Konten dari Pengguna

Tenang di Tengah Bising: Dampak Filosofi Teras bagi Pengendalian Diri Anak Muda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ebenezer Matthew tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi buku Filosofi Teras
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buku Filosofi Teras

Di tengah tekanan akademik, tuntutan sosial, dan intensitas kehidupan digital, mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami ketegangan mental. Lingkungan belajar yang serba cepat, standar sosial yang tinggi, dan derasnya arus informasi sering kali membuat pikiran generasi muda semakin bising. Kondisi ini membuat mahasiswa membutuhkan pedoman filosofis yang praktis untuk mengendalikan kekhawatirannya. Salah satu pendekatan yang belakangan semakin banyak digunakan adalah Filosofi Teras, adaptasi modern dari Stoisisme, filsafat Yunani-Romawi kuno yang mengajarkan cara mencapai kebahagiaan dan ketenangan batin lewat kebajikan, logika, dan hidup selaras dengan alam.

Meski sudah berusia ribuan tahun, Stoisisme dinilai tetap relevan, bahkan semakin penting bagi anak muda yang hidup di era penuh distraksi. Di Indonesia, istilah Filosofi Teras sendiri dipopulerkan lewat buku karya Henry Manampiring.

Dikotomi Kendali: Prinsip Inti Filosofi Teras yang Membawa Ketenangan

Filosofi Teras bertumpu pada salah satu prinsip utama Stoisisme, yaitu fokus pada hal-hal yang berada di bawah kendali kita. Prinsip ini dikenal dengan nama "dikotomi kendali" (dichotomy of control). Intinya, kita diajak memusatkan perhatian pada respons pribadi, bukan pada masalahnya itu sendiri. Dengan begitu, kekhawatiran berlebih terhadap sesuatu yang di luar kendali bisa dihindari, dan energi dialihkan ke respons yang memang bisa kita atur.

Prinsip ini bukan tentang menekan perasaan. Ia tentang mengelola reaksi dan mempertajam cara berpikir rasional. Bagi generasi muda yang sering terjebak tekanan emosional akibat tuntutan sosial maupun akademik, pendekatan ini membantu melihat persoalan secara objektif tanpa larut dalam kecemasan.

Di dunia akademik, mahasiswa kerap stres karena nilai yang tidak sesuai harapan, standar penilaian dosen yang dianggap terlalu ketat, atau kelas yang tidak kondusif. Sekeras apa pun berusaha, selalu ada faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Lewat dikotomi kendali, mahasiswa diajak memahami bahwa usaha belajar, kedisiplinan mengerjakan tugas, dan cara merespons hasil nilai sepenuhnya ada di tangan mereka. Sebaliknya, penilaian akhir dosen, kebijakan kampus, dan tingkat kesulitan soal ujian berada di luar kontrol pribadi.

Dampaknya cukup terasa: mahasiswa tidak lagi menghabiskan energi untuk mengeluh soal hal-hal di luar kuasa mereka, dan beralih ke tindakan yang bisa dilakukan. Di sinilah inti ketenangan stoik, yaitu fokus pada langkah konkret, bukan kecemasan yang tak berujung.

Tekanan ini bukan sekadar perasaan. Studi pada mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas Gadjah Mada menemukan bahwa seluruh respondennya mengalami stres akademik tingkat sedang, dan stres itu berhubungan kuat dengan kecenderungan depresi (Azizah dkk., 2023). Sementara itu, penelitian kualitatif terhadap mahasiswa baru di UPI Kampus Cibiru melaporkan bahwa prinsip Stoikisme, terutama penerimaan terhadap kenyataan dan pengendalian diri, berperan dalam kematangan emosi mereka saat menghadapi tekanan kampus (Aljamaliah, Syihabuddin, & Darmadi, 2025). Kedua studi itu berskala terbatas dan punya konteks khusus, jadi hasilnya lebih tepat dibaca sebagai petunjuk arah, bukan bukti pasti.

Filosofi Teras Menghadapi Dunia Digital: Bisingnya Notifikasi, Perbandingan, dan FOMO

Selain tantangan akademik, mahasiswa masa kini menghadapi kebisingan lain yang tidak kalah membebani, yaitu dunia digital. Notifikasi tanpa henti, tekanan untuk selalu tampil sempurna, dan budaya perbandingan di media sosial sering menambah beban emosional. Banyak mahasiswa merasa tidak cukup baik karena terus melihat pencapaian orang lain di dunia maya, lalu muncul rasa tertekan, iri, atau takut tertinggal (fear of missing out atau FOMO).

Filosofi Teras menawarkan sudut pandang yang menenangkan: validasi orang lain, algoritma, dan tren digital bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Yang bisa dikendalikan adalah responsnya, yaitu kapan membuka aplikasi, konten apa yang dikonsumsi, kapan berhenti scrolling, dan bagaimana menilai diri sendiri saat melihat unggahan orang lain. Dengan cara berpikir ini, mahasiswa bisa membangun jarak emosional yang sehat dari hiruk-pikuk dunia digital dan menjaga kejernihan pikiran.

Filosofi Teras dan Psikologi Modern: Saat Stoisisme Bertemu CBT

Pendekatan stoik ternyata sejalan dengan teori psikologi modern seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang kerap dipakai dalam penanganan kesehatan mental. CBT menegaskan bahwa emosi tidak lahir langsung dari situasinya, melainkan dari cara kita menafsirkan situasi tersebut. Gagasan ini senada dengan pemikiran Epictetus, filsuf Stoa (dan juga banyak bergema dalam Meditations karya Marcus Aurelius), bahwa yang mengganggu manusia bukanlah peristiwanya, melainkan pendapat mereka tentang peristiwa itu.

Dengan kata lain, tekanan akademik tidak otomatis menciptakan kecemasan. Kecemasan muncul dari cara kita memaknai tekanan tersebut. Bila mahasiswa meyakini nilai rendah berarti kegagalan besar atau kekecewaan orang tua, kecemasan hampir pasti datang. Namun bila nilai dipandang sebagai umpan balik dan bagian dari proses belajar, reaksi emosionalnya menjadi jauh lebih sehat. Cara pandang yang sama berlaku saat menghadapi arus unggahan di media sosial: yang diubah bukan feed-nya, melainkan tafsir kita atasnya.

Dampak Filosofi Teras bagi Pengendalian Diri Mahasiswa

Penerapan Filosofi Teras dalam kehidupan sehari-hari berpotensi memberi dampak positif bagi pengendalian diri anak muda, meski bukti ilmiahnya masih terbatas pada studi-studi kecil. Dengan memahami dikotomi kendali, mahasiswa bisa mengurangi stres akademik karena tidak lagi memikirkan hal-hal yang di luar kuasa mereka. Fokus pun meningkat, sebab energi tidak terbuang untuk masalah yang tidak bisa diubah.

Kemampuan mengelola emosi ikut membaik karena mereka terbiasa merespons secara rasional, bukan impulsif. Pada akhirnya, Filosofi Teras memperkuat disiplin diri, membantu mahasiswa lebih bijak menghadapi distraksi digital, dan menumbuhkan karakter seperti kejujuran, keberanian, dan kebijaksanaan. Filsafat kuno ini bukan sekadar wacana, melainkan alat praktis untuk menjaga ketenangan batin di dunia modern yang semakin bising.