Harga Sebuah Kehilangan: Ketika Seorang Anak Menyaksikan Ayahnya Pergi

mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Manajemen
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Elvira Tresya Marselina Hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak ada anak yang benar-benar bisa menerima kehilangan ayahnya. Apalagi jika perpisahan itu terjadi mendadak, di depan matanya sendiri, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
Belakangan ini, media sosial sedang ramai membicarakan sebuah kejadian susah di Tabanan, Bali. Banyak orang membicarakan urutan peristiwa, siapa yang bersalah, dan bagaimana proses hukum akan berlangsung. Namun, di tengah begitu banyak informasi yang mengalir, perhatian saya justru tertuju pada satu orang yang mungkin tidak sering dibicarakan: seorang anak yang harus melihat ayahnya pergi selamanya.
Bagi saya, kehilangan seorang ayah bukan hanya berarti kehilangan tokoh keluarga. Seorang ayah adalah tempat yang membuat kita pulang, sumber ketenangan, dan orang yang secara diam-diam menanggung banyak beban agar keluarganya bisa hidup lebih baik. Tidak semua orang tua bisa menyampaikan kasih sayang dengan kata-kata, tetapi banyak di antaranya menunjukkan cinta mereka dengan berusaha keras dan berkorban, meskipun hal itu sering kali tidak terlihat oleh orang lain.
Maka setiap kali melihat seorang anak kehilangan ayahnya, saya selalu bertanya di dalam hati: bagaimana ia akan mengenang hari itu ketika ia sudah dewasa? Apakah yang tersisa hanyalah kenangan terakhir yang penuh rasa sakit?
Anak-anak belum mengerti tentang hal-hal rumit yang terjadi dalam urusan hukum atau konflik yang dihadapi oleh orang dewasa. Mereka hanya tahu bahwa orang yang biasa mengantar ke sekolah, menemani bermain, atau sekadar memeluk sebelum tidur, kini tidak akan pernah datang lagi.
Itulah sebabnya saya yakin bahwa setiap jenis kekerasan selalu menyebabkan korban yang lebih banyak daripada yang terlihat. Bukan hanya orang yang meninggal, tetapi juga keluarga yang harus terus hidup dengan luka yang mungkin tidak pernah benar-benar pulih.
Penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa anak yang melihat kekerasan bisa mengalami trauma yang berlangsung lama. Perasaan takut, cemas, mimpi buruk, hingga kesulitan mempercayai orang lain bisa menemani mereka selama bertahun-tahun. Luka jenis ini tidak terlihat secara fisik, tetapi dampaknya bisa mengubah cara seseorang memandang dunia seumur hidupnya.
Menurut saya, ini adalah alasan mengapa kita tidak boleh melihat sebuah tragedi hanya dari sudut hukum atau hanya menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Di balik setiap kejadian selalu ada keluarga yang harus menerima dampaknya. Ada anak yang kehilangan tempat untuk beristirahat, ada ibu yang kehilangan pasangan hidupnya, dan masa depan berubah dalam waktu yang sangat singkat.
Peristiwa di Tabanan juga mengingatkan kita bahwa proses hukum tetap harus menjadi cara utama untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Ketika emosi menguasai dan seseorang dihukum tanpa melalui proses yang benar, dampaknya tidak hanya terbatas pada satu orang saja. Lingkaran kehilangan akan terus menyebar ke orang-orang yang sama sekali tidak terlibat dalam mengambil keputusan.
Saya berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam mengelola perasaan dan mengajukan setiap kasus yang diduga melanggar hukum kepada pihak yang memiliki wewenang. Karena tidak ada keputusan yang diambil dalam keadaan marah yang benar-benar bisa mengembalikan apa yang sudah hilang.
Akhirnya, ketika berita itu perlahan lenyap dari media sosial dan digantikan oleh hal-hal lain, seorang anak masih hidup dengan kenangan tentang hari saat ia kehilangan ayahnya. Dan bagi saya, itulah harga sebuah kehilangan yang benar-benar ada.
Bagi saya, pelajaran terbesar dari tragedi ini bukan hanya tentang pentingnya mengikuti aturan, tetapi juga tentang pentingnya memiliki rasa empati. Di zaman media sosial sekarang, kita terlalu mudah terlibat dalam perdebatan dan menyebarkan berita, tetapi sering kali lupa bahwa orang-orang di balik informasi tersebut hanyalah manusia biasa yang memiliki keluarga, harapan, dan orang-orang yang peduli pada mereka.
Elvira Tresya Marselina Hasibuan, Mahasiswa Universitas Pamulang
