Pelajar atau Berandal?

Correspondent, based in The Hague
Tulisan dari Eddi Santosa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lulus sekolah kok corat-corat baju, menebar teror dan ketakutan, merusak, menghancurkan harta benda milik orang lain, menyerang dengan senjata tajam. Ini bukan pelajar, tapi berandal.
P.A.F. van Veen dan N. van der Sijs (1997) dalam Van Dale Etymologisch Woordenboek (Kamus Etimologi Van Dale) menjabarkan bahwa berandal itu pembuat rusuh, pengacau (1901-1925).
Makna yang sama dijelaskan oleh P.J. Veth e.a. (1889/1910, 2003) dalam Uit Oost en West: Verklaring van 1000 woorden uit Nederlands-Indië (Dari Timur dan Barat: Penjelasan 1000 Kata dari Hindia Belanda).

Pengacau. Pembuat rusuh. Brutal. Merusak. Menyerang. Melukai orang lain. Mengganggu ketertiban umum. Untuk bisa seperti itu, berbuat lebih rendah dari hewan (hewan pun tidak seperti itu) tak perlu sekolah selama 12 tahun dan orangtua keluar ongkos banyak.
Menyerang orang lain dengan gir dan senjata tajam, bukankah itu sangat sakit rasanya? Membuat orang lain cacat bekas luka seumur hidup. Lalu di mana akal budi dan rasa empati hasil sekolah?
Dari seharusnya menjadi beradab malah menjadi tambah biadab. Ini perilaku kriminal, penjahat. Bukan pula itu suatu kemajuan untuk dibanggakan, tapi suatu kemunduran.

Dulu pelajar didikan Belanda, sisa-sisa pengaruhnya masih membekas sampai angkatan 60 sampai 70-an, selain kecerdasan, terutama terbentuk perilakunya: beschaafd (beradab), beleefd (sopan), fatsoenlijk (santun), netjes (necis, rapi), gedisciplineerd (terbiasa dengan tata tertib dan susila).
Para lulusan HBS (Hogere Burgerschool), setingkat SMA sekarang, lulusannya memiliki karakteristik seperti itu, menonjol di tengah masyarakat, dari tutur kata sampai perilaku. Muncullah julukan terpelajar. Itulah pelajar. Ayo sekolah biar seperti itu.
Mau tahu cara pelajar-pelajar di Belanda merayakan lulus sekolah? Begitu mendapat pengumuman lulus dari pihak sekolah, mereka menggantungkan tas sekolah dan bendera nasional di rumah masing-masing.
Jadi, jika orang melihat ada bendera berkibar dan di bagian atasnya ada tas atau ransel sekolah, orang akan tahu bahwa anak dalam keluarga itu telah berhasil lulus sekolah. Tradisi ini tetap berlangsung sampai sekarang.
Lulus SMA, usianya rata-rata sudah 18 tahun, itu sudah dewasa menurut Undang-undang. Polisi seharusnya tidak hanya memberi hukuman push-up, melainkan penegakan hukum.
Orang-orang yang menjadi korban, baik fisik maupun harta benda juga sebaiknya menuntut mereka dengan prosedur hukum, supaya ada sinyal tegas agar tidak menjadi preseden buruk yang diikuti lulusan-lulusan berikutnya.
Tindak tegas berandal-berandal itu!
