Konten dari Pengguna

Pendidikan di Pelosok: Mencari Cahaya Ilmu di Tengah Keterbatasan

Edija Manullang

Edija Manullang

Mahasiswa universitas Katolik Santo Thomas medan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Edija Manullang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh, Doni lumbantoruan, mahasiswa fakultas ilmu komputer universitas katolik santo thomas medan.

Indonesia bukan hanya Jakarta atau kota besar. Di balik gemerlapnya pusat kota, masih ada ribuan anak di pelosok yang harus menempuh jalan terjal, menyeberangi sungai, hingga berjalan berkilo-kilometer hanya untuk sampai ke sekolah.

Dibuat dengan teknologi AI DALL·E oleh OpenAI, untuk kebutuhan edukatif dan editorial.
zoom-in-whitePerbesar
Dibuat dengan teknologi AI DALL·E oleh OpenAI, untuk kebutuhan edukatif dan editorial.

Di daerah seperti pedalaman Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, atau Papua, pendidikan masih menjadi kemewahan yang tidak semua anak bisa akses. Bangunan sekolah banyak yang rusak, kekurangan guru, fasilitas minim, bahkan listrik pun belum menjangkau beberapa wilayah.

Namun semangat anak-anak di pelosok tak pernah padam. Mereka tetap datang ke sekolah dengan baju seragam lusuh tapi penuh harapan. Mereka belajar di bawah pohon atau di ruang kelas berlantaikan tanah, bukan karena ingin tampil beda, tapi karena memang tak ada pilihan lain.

Apa yang membuat pendidikan di pelosok tertinggal?

Masalahnya berlapis: infrastruktur yang belum merata, keterbatasan anggaran daerah, sulitnya distribusi guru berkualitas, dan rendahnya perhatian publik terhadap wilayah terpencil. Akibatnya, kualitas pendidikan di pelosok jauh tertinggal dibanding perkotaan.

Padahal, pendidikan seharusnya menjadi hak semua anak, bukan hanya mereka yang lahir di kota besar. Pendidikan adalah kunci untuk mengubah nasib, membuka peluang, dan memutus rantai kemiskinan.

Beberapa program seperti Guru Penggerak, Indonesia Mengajar, dan SM-3T memang sudah membantu, tetapi itu belum cukup. Perlu komitmen serius dari pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat akses, distribusi guru, dan penyediaan teknologi pendidikan di daerah pelosok.

Lebih dari itu, kita sebagai masyarakat juga punya peran. Dukungan bisa dimulai dari hal kecil: berdonasi buku, mengajar secara daring, atau sekadar menyebarkan kesadaran akan pentingnya keadilan pendidikan.

Anak-anak di pelosok adalah masa depan bangsa yang tak boleh ditinggalkan. Mereka tidak meminta istimewa—mereka hanya ingin kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi. Pendidikan yang merata bukan sekadar janji, tapi sebuah keharusan untuk membangun Indonesia yang adil dan beradab.