Konten dari Pengguna

Manifesto Politik Gen Z , Keresahan Dan Munculnya Trend # KaburajaDulu!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Edwardsyah Prawira Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Berikut Merupakan Contoh Ilustrasi yang dibuat oleh website AI ( Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Berikut Merupakan Contoh Ilustrasi yang dibuat oleh website AI ( Gemini AI)

Tulisan Ini Dbuat Oleh Bagas Dwianto,Tidak Merujuk pada Dewan Redaksi Kumparan.

Lahirnya narasi #KaburAjaDulu berakar dari struktural yang dihadapi Generasi Z. Secara ekonomi, mereka dihadapkan pada realitas yang timpang: harga properti yang tidak masuk akal, penetapan upah minimum yang tidak sebanding dengan laju inflasi, serta jebakan hustle culture yang mengeksploitasi tenaga kerja demi keuntungan segelintir oligarki.

Berawal dari keresahan masyarakat hingga generasi muda, ya apalagi jika bukan masalah pekerjaan di Indonesia dan bagaimana kondisi Indonesia sekarang di mata masyarakat yang sudah mulai kehilangan titik cerahnya. Bagaimana sikap dan tindakan pemerintah mengenai masukan dan kritik yang selalu saja di abaikan dan dilawan. Generasi gen Z yang paling berdampak mengenai kesusahannya mencari kerja dengan rata-rata umur gen Z adalah 14-29 umur yang dimana sudah banyak yang mencari kerjaan untuk masa depan.

Generasi gen Z membuat tagar #kaburajadulu bukan berarti menyerah pada Indonesia atau membenci Indonesia tapi bagaimana orang-orang yang berkuasa yang membuat gen Z menyerah pada mereka, menyerah menanti pada janji 19 juta lapangan pekerjaan yang tidak ada, menyerah pada kinerja mereka yang duduk enak atas uang pajak masyarakat. Gen Z berpolitik untuk memilih pemimpin yang dapat memberikan solusi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik, menjadi lebih nyaman untuk di tinggal dan lebih mudah kemudahannya untuk mencari lapangan pekerjaan. #kaburajadulu membuktikan bahwa dengan memberi harapan pada negara lain yang lebih baik dapat meningkatkan masa depan kami agar lebih cerah dan ter’arah. Dalam teori sosiologi politikAlbert O. Hirschman (Exit, Voice, and Loyalty), ketika seseorang tidak puas dengan suatu organisasi atau negara, mereka memiliki dua pilihan: bersuara (voice) atau keluar/pergi (exit). Tagar #KaburAjaDulu adalah manifestasi dari pilihan exit.

Menilai #KaburAjaDulu sebagai sekadar bentuk keputusasaan yang cengeng adalah sebuah kekeliruan reduksionis. Fenomena ini adalah sinyal peringatan keras bagi negara dan para pemegang kekuasaan. Sikap "kabur" ini adalah sebuah manifesto politik pasif-agresif yang menyatakan bahwa sistem saat ini sedang tidak baik-baik saja. Jika pemerintah dan para perumus kebijakan tidak segera membenahi ketimpangan ekonomi, menyediakan lapangan kerja yang adil, serta membuka ruang politik yang substantif, maka gelombang exit dari generasi penerus bangsa ini akan semakin masif dan sebuah negara tidak akan bisa bertahan jika masa depannya memilih untuk angkat kaki.