Konten dari Pengguna

Sulit Bersahabat dengan Buku? Berikut 2 Rekomendasi Buku untuk Mulai Membaca

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Edsel Aulia Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto buku Hujan dan Filosofi Teras (Sumber: Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto buku Hujan dan Filosofi Teras (Sumber: Penulis)

Ditengah dunia yang serba cepat saat ini, kita dikelilingi oleh media sosial berbasis konten pendek yang memberi dampak negatif pada kemampuan fokus kita, seringkali kita sadar bahwa dibutuhkan kebiasaan untuk membaca buku. Hal tersebut dikarenakan dengan banyaknya short content memperburuk kondisi attention span. Membaca buku membutuhkan kemampuan untuk deep focus yang dapat memperbaiki attention span kita.

Namun, meski sadar akan hal tersebut ketika kita ingin memulai membaca buku terkadang kita susah untuk menyelam didalamnya. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:

  • Buku yang terlalu berat (mengandung konten yang jika ingin dipahami dibutuhkan fundamental pemahaman-pemahaman yang belum kita miliki)

  • Tidak sesuai dengan selera kita (kita suka romance tapi memaksa membaca buku Sci-Fi)

  • Buku tersebut belum waktunya untuk kita baca (misalnya kita membaca buku tentang percintaan namun usia kita masih 5 tahun, lebih baik kita belajar menghitung)

Dari hal tersebut penulis menyarankan untuk mulai rutin membaca, dibutuhkan "buku" yang cocok dengan diri kita. Kita tidak perlu untuk membeli suatu buku hanya karena buku tersebut populer, viral, dan direkomendasikan teman. Penulis lebih menyarankan untuk membaca sipnosis buku, dan dari situ dapat kita nilai apakah buku tersebut cocok dengan diri kita serta permasalahan yang kita hadapi.

Berikut adalah rekomendasi buku sebagai milestone agar kita kecanduan membaca:

  1. Hujan - Tere Liye

Foto buku Hujan karya Tere Liye (Sumber: Penulis)

Hujan karya Tere Liye menceritakan tentang dunia yang hancur akibat letusan gunung berapi. Tokoh utama, seorang anak perempuan bernama Lail, kehilangan orang-orang terdekatnya dan berusaha bertahan hidup. Dalam prosesnya, ia bertemu dengan Esok (Soke Bahtera), seorang anak laki-laki yang juga kehilangan keluarganya akibat bencana tersebut.

Novel ini menceritakan perjalanan hidup dan kisah cinta mereka setelah mengalami bencana besar. Hujan tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan agar pembaca tidak lari dari masa lalu. Sepedih apa pun itu, peluklah dengan erat dan biarkan waktu yang menyembuhkannya.

2. Filosofi Teras - Henry Menampiring

Foto buku Filosofi Teras karya Henry Menampiring (Sumber: Penulis)

Dunia kita tidak lagi berjalan lambat. Kehadiran media sosial membuat kita sangat mudah mengakses informasi. Bahkan, terkadang hal itu memicu stres karena banyaknya berita negatif yang kita konsumsi. Selain itu, kita tentu memiliki masalah dalam kehidupan sehari-hari, baik dengan keluarga, teman, sahabat, maupun guru.

Filosofi Teras merupakan buku pengembangan diri (self-development) yang membahas filosofi Stoisisme (Stoicism), yaitu ajaran untuk tetap tenang dan bahagia di tengah hiruk-pikuk dunia. Buku ini mengajarkan kita untuk berfokus pada hal-hal yang berada di bawah kendali kita dan mengabaikan hal-hal di luar kendali kita.

Karya Henry Manampiring ini sangat cocok bagi siapa saja yang sedang kewalahan secara emosional dalam menghadapi tekanan pekerjaan, perkuliahan, atau sekolah. Buku ini dapat membantu kita mengelola emosi dengan lebih bijak.

Kedua buku itulah yang penulis sarankan untuk memulai kebiasaan membaca. Jika Anda menyukai kisah fiksi berkonsep apokaliptik dengan sentuhan romance, novel Hujan sangat cocok. Sementara itu, jika Anda ingin belajar mengontrol emosi negatif, Filosofi Teras adalah pilihan yang tepat.