Konten dari Pengguna

Delman, Romantisme Klasik di Tengah Hiruk Pikuk Malioboro

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Paradiesa Churiyya Layyina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Delman Yogyakarta (Sumber: dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Delman Yogyakarta (Sumber: dokumentasi pribadi)

YOGYAKARTA – Malioboro adalah pusat wisata Yogyakarta, lebih dari sekedar nama jalan. Di tengah bisingnya klakson kendaraan bermotor dan kerumunan wisatawan yang memadati Malioboro, terselip bunyi gemerincing lonceng kecil yang beradu dengan langkah kaki kuda di atas aspal panas menjadi romantisme yang tak asing di jantung Kota Yogyakarta. Inilah andong, atau yang sering disebut sebagai delman.

Sebelum menjadi wisata budaya, delman merupakan simbol status sosial dan cara transportasi di abad ke-19. Delman adalah kendaraan yang digunakan para bangsawan dan pejabat keraton, hanya kalangan tertentu yang boleh memilikinya. Sekarang, di tengah padatnya arus wisata Malioboro, delman masih menjadi pilihan transportasi yang diminati wisatawan. Kendaraan tradisional yang ditarik kuda ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai wisata yang menawarkan pengalaman berbeda untuk menikmati kehidupan kota Yogyakarta.

Setiap sore hingga malam hari, delman berjajar rapi di beberapa titik strategis Malioboro. Wisatawan tampak antusias menaiki kendaraan ini untuk berkeliling kawasan pusat kota. Tarif perjalanan yang terjangkau serta rute yang fleksibel membuat delman tetap eksis hingga hari ini. Wisatawan dapat berkeliling Malioboro hingga Titik Nol dengan membayar Rp. 200.000. Selain itu, suara khas yang dihasilkan oleh tapak kuda dan roda delman adalah sesuatu yang tidak dapat ditemuan di transportasi lain. Menaiki delman merupakan cara favorit bagi wisatawan untuk lebih dekat dengan Yogyakarta.

Bagi para kusir, delman bukan sekadar mata pencaharian, melainkan warisan budaya yang harus dijaga. Sebagian besar dari mereka telah menekuni profesi ini sejak kecil dan bahkan sudah menjadi hobi tersendiri. “Saya sudah menjadi kusir dari SD awalnya keran turunan dari keluarga, tapi lama-lama saya jadi suka dan akhirnya menjadi hobi.” Ucap Aat Dwi Putranto seorang kusir delman.

Ia mengatakan bekerja sebagai kusir adalah sesuatu yang menyenangkan, bertemu dengan wisatawan, berperan sebagai pemandu yang kerap berbagi cerita tentang sejarah kota, kehidupannya sebagai kusir, dan tradisi lokal Yogyakarta. Interaksi inilah yang membuat profesinya terasa lebih hidup dan bermakna.

Di sisi lain, tantangan tetap ada. Kepadatan lalu lintas dan isu negatif yang beredar mengenai delman menjadi tantangan utama yang dihadapi. Meskipun pemilik kuda tahu dengan baik ketika kuda mereka lelah dan membutuhkan istirahat, tetapi isu yang beredar dengan komen negatif di sosial media menjadi hal yang sering dipertanyakan ketika ada wisatawan yang akan menaiki delman.

Meski demikian, Aat menyatakan bahwa para kusir memiliki tanggung jawab besar terhadap kesejahteraan kuda yang menjadi rekan kerja mereka. Ia menjelaskan bahwa kuda dirawat layaknya keluarga sendiri, dengan makanan teratur, mandi, dan istirahat sesuai kondisi tubuhnya. Jam kerja kuda pun dibatasi agar tidak kelelahan, terutama saat arus wisata di kawasan Malioboro sedang padat. “Kalau kudanya sudah capek, saya pasti tau. Saya udah biasa merawat kuda dari kecil, ga mungkin saya gatau.” ujarnya.

Isu negatif yang kerap beredar di media sosial, sering kali muncul dari potongan video singkat tanpa konteks yang utuh. Hal ini membuat sebagian wisatawan ragu untuk menaiki delman dan mempertanyakan kesejahteraan kuda. Para kusir harus memberi penjelasan lebih banyak tentang hal itu kepada wisatawan, meyakinkan bahwa delman dijalankan dengan memperhatikan kondisi kuda. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri, karena stigma tersebut dapat berdampak langsung pada pendapatan mereka.

Di tengah tantangan itu, solidaritas antar kusir menjadi kekuatan utama. Mereka saling mengingatkan jadwal istirahat kuda dan berbagi informasi terkait rute yang aman serta tidak terlalu padat. Bagi mereka delman bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga tentang menjaga identitas Yogyakarta sebagai kota budaya. Keberadaan delman memberi ruang interaksi yang lebih hangat antara wisatawan dan warga lokal.

Pada akhirnya, delman di Yogyakarta bukan sekadar alat transportasi, melainkan tentang keberlanjutan budaya dan ruang hidup di tengah hiruk-pikuk Yogyakarta. Selama masih ada kusir yang merawat kudanya dengan sepenuh hati dan wisatawan yang menghargai prosesnya, delman akan terus melaju pelan di jalanan kota. Delman tetap menjadi simbol perjalanan yang manusiawi tenang, hangat, dan bermakna.