Bisikan Tragis di Lebak Bulus: Menggali Aspek Psikologis dan Pancasila

Mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Amanda Fiesa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Latar Belakang
Pada 30 November 2024, terjadi peristiwa tragis di Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, di mana seorang remaja berusia 14 tahun berinisial MAS membunuh ayah dan neneknya serta melukai ibunya. Peristiwa ini terjadi pada dini hari, saat korban sedang tidur. Pelaku mengaku mendengar bisikan yang membuatnya tertekan dan meresahkan sebelum melakukan tindakan tersebut. Polisi kini sedang mendalami motif yang mendasari perbuatan pelaku, termasuk kemungkinan gangguan psikologis yang bisa saja mempengaruhi perilakunya. Kasus ini menjadi sorotan publik setelah diberitakan oleh televisi channel tvOne, yang menyiarkan wawancara dengan psikolog terkait faktor-faktor yang melatarbelakangi perbuatan pelaku.
Faktor Penyebab Menurut Psikolog
Kasus ini mendapat perhatian dari psikolog anak dan remaja, Novita Tandry, yang mengungkapkan bahwa faktor penyebab tindak kekerasan yang dilakukan oleh MAS adalah kombinasi dari faktor psikologis, sosiologis, dan lingkungan. Novita menyatakan bahwa dalam kasus ini, faktor-faktor seperti kekerasan dalam keluarga, gangguan psikologis seperti kecemasan atau kepanikan, hingga pengaruh lingkungan sosial dan media bisa menjadi penyebab. "Selain itu, kecanduan obat-obatan, pengaruh narkoba atau alkohol, dan keputusasaan juga bisa berkontribusi," ujar Novita dalam wawancara dengan tvOne pada 30 November 2024.
Novita menekankan bahwa permasalahan dalam hubungan keluarga yang tidak mendapat perhatian profesional, serta pengaruh buruk dari media dan pertemanan, bisa memperburuk kondisi mental remaja. Ia juga menyarankan orang tua untuk lebih memperhatikan anak-anak mereka, terutama dalam membangun komunikasi dan memperbaiki hubungan agar anak-anak tidak memendam masalah yang bisa berakibat fatal. "Jika tidak ada komunikasi yang baik, anak-anak akan mencari cara untuk menghadapi tekanan tersebut, yang dalam beberapa kasus bisa berakhir dengan kekerasan," tambahnya.
Analisis Kasus
Kasus ini memunculkan banyak pertanyaan terkait kondisi psikologis dan sosial remaja di Indonesia. Pengakuan pelaku tentang mendengar bisikan menunjukkan adanya kemungkinan gangguan mental atau pengaruh faktor luar yang menekan psikologisnya, seperti stres akibat tekanan akademik atau masalah keluarga yang tidak teratasi. Di usia remaja, tekanan dari lingkungan sekitar, termasuk orang tua, bisa sangat mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Namun, hingga kini motifnya masih dalam penyelidikan, termasuk dugaan stres akibat tuntutan untuk belajar atau masalah lainnya yang mungkin muncul dalam kehidupan keluarga. Kasus ini juga menggugah kita untuk lebih memperhatikan kesejahteraan mental anak-anak dan remaja, yang sering kali terabaikan.
Nilai-Nilai Pancasila yang Tercermin
Dalam kasus ini, nilai-nilai Pancasila seharusnya menjadi pedoman yang mengarah pada penyelesaian secara manusiawi dan mendalam.
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab: Perlakuan yang adil terhadap pelaku sangat penting, mengingat usianya yang masih sangat muda. Pendekatan yang berfokus pada pemulihan psikologis pelaku harus menjadi prioritas, bukan sekadar hukuman semata.
Persatuan Indonesia: Kasus ini menunjukkan bahwa permasalahan keluarga yang berujung pada kekerasan dapat berdampak pada kerukunan sosial. Oleh karena itu, menjaga kedamaian dan solidaritas dalam keluarga adalah hal yang sangat penting. Keluarga harus menjadi tempat pertama yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Penanganan kasus ini harus dilakukan secara adil, dengan memberikan perhatian terhadap korban yang tewas dan korban luka, serta pemulihan bagi pelaku yang masih remaja. Keadilan tidak hanya berarti menghukum, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pelaku untuk memperbaiki diri.
Dampak Positif
Kasus ini menyadarkan masyarakat dan pemerintah akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja, serta perlunya sistem pendampingan psikologis yang lebih baik untuk mengidentifikasi gejala stres atau gangguan mental sejak dini. Hal ini membuka ruang untuk lebih banyak program kesehatan mental yang dapat diakses oleh keluarga dan remaja, agar tindakan kekerasan seperti ini bisa dicegah.
Dampak Negatif
Kejadian ini memberikan dampak negatif yang mendalam bagi keluarga korban, yang kehilangan orang terkasih. Keluarga pelaku juga akan menghadapi stigma dan trauma akibat peristiwa tersebut. Selain itu, meskipun pelaku masih di bawah umur, ia akan menghadapi konsekuensi hukum yang dapat mempengaruhi masa depannya. Kasus ini juga bisa meningkatkan ketakutan di masyarakat terkait keselamatan dalam lingkungan keluarga, yang seharusnya menjadi tempat yang paling aman.
Solusi
Untuk mencegah terulangnya kasus serupa, solusi yang dapat diambil adalah :
Memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan mental anak-anak melalui pendidikan yang berbasis pada pengelolaan emosi dan tekanan sosial.
Menyelenggarakan program pemantauan kesehatan mental yang lebih intensif di sekolah-sekolah dan di lingkungan keluarga.
Memberdayakan orang tua untuk mengenali tanda-tanda stres pada anak mereka serta mengajarkan cara untuk menciptakan komunikasi yang sehat dalam keluarga.
Memberikan pendampingan psikologis intensif bagi pelaku untuk membantu mereka memahami kondisi emosional dan psikologisnya, serta mendukung pemulihan mentalnya.
Kesimpulan
Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh MAS, seorang remaja 14 tahun, terhadap ayah dan neneknya di Lebak Bulus menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental remaja. Kejadian ini menegaskan perlunya penanganan yang lebih baik dalam hal edukasi dan dukungan keluarga agar kejadian serupa tidak terulang. Pancasila mengajarkan kita untuk menghargai kemanusiaan, berkeadilan, serta menjaga kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, yang seharusnya menjadi dasar dalam penanganan kasus-kasus kekerasan dalam keluarga. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesejahteraan mental generasi muda, agar mereka bisa tumbuh menjadi individu yang sehat secara fisik dan mental.
Artikel ini dibuat oleh Amanda Fiesa, seorang mahasiswi Universitas Pamulang (UNPAM), untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila yang diberikan oleh dosen pengampu, Bapak Mawardi Narullah, S.Pd.,M.Pd.
