada hari-hari ini menjadi buah bibir di kalangan orang Batak. Buah bibir bukan dalam makna peyoratif, tetapi sebaliknya. Teh Rini yang berasal dari Sukabumi dipuji dan dikagumi karena ia sangaf fasih dan mendalam berbicara tentang banyak hal mengenai budaya orang Batak.
Ia, misalnya, lancar membicarakan silsilah sejumlah marga. Padahal, ini bukan topik mudah bagi orang Batak sendiri. Cukup banyak orang Batak, apalagi di kota-kota besar, tidak hafal lagi silsilah marga sendiri, apalagi marga orang lain.
Teh Rini , lulusan Fakultas Hukum Universitas Pasundan, Bandung, juga senang menyanyikan lagu-lagu Batak. Termasuk menyanyikan beberapa lagu dari Buku Ende, yakni buku nyanyian rohani HKBP, gereja (batak) terbesar di Indonesia. Ia bukan hanya hafal liriknya, tetapi juga tahu artinya.
Semakin seru karena ia pun mengenali idiom-idiom dalam budaya Batak popular. Kata-kata seperti jugul (bebal), burju (baik), dapat ia pergunakan tanpa kehilangan konteks dalam percakapan menggunakan Bahasa Indonesia. Secara sepintas ia tidak bisa dibedakan dengan orang Batak bilingual umumnya.
Dari menonton diskusinya dalam sebuah siniar belum lama ini (Anda dapat menyaksikannya pada siniar Terbatak-batak di @MARPODCAST_TBB), saya (sebagai orang yang fasih berbahasa Batak) menyimpulkan pengenalannya akan budaya dan silsilah Batak sangat mendalam, bukan hanya permukaan. Perempuan yang kini tengah menempuh studi S2 Manajemen Pendidikan di Universitas Islam Bandung ini, dengan tangkas menjawab berbagai pertanyaan random. Artinya, wawancara itu tidak di-setting untuk sengaja menunjukkan kebolehannya. ‘Ujian’ itu tidak hanya menunjukkan kecerdasannya, tetapi juga empatinya pada budaya yang dipelajarinya.
Tidak heran bila banyak orang Batak ‘jatuh cinta’ padanya.
“Aku batak asli malah gak hapal tarombo (silsilah), kalah banyak aku sama ito suka bumi yang hebat euuu,” tulis @ParmanLumbanSiantar.
“Hebat nih orang Sukabumi, orang Batak yang lahir di Bonapasogit ( di tanah leluhur ) sendiri belum tentu mampu /bisa menjabarkan sebaik ini,” tulis @RodickJeremy
“Tercengang-cengang aku....salut banget.....gak ada orang Batak yg seluas itu pengetahuannya tentang Batak. Jempol tak terkira kuberikan serta hati yg banyak dan ucapan Terima kasih, buat Teh Rini,” tulis @SortaRenta.
Menurut pengakuannya, Teh Rini (ia lebih senang memperkenalkan diri dengan nama itu) mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan orang Batak secara otodidak. Sebagian besar dilakukan lewat media sosial. Ia kerap melakukan siaran live melalui akun media sosialnya. Dari sana ia berinteraksi dengan banyak kalangan, terutama orang Batak.
Bermula dari terkesan pada sebuah lagu, ia tergerak untuk mempelajari arti dan falsafah orang Batak. Algoritma media sosial ternyata membawanya pada pencarian yang lebih mendalam. Ia sampai kepada hal-hal sangat filsafati, yang bagi sebagian orang Batak sendiri sudah dipandang sebagai pelajaran sangat lanjut (advanced), seperti filsofi di balik Padan (janji).
Orang semakin memberi apresiasi ketika mengetahui bahwa kefasihan dan pemahamannya tentang budaya Batak diwujudkan lewat akun media sosialnya saat membicarakan berbagai hal seputar budaya Batak. Uniknya, usaha yang dikembangkan lewat akun media sosialnya bergerak di usaha makanan ringan yang tidak ada kaitannya dengan budaya Batak. Ia samasekali tidak mengkomersialkan pengetahuannya tentang budaya Batak.
Mengapa Teh Rini Disukai?
Fenomena ini membawa pertanyaan teoritis yang menarik. Mengapa orang Batak memberi apresiasi sangat tinggi kepada Teh Rini? Apakah bisa dikatakan ini merupakan bagian dari fenomena bahwa kalangan sendiri (ingroup) akan cenderung memberikan legitimasi eomosional yang jauh lebih besar kepada orang luar (outgroup) yang menguasai budaya mereka, melampaui apresiasi terhadap anggota suku sendiri yang melakukan hal serupa? Dan, bila ya, dari fenomena positif ini, apa yang dapat kita pelajari?
Esai ini mencoba membedah fenomena ini menggunakan sudut pandang komunikasi antarbudaya dan teori ruang publik, sekaligus mengontekstualisasikannya sebagai urgensi penguatan ilmu bahasa di tengah dominasi narasi STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) di Indonesia. Tiga teori saya pakai membantu kita memahaminya, yaitu Teori Pelanggaran Ekspektasi (Expectancy Violations Theory - EVT), Teori Akomodasi Komunikasi (Communication Accommodation Theory - CAT, dan Teori Ruang Publik (The Public Sphere) Jurgen Habermas.
Pelanggaran Ekspektasi yang Mengagumkan
Menurut Teori Pelanggaran Ekspektasi (Expectancy Violations Theory - EVT) yang dikembangkan oleh Judee Burgoon (1978), setiap individu membawa seperangkat harapan (ekspektasi) tentang cara orang lain berperilaku berdasarkan latar belakang sosial dan budaya mereka. Ketika seseorang bertindak di luar skrip sosial tersebut, terjadilah "pelanggaran ekspektasi".
Meskipun disebut ‘pelanggaran’ tidak berarti ia selalu bermakna negatif. Teori ini justru mengenal konsep Violation Valence (penilaian positif atau negatif terhadap kejutan tersebut) dan Communicator Reward Valence (daya tarik, kredibilitas, atau posisi sosial si pelanggar). Jika komunikator memiliki nilai imbalan sosial yang tinggi, pelanggaran yang dilakukannya cenderung dinilai sebagai kejutan positif. Teh Rini berada pada posisi ini.
Teori kedua, Teori Akomodasi Komunikasi (Communication Accommodation Theory - CAT) dicetuskan oleh Howard Giles (1971), menjelaskan bahwa manusia cenderung menyesuaikan gaya komunikasi mereka—seperti bahasa, dialek, hingga pilihan topik—saat berinteraksi dengan kelompok lain. Strategi utamanya adalah konvergensi. Ini diartikan sebagai proses mengadaptasi perilaku komunikasi agar menjadi lebih mirip dengan lawan bicara demi mendapatkan persetujuan sosial (social approval), menunjukkan rasa hormat, serta memangkas jarak psikologis dan sosial.
Sedangkan teori tiga, teori ruang publik Jürgen Habermas, mengatakan bahwa ruang publik adalah wilayah dalam kehidupan sosial tempat masyarakat dapat berkumpul secara bebas, berdiskusi, dan membentuk opini publik tanpa intervensi dari otoritas negara maupun kepentingan pasar (komersial). Ketika direkonstruksi ke dalam lanskap modern menjadi ruang publik digital, teori Habermas menunjukkan bahwa ruang publik digital ini menjadi ruang bagi pembelajaran. Pengetahuan yang dulunya eksklusif (seperti silsilah/adat yang hanya disimpan oleh tetua adat) kini terbuka untuk diakses oleh siapa saja. Ia juga memungkinkan individu dari latar belakang berbeda (seperti seorang perempuan Sunda) masuk ke dalam diskursus budaya lain (Batak) secara setara.
Berpijak pada teori-teori ini kita bisa menjelaskan fenomena Teh Rini. Dari dua teori yang pertama, kita bisa mengatakan Teh Rini merupakan petunjuk bekerjanya sebuah pelanggaran ekspektasi yang bernilai sangat positif. Secara sosiokultural, masyarakat Batak—sebagai kelompok —memiliki ekspektasi dasar bahwa seorang perempuan Sunda (out group) tidak akan memiliki keterikatan, apalagi pemahaman mendalam, terhadap tradisi tutur dan silsilah mereka yang terkenal rumit serta kaku.
Maka ketika Teh Rini hadir di ruang digital dan dengan fasih melafalkan idiom serta garis keturunan Batak (seperti silsilah keturunan besar Parna), ia melakukan pelanggaran ekspektasi yang ekstrem. Apalagi ketika ia membawakannya dengan kapasitas sebagai intelektual, wiraswasta, dan pendidik yang komunikatif dan hangat, masyarakat Batak memberikan penilaian yang sangat positif.
Teh Rini semakin mengesankan karena ia tidak sekadar melakukan akomodasi di permukaan seperti memakai baju adat saat menari, melainkan melakukan konvergensi kognitif dengan menguasai struktur berpikir, silsilah marga, humor lokal, hingga rasa bahasa masyarakat Batak. Bagi suku Batak, upaya tulus dari seorang etnis Sunda ini dibaca sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
Ini menjawab pertanyaan mengapa orang Batak sendiri yang fasih tarombo tidak mendapatkan apresiasi sedahsyat Teh Rini. Dalam psikologi komunikasi, hal ini terjadi karena adanya atribusi situasional: orang dalam suku yang menguasai budayanya dianggap sebagai sebuah kewajiban moral yang inheren dan biasa (taken for granted).
Sebaliknya, ketika Teh Rini melakukannya, masyarakat lokal melakukan atribusi internal: mereka melihatnya sebagai sebuah pencapaian luar biasa yang didorong oleh ketulusan dan kecerdasan, bukan karena paksaan garis keturunan. Pihak luar di sini berfungsi sebagai cermin objektif yang memvalidasi bahwa kebudayaan mereka begitu berharga dan memikat di mata dunia luar (out group validation).
Produktif dan Inklusif di Dunia Maya
Dari sudut pandang teori ruang publik Habermas, fenomena Teh Rini memberi kita sisi yang menggembirakan atas internet dan dunia maya. Di tengah melimpah ruahnya konten negatif seperti hoax, penipuan, dan konflik ekstrem lewat media sosial, fenomena Teh Rini menunjukkan bahwa ruang publik digital dapat berfungsi secara produktif. Ruang itu menjadi arena menambah wawasan dan pengetahuan tentang budaya yang berbeda secara positif.
Fenomena populernya Teh Rini membawa pesan substantif bagi arah masa depan komunikasi publik di Indonesia yang majemuk. Kasus ini membuktikan secara empiris bahwa penguasaan terhadap bahasa dan budaya lokal adalah instrumen rekonsiliasi dan pemersatu bangsa yang paling efektif.
Di titik ini, fenomena Teh Rini menjadi otokritik yang tajam terhadap bias dalam kebijakan pendidikan nasional yang belakangan ini terlalu mendewakan bidang STEM dan meminggirkan ilmu humaniora. Pemerintah dan industri sering kali lupa bahwa interkoneksi fisik yang dibangun oleh infrastruktur teknologi (STEM) akan berujung pada ruang hampa jika interkoneksi psikologis antar-manusia gagal dirajut. Bahasa bukan sekadar alat transaksional untuk bertukar informasi, melainkan wadah memori, nilai, dan emosi sebuah peradaban suku.
Munculnya Teh Rini memberikan sinyal kuat bahwa literasi budaya dan linguistik lokal harus direposisi sebagai ilmu strategis nasional yang setara dengan STEM. Jika para pengambil kebijakan, guru, wiraswasta, dan aktor digital di Indonesia bersedia menurunkan ego kesukuannya untuk mempelajari bahasa suku tetangga seperti yang dilakukan Teh Rini, maka polarisasi dan ketegangan antar-suku di ruang nyata maupun digital dapat diredam secara organik.
Apresiasi luar biasa yang diterima Teh Rini dari masyarakat Batak bukanlah bentuk pengabaian terhadap potensi internal suku. Ia adalah respons psikologis alami manusia terhadap pengakuan tulus dari pihak luar.
Teh Rini berhasil meruntuhkan dinding pembatas in-group dan out-group lewat konvergensi bahasa yang menyentuh ranah emosional. Fenomena ini memberikan rujukan baru bahwa komunikasi antarbudaya di Indonesia dapat dikembangkan secara masif melalui jalur-jalur populer yang cair, seperti pertukaran kuliner, kolaborasi musik, busana, hingga konten digital.

