Gastronomi Betawi Sebagai Identitas Jakarta

Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Benediktus Edi Woda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jakarta memiliki mozaik budaya yang kaya. Di tengah gemerlap Ibu Kota kuliner Betawi seperti kerak soto Betawi, Asinan, dan semur jengkol—menjadi penanda identitas yang tak ternilai. Gastronomi Betawi bukan sekadar soal rasa, tetapi juga cerita sejarah, filosofi, dan perpaduan budaya Melayu, Tionghoa, Arab, hingga Belanda. Namun, di balik kelezatannya, warisan ini terancam punah akibat globalisasi dan perubahan gaya hidup.

Data dari Survei Indonesian Gastronomy Community (IGC) 2024 mengungkap fakta mencemaskan: hanya 30% generasi muda Jakarta berusia 18–35 tahun yang mengenal lebih dari tiga jenis makanan Betawi. Soto Betawi atau kerak telor mungkin masih familiar, tetapi hidangan seperti sayur babanci atau bubur asin kini nyaris terlupakan. Generasi muda lebih akrab dengan sushi, bubble tea, atau kopi kekinian, yang dipromosikan masif melalui media sosial. Globalisasi telah membawa restoran cepat saji dan kafe estetis ke setiap sudut kota, sementara warung kuliner Betawi sering dianggap kuno. Padahal, gastronomi Betawi menawarkan kekayaan narasi budaya yang tak kalah menarik, dari lontong cap go meh yang mencerminkan akulturasi Tionghoa hingga laksa Betawi yang telah ada sejak abad ke-12, sebagaimana tercatat dalam prasasti Majapahit.
Tantangan ini diperparah oleh kendala yang dihadapi UMKM kuliner Betawi. Banyak pelaku usaha kecil kesulitan bersaing karena kurangnya inovasi penyajian dan promosi digital. Kerak telor yang disajikan di atas daun pisang mungkin autentik, tetapi kurang menarik bagi konsumen urban yang mencari estetika Instagrammable. Kemasan plastik sekali pakai dan minimnya penggunaan bahan lokal juga membuat kuliner Betawi kurang selaras dengan tren keberlanjutan yang kini digandrungi. Akibatnya, UMKM terdesak oleh merek internasional yang lebih agresif dalam pemasaran dan inovasi.
Namun, meskipun menghadapi pelbagai tantangan kuliner Betawi bisa tetap relevan melalui pendekatan modern. Inovasi seperti semur jengkol dalam kemasan premium, kue rangi dengan variasi rasa matcha, atau bir pletok sebagai minuman non-alkohol yang menghangatkan dapat menarik minat generasi muda dan pasar global. Kuliner Betawi adalah cerita keberanian budaya. Kita harus berani berinovasi tanpa kehilangan akar otentik.
Kolaborasi antara pelbagai stakeholder dan komunitas dapat memberdayakan UMKM melalui pelatihan inovasi produk, pemasaran digital, dan praktik keberlanjutan. Dukungan Lembaga keuangan melalui perbankan yang aksesibel terhadap UMKM kuliner melalui festival kuliner dan program dining eksklusif, dapat membawa cita rasa Betawi ke segmen premium. Sementara itu mendirikan pusat kuliner Betawi di mal-mal modern juga patut dipertimbangkan, memungkinkan hidangan seperti sayur godog atau asinan Betawi diakses dengan nyaman oleh masyarakat urban.
Sementara itu Indonesian Gastronomy Community (IGC) aktif melestarikan kuliner Indonesia melalui berbagai upaya, seperti, mempromosikan gastrodiplomasi dengan festival kuliner global, memberdayakan UMKM melalui pelatihan inovasi dan pemasaran digital, serta mendorong keberlanjutan dengan gerakan antilimbah dan penggunaan bahan lokal dalam program seperti Gastronosia dan Petualangan Gastronomi Nusantara. IGC juga berkontribusi pada pencegahan stunting dengan edukasi gizi berbasis pangan tradisional, meningkatkan literasi gastronomi melalui talkshow seperti “Nasionalisme Rasa,” dan berkolaborasi dengan pemerintah.
Gastronomi Betawi juga memiliki potensi besar dalam gastrodiplomasi. Makanan Betawi seperti bir pletok dapat menjadi duta budaya di kancah internasional, sebagaimana rendang atau nasi goreng telah melakukannya. Dengan strategi promosi yang tepat misalnya, melalui media sosial dengan konten visual menarik atau festival kuliner global kuliner Betawi bisa menembus pasar dunia, sekaligus memperkuat identitas nasional.
Pelestarian kuliner Betawi bukan hanya tanggung jawab UMKM atau pemerintah, tetapi juga kita semua. Generasi muda perlu diajak mengenal kekayaan ini melalui edukasi di sekolah, konten digital, atau acara budaya seperti Pesta Budaya Jakarta. Mari jadikan gastronomi Betawi sebagai kebanggaan, bukan sekadar nostalgia, tetapi sebagai gaya hidup modern yang berkelanjutan. Seperti kata pepatah Betawi, “Jagalah rasa, jagalah jati diri.” Rasa Jakarta harus tetap hidup, di hati, di lidah, dan di masa depan.
Oleh: Benediktus Edi Woda/ Peneliti Gastronomi Nusantara dan Dosen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
