Konten dari Pengguna

Karhutla Kalimantan: Saat Sekolah Lumpuh Dilahap Asap

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ebenezer Matthew tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak Karhutla Kalimantan terhadap Lumpuhnya Ruang Kelas

siswa sekolah terdampak bencana Karhutla Kalimantan, dibuat dengan AI
zoom-in-whitePerbesar
siswa sekolah terdampak bencana Karhutla Kalimantan, dibuat dengan AI

Setiap kali musim kemarau tiba, bencana Karhutla Kalimantan seakan menjadi krisis tahunan yang tak kunjung usai. Langit berubah jingga pekat, partikel debu menginvasi udara, dan bau sengit gambut terbakar merasuk hingga ke dalam rumah.

Narasi utama media biasanya berputar pada kerugian ekonomi korporasi, vonis hukum bagi pembakar lahan, atau fluktuasi titik panas (hotspot). Namun, ada satu hal krusial yang kerap luput dari perhatian: lumpuhnya ruang-ruang kelas.

Ketika sekolah terpaksa diliburkan atau dipaksa pindah mendadak ke layar gawai, kita sebenarnya sedang menyaksikan krisis sistemik yang dalam. Fenomena ini bukan sekadar urusan cuaca, melainkan bentuk runtuhnya keseimbangan sosial yang bisa dibedah tajam lewat Sosiologi Pendidikan—khususnya Teori Struktural Fungsional.

Analisis Teori Struktural Fungsionalisme pada Karhutla Kalimantan

Dalam pandangan Talcott Parsons atau Émile Durkheim, masyarakat bekerja seperti organisme hidup. Ia terdiri dari berbagai organ—seperti ekonomi, hukum, keluarga, dan pendidikan—yang saling bergantung satu sama lain.

Jika salah satu organ mengalami kerusakan, organ lain pasti ikut terseret.

Dalam konteks Karhutla Kalimantan, lingkungan hidup bertindak sebagai "paru-paru" dari sistem sosial. Ketika tata kelola ekologis ambruk dan api melahap lahan, stabilitas seluruh ekosistem ikut kolaps.

Sekolah tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia butuh udara bersih, kesehatan fisik siswa, dan infrastruktur yang stabil agar roda pengajaran bisa berputar. Begitu kabut asap menembus batas aman kesehatan, sistem pendidikan otomatis tersendat.

Disfungsi Ganda Pendidikan akibat Karhutla Kalimantan

Dampak Karhutla Kalimantan terhadap dunia pendidikan dapat diurai melalui dua level fungsi institusi sosial: fungsi utama (manifest) dan fungsi tambahan (laten).

Pertama, fungsi manifest sekolah—yakni transfer ilmu secara langsung—langsung rontok. Ketika sekolah diliburkan berminggu-minggu, interaksi antara guru dan murid terputus.

Solusi instan berupa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sering kali gagal di lapangan. Di banyak wilayah pelosok Kalimantan, PJJ bukan solusi efektif, melainkan ilusi akses. Siswa bergulat dengan sinyal lemah, gawai seadanya, hingga kondisi fisik yang melemah akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kedua, fungsi laten sekolah ikut lumpuh. Sekolah bukan cuma tempat menghafal rumus, melainkan ruang aman (safe space) anak untuk bersosialisasi dan tumbuh.

Saat gerbang sekolah digembok karena asap, beban pengasuhan tumpah sepenuhnya ke rumah. Orang tua yang harus bekerja di tengah krisis lingkungan dipaksa memikul beban ganda.

Membenahi Sistem Pendidikan dan Bencana Lingkungan

Bahaya terbesar dari Karhutla Kalimantan yang berulang bukanlah sekadar kerugian materi, melainkan mentalitas normalisasi bencana.

Ketika kabut asap dan libur sekolah berubah menjadi agenda rutin tahunan, masyarakat dan pembuat kebijakan mulai menganggapnya sebagai "takdir musiman". Ini adalah bentuk adaptasi yang keliru (maladaptation).

Dampaknya? Kualitas SDM generasi muda di daerah terdampak mengalami learning loss berkala. Jurang ketimpangan pendidikan antara anak-anak di wilayah aman dengan anak-anak di zona merah bencana pun makin melebar dari tahun ke tahun.

Karhutla Kalimantan adalah alarm keras bahwa keseimbangan sistem sosial kita sedang terganggu. Memandang bencana ini sebatas urusan pemadaman titik api dengan water bombing adalah cara pandang yang terlalu sempit.

Pemerintah perlu melihat perlindungan sekolah sebagai bagian mutlak dari mitigasi bencana lingkungan. Kebijakan tata ruang, penindakan korporasi nakal, dan ketahanan fasilitas pendidikan di daerah rawan harus diintegrasikan dalam satu meja.

Sebab, membiarkan sekolah-sekolah di Kalimantan terus lumpuh karena asap sama saja dengan membiarkan masa depan satu generasi ikut terbakar perlahan di atas tanah gambut.