Konten dari Pengguna

OPINI: Dari Aristotle ke Situasi Chat — Etika Relationship Zaman Now

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amanda Fiesa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Relationship (Source: https://www.freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Relationship (Source: https://www.freepik.com)

Dari Aristotle sampai Situasi Chat Hari Ini— Etika dan Filsafat Relationship Zaman Now

Pernah nggak sih kamu di-chat cuma “p”, atau lebih parahnya lagi—di-ghosting padahal udah ngobrol seru tiap malam?

Selamat datang di realitas relationship zaman now, di mana komunikasi bisa secepat swipe, tapi juga sekompleks pertanyaan hidup Aristotle: apa sih sebenarnya makna hubungan yang baik?

Etika Hubungan dari Aristotle

Di era Yunani kuno, Aristotle sudah berbicara panjang soal relasi dan etika. Dalam Nicomachean Ethics, ia menyebut bahwa hidup yang baik adalah hidup yang dijalani dengan kebajikan (virtue) dan penuh makna (eudaimonia). Termasuk dalam hubungan antarmanusia.

“Friendship is a virtue or involves virtue, and is besides most necessary for our life.”

(Nicomachean Ethics, Book VIII)

Buat Aristotle, pertemanan atau hubungan yang sehat adalah bagian integral dari hidup bermoral. Artinya, relasi nggak cukup hanya seru-seruan atau sekedar pengisi waktu luang, tapi harus melibatkan nilai kebaikan. Hubungan semacam itu adalah hubungan yang mendalam, yang dibangun dengan saling menghormati, peduli, dan menjaga integritas.

Sayangnya, di era sekarang, hubungan sering jadi seperti fast food: cepat, instan, tapi minim nilai. Bisa terhubung kapan saja lewat teknologi, namun apakah kita benar-benar terhubung dalam makna yang lebih dalam?

Hubungan Cepat, Tanpa Arah?

(Source: https://www.freepik.com)

Sekilas, kita terlihat lebih mudah terhubung. Ada WhatsApp, Instagram, bahkan fitur unsend yang katanya bisa menyelamatkan gengsi. Tapi pertanyaannya: apakah komunikasi kita masih bermakna, atau malah cuma basa-basi yang ujungnya bikin bingung?

Aristotle membagi tiga jenis hubungan:

  1. Karena Manfaat (utility): Teman yang hanya hadir saat kamu membutuhkan sesuatu, baik itu bantuan atau keuntungan.

  2. Karena Kesenangan (pleasure): Teman yang hadir karena mereka menyenangkan atau memberikan hiburan.

  3. Karena Kebaikan Bersama (goodness): Hubungan yang berdasarkan saling menghargai nilai karakter satu sama lain, yang paling ideal.

Mayoritas hubungan digital hari ini sering jatuh ke dua jenis pertama. Chat-an karena gabut, dekat karena lucu atau nyaman sesaat, lalu hilang saat udah nggak relevan. Padahal, hubungan terbaik menurut Aristotle adalah yang dilandasi saling menghargai nilai dan karakter masing-masing.

“Perfect friendship is the friendship of men who are good, and alike in virtue; for they wish well alike to each other qua good.”

(Nicomachean Ethics, Book VIII)

Situationship: Nyaman Tapi Nggak Bertanggung Jawab

Ilustrasi Situationship (Source: https://www.freepik.com)

Nah, ini dia fenomena yang makin sering terjadi: situationship. Kedekatan tanpa status, jalan bareng tanpa kepastian, dan komunikasi yang intens tapi tanpa arah. Keduanya merasa "ada sesuatu", tapi nggak cukup berani untuk menyepakati komitmen atau nilai yang jelas.

Kalau pakai teori Aristotle, situationship sering masuk ke kategori relasi karena kesenangan atau manfaat. Nyaman? Iya. Tapi etis? Belum tentu. Apalagi kalau salah satu pihak berharap lebih, tapi yang satu lagi menghindari kejelasan.

Situationship rawan melanggar etika komunikasi: membiarkan orang lain menggantung, memberi harapan samar, lalu menghilang begitu saja saat suasana berubah. Aristotle akan bilang: relasi tanpa kejelasan dan tanggung jawab bukan kebajikan, tapi bentuk egoisme yang dibungkus dengan kedekatan semu.

Ghosting, Love Bombing, dan Gaslighting: Realita Tanpa Etika

(Source: https://www.freepik.com)

Fenomena seperti ghosting, love bombing, atau gaslighting adalah bentuk nyata pelanggaran terhadap etika komunikasi. Di zaman Aristotle, mungkin istilah ini belum ada, tapi prinsip moralnya sudah jelas: hubungan yang baik tidak memanipulasi, tidak meninggalkan tanpa alasan, dan tidak mempermainkan perasaan.

Ketika seseorang memilih untuk diam, menghindar, atau “seen doang” setelah hubungan intens, itu bukan cuma masalah personal—tapi juga masalah etika. Sebab komunikasi, sekecil apapun, adalah cermin dari nilai-nilai yang kita pegang.

Membawa filsafat ke layar chat: Etika dalam Setiap Pesan

Etika dalam relationship bukan hanya soal setia atau enggak. Itu juga soal jujur, empati, dan mengetahui batasan. Pernahkah kamu merasa disakiti hanya karena sebuah pesan singkat yang tidak lengkap? Seen” tanpa penjelasan bisa lebih terasa menyakitkan kalau komunikasi dibiarkan menggantung tanpa penjelasan. Ini adalah pelanggaran terhadap etika komunikasi yang seharusnya didasarkan pada rasa hormat.

Aristotle mengajarkan kita bahwa relasi yang baik dibentuk lewat habit of goodness—kebiasaan berbuat baik. Jika kamu terbiasa mengabaikan atau menghindari komunikasi yang tidak nyaman, jangan salahkan pasanganmu kalau hubunganmu terasa stuck. Sebaliknya, jika kamu melatih diri untuk lebih terbuka dan bertanggung jawab dalam berkomunikasi, maka hubungan yang terjalin pun akan menjadi lebih bermakna.

Kesimpulannya?

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh notifikasi ini, kita butuh jeda untuk mikir: sudahkah cara kita berkomunikasi dalam relationship mencerminkan nilai-nilai etis? Jangan-jangan, kita sibuk cari “the one” tapi lupa jadi pribadi yang komunikasinya bertanggung jawab.

“Mulailah dari membalas pesan dengan jujur, bukan basa-basi.

Jadi, sebelum kamu ngetik “lagi sibuk, nanti aku kabarin ya”, coba tanya dulu ke hati kecilmu: Aristotle bakal setuju nggak ya?

Penulis Amanda Fiesa, seorang mahasiswi Universitas Pamulang (UNPAM).