Konten dari Pengguna

Sekilas Tentang Tugas Yonif Teritorial Pembangunan

Edwin Mirzachaerulsyah

Edwin Mirzachaerulsyah

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Tanjungpura Peneliti Sejarah, Tradisi Lisan dan Cagar Budaya Kalimantan Barat Awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia Kemendiktisaintek

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Edwin Mirzachaerulsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prajurit Yonif TP 802 Wimane Mambe Jaya sedang giat penyemprotan padi (Sumber: Kementerian Pertahanan RI)
zoom-in-whitePerbesar
Prajurit Yonif TP 802 Wimane Mambe Jaya sedang giat penyemprotan padi (Sumber: Kementerian Pertahanan RI)

Pembangunan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) di berbagai wilayah di Indonesia merupakan langkah strategis TNI dalam menghadapi persoalan pangan nasional di masa mendatang. Pada tahun 2025 TNI telah membentuk 105 Yonif TP dan 20 Brigade Infanteri TP (Brigif TP) dengan kekuatan personil setiap batalion mencapai 729-800 personil. Ide pembentukan Yonif TP didasarkan atas berbagai persoalan serta kebutuhan antara lain ancaman perubahan dan krisis iklim yang melanda berbagai belahan dunia akibat kenaikan suhu bumi serta hantaman badai "El Nino", kedua adalah persoalan cadangan pangan Indonesia di masa depan. Menurut David Tillman dalam Global food demand and the sustainable intensification of agriculture yang dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, Volume 108, Nomor 50, Tahun 2011 bahwa pada tahun 2050 jumlah populasi penduduk dunia akan mencapai 9,5 milyar orang yang menyebabkan kebutuhan pangan global akan meningkat sekian ratus persen, disisi lain akibat krisis iklim peningkatan produksi pangan akan terganggu karena perubahan cuaca ekstrim dan ancaman gagal panen.

Persoalan ketahanan pangan tidak mungkin hanya dibebankan kepada para petani maupun kelompok tani kita saja, yang menurut data Badan Pusat Statistik jumlahnya semakin menurun. Pada tahun 2019 jumlah petani di Indonesia sebesar 33,4 juta orang dengan komposisi petani berusia muda (20-39 tahun) berjumlah 2,7 juta orang dan petani berusia lanjut (40 tahun keatas) berjumlah 30,4 juta orang dan pada tahun 2025 jumlah petani kita menyusut menjadi 29,34 juta menyusut drastis sekitar 7,45% artinya dalam kurun beberapa tahun ini Indonesia tengah mengadapi krisis regenerasi petani. Jika hal ini dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan pada tahun 2050 kita akan menghadapi krisis pangan besar karena produksi pangan yang dihasilkan tidak mencukupi.

Pembangunan Yonif TP menjadi decision making strategis dibidang ketahanan pangan melalui berbagai skema kegiatan serta pembinaan seperti merespon program pemerintah pusat maupun daerah yang berkaitan dengan program pertanian, peternakan maupun perikanan, kerjasama dengan mitra seperti kelompok tani maupun karang taruna.

Bertempur, Berternak, Bertani dan Menolong Yang Sakit

Tidak hanya unggul dalam pertempuran Yonif TP juga menjadi garda terdepan national food security. Komposisi dan kekuatan serta stuktur organisasi Yonif TP juga berbeda dari batalyon infanteri kebanyakan. Kompi-kompi dalam Yonif TP terdiri dari Kompi Markas(Kima), Kompi Bantuan (Kiban), Kompi Senapan (Kipan), Kompi Peternakan, Kompi Pertanian, Kompi Zeni/Konstruksi dan Kompi Medis/Kesehatan Lapangan (Keslap). Setiap kompi memiliki beberapa peleton yang memiliki tugas masing-masing. Kompi Senapan memiliki peleton-peleton tempur yang terdiri dari beberapa prajurit kecabangan infanteri dengan berbagai kemampuan seperti penembak senapan (bakpan), penembak runduk, penembak mortir dan intelejen tempur. Sedangkan Kompi Peternakan memiliki Peleton Unggas (Ton Unggas) yang bertugas melakukan pemeliharaan, perawatan dan pendistribusian ternak unggas seperti ayam maupun bebek.

Kompi Peternakan terdiri dari Peleton Ruminansia (Ton Ruminansia) peleton ini bertugas melakukan pemeliharaan, perawatan serta pendistribusian hewan ternak seperti kambing dan sapi. Selanjutnya ada Peleton Perikanan (Ton Perikanan) yang bertugas melakukan pemeliharaan dan pendistribusian hasil budi daya ikan Yonif TP. Kompi Peternakan dipimpin oleh seorang Komandan Kompi (Danki) yang membawahi peleton dan di pimpin oleh seorang Danton. Para komandan, perwira serta beberapa bintara kompi maupun peleton sebagian telah bergelar Sarjana Peternakan, Ahli Madya Peternakan, untuk bidang perikanan bergelar Sarjana Perikanan atau Ahli Madya Perikanan.

Kompi Pertanian dalam Yonif TP memiliki beberapa peleton seperti Ton Padi dan Palawija, Ton Buah dan Sayur dan Ton Tanaman Industri. Pada kompi ini para prajurit bertugas melakukan kegiatan pertanian seperti mengolah lahan, pembibitan, penanaman, pengairan serta pemupukan tanaman. Selain itu para prajurit juga belajar bagaimana menangani permasalahan hama tanaman serta gulma. Kompi ini dipimpin oleh seorang Komandan Kompi (Danki) serta peleton nya dipimpin oleh seorang Danton. Para komandan memiliki gelar sarjana dan keahlian dalam bidang pertanian maupun pangan.

Selanjutnya adalah Kompi Zeni atau Konstruksi yang terdiri dari prajurit yang telah menempuh kecabangan zeni di Pusdikzi Bogor. Kompi ini terdiri dari beberapa peleton yang pertama ada Peleton Alat Konstruksi yang terdiri dari Tim Alat Berat (Alber), Tim Angkutan Berat (Angber). Kedua ada Peleton Konstruksi Bangunan (Konbang) yang terdiri dari beberapa regu Konbang dan Tim Perbekalan Air Listrik.

Yang terakhir ada Kompi Medis atau Kesehatan Lapangan (Keslap) yang terdiri dari Peleton Patob yang bertugas melakukan perawatan dan pengobatan ringan (Obring) maupun berat (Obrat), Kedua ada Peleton Evak (Ton Evak) yang bertugas melakukan evakuasi bagi penderita atau korban pertempuran/korban jiwa lain. Dalam Ton Evak terdapat regu tandu yang bertugas membawa tandu ke lokasi korban atau penderita yang sulit dijangkau dengan kendaraan untuk di evakuasi ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat. Yang terakhir adalah Ton Kesban yang bertugas merawat dan menstrerilisasi alat-alat kesehatan, menyiapkan perangkat kesehatan lapangan, pengendalian penyakit menular, melaksanakan penyuluhan kesehatan serta perawatan kesehatan gigi. Dalam Kompi Medis ini para perwira sebagian besar merupakan para dokter sedangkan beberapa bintara merupakan lulusan sarjana keperawatan, keperawatan gigi atau ahli gizi maupun sarjana dan ahli madya bidang kesehatan yang relevan dengan tugas pokok Yonif TP.

Pembinaan kemampuan personel Yonif TP dilakukan melalui kegiatan Program Latihan Sistem Blok (Proglatsi) antara lain Blok Medan Khusus (Medsus), Blok Gunung Hutan dan Blok Mukim (latihan di are a markas). Pelaksanaan Proglatsi dilakukan sesuai dengan ketentuan dari komando atas. Evaluasi dari setiap latihan maupun kegiatan dilakukan oleh tim evaluasi pembinaan satuan. Para prajurit Yonif TP dituntut harus mampu bertransformasi dalam berbagai aspek tidak hanya teknik bertempur (Nikpur) saja tetapi juga pengetahuan dan spesialisasi sesuai bidang dan tugas pokoknya masing-masing. Mereka diberikan kesempatan untuk memperoleh latihan siber, latihan mengembangkan kemampuan bertani, berternak, budi daya ikan serta kesehatan. Melalui berbagai kursus maupun pendidikan lanjutan. Kerjasama dengan mitra juga menambah pengetahuan dan pemahaman prajurit dalam mengolah lahan pertanian dengan berbagai metode serta teknologi pertanian. Yonif TP juga dapat bekerjasama dengan perguruan tinggi, peneliti hewan ternak, peneliti perikanan, pembudidaya ikan maupun peternak lokal yang memiliki pengalaman malang melintang menangani persoalan pada hewan ternak dan budidaya perikanan sehingga produk-produk pertanian, peternakan maupun perikanan yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan terstandarisasi. Di bidang kesehatan para prajurit dapat bekerjasama dengan instansi kesehatan di daerah untuk melaksanakan komsos maupun karya bhakti kepada masyarakat setempat seperti program imunisasi, pemeriksaan kesehatan gigi maupun program khitan massal.

Mengatasi Krisis Pangan Di Daerah Tertinggal

Beberapa daerah di Indonesia pernah dilanda bencana kelaparan dan krisis pangan antara lain di Distrik Langda dan Distrik Amuma, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Puncak di Papua Tengah dan Kabupaten Lanny Jaya. Di Yahukimo pada tahun 2009 pernah terjadi krisis pangan hebat yang menyebabkan 92 orang meninggal dunia artinya persoalan krisis pangan bukan lagi hal yang tabu namun menjadi ancaman nyata bagi republik ini di masa yang akan datang. Menurut Global Hunger Index Tahun 2025 Indonesia menempati peringkat ke 70 dari 123 negara dengan index kelaparan yang tergolong moderat yakni sebanyak 6,3% penduduknya mengalami kekurangan gizi dan 8,4% anak-anak dibawah usia 5 tahun mengalami gizi buruk. Hal ini tentu harus mendapat respon cepat dari pemerintah pusat maupun daerah. Kalau kita lihat bencana kelaparan banyak terjadi di daerah yang masuk kategori tertinggal yang menurut Badan Pusat Statistik adalah daerah kabupaten yang wilayah serta masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional.

Kehadiran Yonif TP di daerah tertinggal salah satunya di Kabupaten Yahukimo yang saat ini telah berdiri Yonif TP 816/Doruka menjadi harapan baru bagi masyarakat serta menjadi simbol kemanunggalan TNI dengan rakyat. Sesuai dengan Peraturan Kasad Nomor 1 Tahun 2025 keberadaan Yonif TP tidak sekedar gelar kekuatan dan kedudukan pertahanan wilayah darat saja mereka juga harus mampu menjaga stabilitas ketahanan pangan di wilayah satuan tersebut berdiri. Kehadiran Yonif TP diharapkan mampu membantu dan bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menghadapi krisis pangan dan bencana kelaparan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Karena tentara dapat di mobilisasi dengan cepat, tepat dan terukur ke daerah-daerah terdampak bencana tersebut. Selain itu keberadaan Yonif TP di daerah tertinggal diharapkan mampu meningkatkan motivasi generasi muda setempat untuk membangun dan mendorong potensi ekonomi lokal melalui kegiatan penyuluhan pertanian, budidaya ikan maupun peternakan. Selain itu melalui kerjasama dengan kelompok pemuda seperti Karang Taruna akan meningkatkan modal sosial serta kualitas sumberdaya manusia masyarakat setempat.

Edwin Mirzachaerulsyah, M.Pd

Pengampu Mata Kuliah Sejarah Militer FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak dan Kandidat Doktor Pendidikan IPS Universitas Negeri Semarang