Konten dari Pengguna

Berkhianat vs Pengkhianat

Dr Edy Purwo Saputro SE MSi

Dr Edy Purwo Saputro SE MSi

Dosen di Program Pascasarjana dan Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta - Solo

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Edy Purwo Saputro SE MSi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi politik identitas. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi politik identitas. Foto: Shutter Stock

Dinamika politik terus bergulir sangat cepat, sementara waktu menuju pilpres 2024 kian dekat. Semua parpol pun siap mengusung duet terbaiknya untuk bertarung demi menang di pilpres mendatang.

Pastinya pertarungan pilpres 2024 akan seru dan sengit karena masa jabatan Presiden Jokowi sudah dua periode sehingga pesta demokrasi 2024 akan menjadi pertarungan untuk menghadirkan presiden baru untuk periode lima tahun mendatang.

Fakta ini tentu menjadi pertarungan yang menarik karena semua kandidat memiliki peluang di pertarungan dengan persentase yang sama—baik itu Anies, Ganjar, maupun Prabowo. Di sisi lain, ketiga kandidat itu masih belum memutuskan siapa duet pendampingnya.

Kasak-kusuk mencari duet pendamping dalam pertarungan pilpres 2024 akhirnya justru menjadi bumerang. Sebab, masing-masing koalisi justru melakukan klaim kekuatan dan soliditas.

Ironisnya, sisa waktu menuju pilpres itu sendiri harus memaksa ketiga calon petarung untuk menentukan siapa pendamping terbaiknya. Sehingga, tidak hanya bisa mendompleng nama tenar semata tapi juga bisa berkontribusi dalam pemenangan pada pilpres 2024 mendatang.

Oleh karena itu, pastinya tidak mudah bagi ketiga kandidat itu untuk memilih dan semuanya tentu menjadi pertimbangan. Artinya, tidak hanya potensi basis massa yang kuat, ketenaran dan juga tentunya elektabilitas untuk mendongkrak di pertarungan pada Februari 2024 mendatang.

Kilas balik dan proses panjang koalisi serta pencarian duet pendamping pada pilpres di 2024 akhirnya memungkinkan terjadinya pengkhianatan karena ada salah satunya yang berkhianat."

Pertimbangan pengkhianatan dan perilaku berkhianat itu tidak bisa terlepas dari kepentingan untuk pemenangan dan kemenangan di pesta demokrasi 2024. Realitas ini menguatkan argumen bahwa sejatinya memang tidak ada kawan atau lawan abadi dalam demokrasi karena sejatinya yang ada hanyalah kepentingan.

Oleh karena itu saat ada salah satu parpol yang menyatakan ada salah satu pihak yang berkhianat dan secara tidak langsung melakukan pengkhianatan berarti ada kepentingan yang tidak selaras di koalisi yang dibentuknya. Fakta ini adalah sah dalam perjalanan menuju pilpres.

Tidak mudah untuk bisa membangun dan membentuk koalisi yang abadi dalam pusaran pesta demokrasi, terutama proses yang dinamis menuju pesta demokrasi. Artinya bukan tidak mungkin dalam hitungan minggu bisa mesra dengan beberapa parpol tetapi dalam hitungan hari bisa berubah ke parpol yang lain.

Meski yang ditinggalkan kemudian juga bisa menyebut ini sebagai perilaku pengkhianatan terhadap koalisi, tapi harus dipahami juga bahwa seperti ini adalah hal yang biasa dalam berdemokrasi. Jadi, tidak perlu lalu lebay dengan situasinya karena memang semua bisa berubah dalam sekejap dan sesaat.

Demokrasi memang menjadikan dinamisasi dan dinamika sebagai bagian dari ritme di proses pendewasaan kehidupan demokrasi itu sendiri.